Gubernur Pramono Anung Desak Ulama‑Habaib Jadi Penjaga Toleransi di Tengah Ambisi Jakarta Jadi Kota Global
Mengulas sejarah kebudayaan Islam dan tokoh-tokoh penting dalam agama.

- Ringkasan Singkat Gubernur Pramono Anung menekankan peran Forum Ulama Habaib (FUHAB) dalam menjaga kerukunan dan toleransi di ibu kota.
- Pelantikan sekitar 1.500 pengurus FUHAB di Velodrome Internasional, Pulogadung, menandai upaya memperluas jaringan ke wilayah aglomerasi Jabodetabek.
- Gubernur menegaskan bahwa transformasi Jakarta menjadi kota global harus diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan moralitas masyarakat.
Ringkasan Singkat
- Gubernur Pramono Anung menekankan peran Forum Ulama Habaib (FUHAB) dalam menjaga kerukunan dan toleransi di ibu kota.
- Pelantikan sekitar 1.500 pengurus FUHAB di Velodrome Internasional, Pulogadung, menandai upaya memperluas jaringan ke wilayah aglomerasi Jabodetabek.
- Gubernur menegaskan bahwa transformasi Jakarta menjadi kota global harus diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan moralitas masyarakat.
Dalam sambutan yang disampaikan pada pelantikan sekitar 1.500 pengurus Forum Ulama Habaib (FUHAB) di Jakarta International Velodrome, Pulogadung, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa organisasi keagamaan ini bukan sekadar penjaga ritual, melainkan garda terdepan dalam memelihara kerukunan sosial.
"FUHAB adalah organisasi kemasyarakatan yang memegang teguh nilai NKRI sebagai harga mati," ujar Pramono. Ia menambahkan bahwa jaringan ulama‑habib yang melintasi 267 kelurahan, 44 kecamatan, serta wilayah Depok, Tangerang, dan Bekasi, menjadi modal strategis untuk memperkuat komunikasi lintas‑komunitas.
Menurut gubernur, peran ulama‑habib tidak boleh dipandang sempit. "Mereka tidak hanya mengisi ruang keagamaan, tetapi juga menjadi agen toleransi, penyejuk sosial, dan pembina karakter generasi muda," tegasnya. Pernyataan ini muncul di tengah upaya Jakarta mengukir status kota global, yang menurut Pramono, tidak dapat dicapai hanya dengan infrastruktur fisik.
Gubernur menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia, moralitas, dan kehidupan sosial harus sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. "Kota global yang sejati adalah yang mampu menyeimbangkan pembangunan material dengan pembangunan karakter," katanya.
Pramono menutup pidatonya dengan harapan FUHAB semakin dekat dengan masyarakat, menjadi penyedia solusi atas persoalan sosial, serta menjaga persaudaraan antar‑umat. Ia juga membuka pintu kerja sama lebih luas antara Pemprov DKI dan elemen‑elemen keagamaan serta budaya lokal.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi yang telah menelusuri dinamika politik‑agama di Indonesia, saya melihat dua hal krusial dalam pernyataan Gubernur Pramono Anung. Pertama, retorika “menjaga kerukunan” sering kali menjadi payung bagi kebijakan yang bersifat simbolik, bukan substantif. Tanpa mekanisme pengawasan yang jelas, peran FUHAB dapat terjebak pada kegiatan ritual semata, tanpa dampak nyata pada penurunan konflik sosial. Kedua, penekanan pada “kualitas sumber daya manusia” dan “karakter moral” menimbulkan pertanyaan: siapa yang menentukan standar moral tersebut? Di Indonesia, standar moral kerap dipolitisasi, dan melibatkan ulama‑habib dapat membuka ruang bagi interpretasi yang sempit, berpotensi mengekang kebebasan berpendapat.
Selanjutnya, jaringan FUHAB yang meluas ke wilayah aglomerasi Jabodetabek menandakan ambisi politik yang lebih luas. Dengan mengintegrasikan tokoh agama ke dalam struktur pemerintahan kota, pemerintah provinsi berpotensi memperkuat basis dukungan politiknya, terutama menjelang pemilihan umum berikutnya. Namun, hal ini juga menimbulkan risiko “politisasi agama”, di mana keputusan kebijakan publik dapat dipengaruhi oleh kepentingan kelompok keagamaan tertentu, mengorbankan prinsip sekularisme konstitusional.
Terakhir, janji FUHAB menjadi “bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial” harus diuji melalui program konkret: apa saja indikator keberhasilan? Apakah ada mekanisme evaluasi independen? Tanpa transparansi, pernyataan ini berisiko menjadi slogan kampanye yang mudah dilupakan. Pemerintah DKI sebaiknya menyusun kerangka kerja yang melibatkan lembaga independen, akademisi, dan LSM untuk memantau dampak sosial‑keagamaan dari kolaborasi ini.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu Forum Ulama Habaib (FUHAB) dan apa tugasnya?
A: FUHAB adalah organisasi keagamaan yang mengkoordinasikan ulama dan habaib di wilayah Jakarta dan sekitarnya, dengan fokus pada pembinaan moral, toleransi, serta penanganan isu sosial. - Q: Mengapa Gubernur Pramono Anung menekankan peran FUHAB dalam transformasi Jakarta menjadi kota global?
A: Karena ia berpendapat bahwa pembangunan fisik harus diimbangi dengan peningkatan kualitas manusia, moralitas, dan kerukunan sosial, yang diyakini dapat didukung oleh jaringan keagamaan. - Q: Bagaimana cara masyarakat dapat berpartisipasi dalam program FUHAB?
A: Masyarakat dapat bergabung sebagai relawan, mengikuti kegiatan pembinaan karakter, atau berkoordinasi dengan cabang FUHAB di kelurahan masing‑masing.
BERITA TERKAIT (Agama)

Empat Toa Masjid Ciputat Bolong Diduga Ditembak Senapan Angin, Polisi Selidiki

Toa Masjid Ciputat Bolong, Polisi Duga Ditembak Senapan Angin dari Kel. Sawah Lama

Kemenhaj Pastikan Ibadah Umrah WNI Tetap Aman di Tengah Eskalasi Konflik Saudi-Houthi
