Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Siasat Freeport Bangkit dari Lumpur Grasberg: Target Setoran Rp 120 Triliun Menanti di 2027

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Siasat Freeport Bangkit dari Lumpur Grasberg: Target Setoran Rp 120 Triliun Menanti di 2027
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • PT Freeport Indonesia menargetkan pemulihan kapasitas produksi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) mencapai 100% pada akhir 2027 pasca-insiden lumpur basah September 2025.
  • Target jangka pendek mencakup pemulihan kapasitas hingga 65% pada akhir 2026, dengan proyeksi produksi 800 juta pon tembaga dan 700.000 ons emas di semester kedua.
  • Kontribusi keuangan kepada negara diproyeksikan sebesar Rp 47 triliun tahun ini, dan berpotensi melonjak hingga Rp 120 triliun per tahun setelah beroperasi penuh.

JAKARTA — PT Freeport Indonesia (PTFI) kini tengah berpacu dengan waktu untuk memulihkan kejayaan operasionalnya. Raksasa tambang ini menargetkan produksi dari tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Mimika, Papua Tengah, dapat kembali pulih 100% ke kapasitas normal pada akhir tahun 2027.

Langkah pemulihan ini merupakan respons cepat setelah area tambang GBC dihantam insiden luncuran lumpur basah pada September 2025 lalu. Insiden tersebut sempat menahan laju produksi akibat tertimbunnya sejumlah infrastruktur vital dan alat berat di kedalaman tambang.

Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, mengungkapkan bahwa perusahaan menerapkan strategi pemulihan bertahap yang terukur. Hingga akhir tahun 2026, PTFI membidik tingkat produksi dapat kembali ke level 65% dari kapasitas normal. Untuk mencapai target tersebut, modifikasi peralatan berat terus dikebut guna menyesuaikan dengan karakteristik material bijih yang ternyata lebih basah dari perkiraan awal.

"Ke depannya, kapasitas produksi diharapkan dapat meningkat hingga 75% pada semester satu 2027 dan secara bertahap mendekati kapasitas penuh pada akhir tahun 2027," ujar Tony di sela-sela upacara HUT ke-81 RI di Tembagapura.

Meski dihadapkan pada tantangan teknis yang luar biasa—termasuk memindahkan sekitar 800.000 ton material lumpur basah—kinerja keuangan PTFI diproyeksikan tetap kokoh. Pada paruh kedua tahun 2026, perusahaan menargetkan volume produksi sebesar 800 juta pon tembaga dan 700.000 ons emas. Dengan volume tersebut, kontribusi keuangan kepada kas negara pada tahun ini diperkirakan masih mampu menyentuh angka Rp 47 triliun.

Analisis Pakar

Dari perspektif makroekonomi dan jurnalisme finansial, target pemulihan PT Freeport Indonesia ini bukan sekadar urusan operasional korporasi, melainkan variabel krusial bagi stabilitas fiskal Indonesia. Kontribusi Rp 47 triliun di tengah fase pemulihan adalah angka yang signifikan, namun lompatan menuju Rp 120 triliun per tahun saat kapasitas 100% tercapai di 2027 akan menjadi suntikan likuiditas yang luar biasa bagi APBN kita. Ini menegaskan posisi PTFI sebagai salah satu jangkar penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan pajak penghasilan badan terbesar.

Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap risiko operasional yang dihadapi. Insiden lumpur basah di Grasberg Block Cave menunjukkan bahwa penambangan bawah tanah dengan metode block caving memiliki kompleksitas geoteknis yang sangat tinggi. Kebutuhan untuk memodifikasi peralatan karena bijih yang lebih basah mengindikasikan adanya ketidakpastian geologis yang harus terus dimitigasi. Bagi investor dan pemerintah, ini adalah pengingat bahwa proyeksi arus kas dari sektor ekstraktif selalu dibayangi oleh risiko alamiah yang tinggi.

Di sisi lain, dinamika pasar komoditas global saat ini sangat menguntungkan bagi Freeport. Permintaan dunia akan tembaga terus melonjak seiring dengan masifnya transisi energi global, terutama untuk industri kendaraan listrik (EV) dan infrastruktur jaringan listrik. Emas pun tetap menjadi aset safe haven utama di tengah ketidakpastian geopolitik global. Oleh karena itu, percepatan normalisasi produksi di GBC menjadi sangat krusial agar Indonesia tidak kehilangan momentum 'supercycle' komoditas ini.

Secara strategis, komitmen PTFI untuk tetap menyetor puluhan triliun rupiah ke kas negara di masa pemulihan ini patut diapresiasi. Namun, pemerintah Indonesia sebagai pemegang saham mayoritas harus memastikan bahwa aspek keselamatan kerja dan pengelolaan risiko lingkungan (ESG) tetap menjadi prioritas utama. Jangan sampai ambisi mengejar target produksi mengorbankan standar keselamatan, karena downtime akibat insiden berikutnya akan berbiaya jauh lebih mahal, baik secara finansial maupun reputasi di mata global.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Kapan PT Freeport Indonesia menargetkan produksi tambang bawah tanahnya pulih 100%?
A: PTFI menargetkan kapasitas produksi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pulih sepenuhnya (100%) pada akhir tahun 2027.

Q: Apa penyebab terganggunya operasional tambang bawah tanah Freeport?
A: Operasional terganggu akibat insiden luncuran lumpur basah pada September 2025 yang menimbun infrastruktur dan alat berat di area tambang bawah tanah GBC.

Q: Berapa potensi kontribusi keuangan Freeport kepada negara jika sudah beroperasi normal?
A: Jika kapasitas produksi sudah mencapai 100%, kontribusi keuangan PTFI kepada negara diproyeksikan dapat mencapai Rp 100 triliun hingga Rp 120 triliun per tahun.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸