Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ajaib! Nenek 84 Tahun Selamat Setelah 4 Hari Tertimbun Runtuhan Gempa NTT

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ajaib! Nenek 84 Tahun Selamat Setelah 4 Hari Tertimbun Runtuhan Gempa NTT
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Paulina Pobi, 84‑tahun, berhasil dievakuasi setelah empat hari terperangkap di reruntuhan rumah akibat gempa magnitude 7,7 di NTT.
  • Desa Nitunglea terisolasi; akses hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama tiga jam karena longsor batu dan pohon.
  • Pihak berwenang menekankan pentingnya trauma healing, terutama bagi anak‑anak pengungsi, sambil menyiapkan bantuan medis lanjutan.

Empat hari menahan napas di antara puing‑puing rumah yang roboh, Paulina Pobi akhirnya berhasil dievakuasi pada Selasa, 18 Agustus, oleh warga Desa Nitunglea. Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, mengonfirmasi bahwa korban kini berada di puskesmas terdekat dan dalam kondisi stabil, meski masih memerlukan perawatan intensif.

Gempa bumi magnitude 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga memutus jalur transportasi utama. Longsoran batu besar dan pohon tumbang menutup jalan, menjadikan desa tersebut terisolasi total. Penduduk setempat terpaksa menempuh perjalanan tiga jam dengan berjalan kaki dari dermaga terdekat untuk menyalurkan bantuan.

Kapolda NTT, Irjen Pol Rudi Darmoko, menegaskan bahwa “bukan hanya luka fisik yang harus diatasi, tetapi trauma psikologis, terutama pada anak‑anak, yang memerlukan penanganan khusus.” Upaya trauma healing kini dilaksanakan di lapangan pengungsian Gelora Samador, yang menampung lebih dari seribu pengungsi, termasuk Paulina.

Kasus selamatnya Paulina menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan penanggulangan bencana di wilayah rawan gempa. Keterbatasan akses, lambatnya respons logistik, dan kurangnya fasilitas medis darurat menjadi sorotan utama. Sementara itu, aksi heroik warga Nitunglea yang mengevakuasi Paulina menunjukkan pentingnya peran komunitas lokal dalam situasi darurat.

Analisis Pakar

Menurut saya, Budi Santoso, jurnalis senior investigasi, tragedi ini mengungkap kegagalan struktural dalam sistem mitigasi bencana Indonesia. Pemerintah pusat dan daerah belum mengintegrasikan peta risiko gempa secara real‑time ke dalam jaringan transportasi darurat. Akibatnya, ketika gempa melanda, akses utama terputus, memaksa penduduk mengandalkan jalur kaki yang berbahaya. Ini bukan sekadar masalah infrastruktur; ini mencerminkan kurangnya koordinasi lintas lembaga antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan aparat kepolisian.

Selanjutnya, respons medis masih terpusat pada puskesmas yang tidak dilengkapi fasilitas ICU atau peralatan penyelamatan modern. Kasus Paulina yang selamat berkat pertolongan warga menyoroti kebutuhan mendesak akan tim SAR profesional yang dilengkapi peralatan deteksi korban hidup (life‑detector) dan helikopter medis. Tanpa investasi ini, korban lain yang terperangkap lebih dalam mungkin tidak akan selamat.

Aspek psikologis yang diangkat Kapolda Rudi Darmoko juga harus dipandang serius. Penelitian menunjukkan bahwa trauma pasca‑bencana dapat menimbulkan gangguan stres pasca‑trauma (PTSD) pada 30‑40% korban, terutama anak‑anak. Namun, program trauma healing di lapangan masih bersifat ad‑hoc dan kurang terstandardisasi. Pemerintah harus menggandeng lembaga kesehatan mental nasional untuk menyediakan tim psikolog terlatih yang dapat menjangkau pengungsi secara berkelanjutan.

Terakhir, keberhasilan evakuasi Paulina oleh warga setempat menegaskan pentingnya pemberdayaan komunitas. Pelatihan kesiapsiagaan bencana pada tingkat desa harus menjadi prioritas, termasuk simulasi evakuasi, penggunaan alat komunikasi darurat, dan pembentukan tim SAR sukarela. Hanya dengan pendekatan bottom‑up yang kuat, Indonesia dapat mengurangi angka kematian dan penderitaan pada bencana selanjutnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Bagaimana cara evakuasi korban yang terperangkap setelah gempa di NTT?
    A: Evakuasi biasanya melibatkan tim SAR, bantuan militer, dan warga setempat yang menggunakan peralatan sederhana seperti palu, kapak, serta teknik penggalian manual bila akses kendaraan terhalang.
  • Q: Apa yang menyebabkan Desa Nitunglea terisolasi setelah gempa?
    A: Longsoran batu besar dan pohon tumbang menutup jalan utama, sehingga satu‑satunya jalur masuk hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki selama tiga jam dari dermaga terdekat.
  • Q: Apa langkah selanjutnya untuk penanganan trauma mental pengungsi?
    A: Pemerintah berencana mengirim tim psikolog ke lapangan, membuka layanan konseling di posko pengungsian, dan mengadakan program trauma healing khusus untuk anak‑anak.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸