Freeport Luncurkan Tambang Bawah Tanah Kucing Liar: Target 6 Juta Ons Emas & 7 Miliar Pon Tembaga Mulai 2029

Ringkasan Singkat
- Freeport Indonesia mengumumkan proyek tambang bawah tanah Kucing Liar di Mimika, Papua Tengah.
- Proyek diperkirakan menghasilkan >7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas, dengan investasi total Rp 72 triliun dan produksi perdana pada 2029.
- Kapabilitas 130 000 ton bijih per hari akan menyeimbangkan penurunan output Grasberg Block Cave, menjaga stabilitas produksi nasional.
Dalam sambutan pada upacara HUT ke‑81 RI di Tembagapura, Tony Wenas, Presiden Direktur Freeport Indonesia, menegaskan bahwa blok Kucing Liar akan menjadi tulang punggung produksi perusahaan setelah Grasberg Block Cave (GBC) mulai menurun. Ia menambahkan bahwa investasi awal sebesar Rp 24‑25 triliun telah dialokasikan untuk infrastruktur akses bawah tanah, sementara total biaya proyek diproyeksikan mencapai Rp 72 triliun.
Dengan kapasitas harian 130 000 ton bijih, Kucing Liar diharapkan menambah produksi menjadi 240 000 ton bijih per hari ketika GBC mencapai titik deplesi. Ini berarti aliran pendapatan dari tembaga dan emas akan tetap mengalir ke kas negara, mengingat kontribusi Freeport terhadap penerimaan pajak, royalti, dan dividen pemerintah mencapai lebih dari US$ 2 miliar per tahun.
Proyek ini juga menjadi ujung tombak negosiasi perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pasca‑2041. Tanpa perpanjangan, ribuan pekerjaan—sekitar 30 000 tenaga kerja langsung dan tak terhitung kontraktor lokal—akan terancam, sekaligus menghilangkan program CSR yang mendukung pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur di wilayah Papua.
Secara makroekonomi, investasi Rp 72 triliun setara dengan hampir 0,5 % PDB Indonesia 2026, menambah permintaan bahan baku konstruksi, logistik, serta layanan keuangan. Jika harga tembaga tetap di atas US$ 4,00 per pon dan harga emas di atas US$ 1.800 per ons, proyek ini dapat menghasilkan margin operasional bersih tahunan lebih dari US$ 1,5 miliar, memperkuat neraca perdagangan dan cadangan devisa negara.
Analisis Pakar
Pengembangan Kucing Liar menandai fase transisi penting bagi Freeport Indonesia. Dari perspektif makro, diversifikasi produksi ke tambang bawah tanah mengurangi ketergantungan pada operasi open‑pit yang semakin terbatasi oleh regulasi lingkungan dan sosial. Ini juga menurunkan risiko operasional yang terkait dengan cuaca ekstrem di dataran tinggi Papua.
Namun, skala investasi Rp 72 triliun menimbulkan pertanyaan tentang struktur pembiayaan. Jika sebagian besar dibiayai melalui utang, beban bunga dapat menggerus cash‑flow, terutama bila harga tembaga mengalami volatilitas turun. Oleh karena itu, penting bagi Freeport untuk mengamankan hedging komoditas jangka panjang dan menjajaki ekuitas tambahan dari mitra strategis, termasuk institusi keuangan domestik.
Dari sisi kebijakan, perpanjangan IUPK menjadi kunci. Pemerintah harus menyeimbangkan antara kepastian investasi dan tuntutan sosial‑ekologis. Kesepakatan yang mengikat tentang pembagian manfaat, pelibatan komunitas adat, dan standar lingkungan akan menjadi prasyarat bagi kelangsungan proyek hingga 2050 atau lebih.
Terakhir, dampak regional tidak boleh diabaikan. Kucing Liar akan menambah lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, dan memperkuat jaringan logistik di Papua Tengah. Jika dikelola dengan baik, proyek ini dapat menjadi model bagi tambang lain di Indonesia yang tengah mencari cara memperpanjang umur tambang tanpa mengorbankan keberlanjutan sosial‑ekonomi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan produksi pertama Kucing Liar diperkirakan dimulai?
A: Produksi perdana dijadwalkan pada tahun 2029 setelah fase commissioning selesai. - Q: Berapa total investasi yang diperlukan untuk proyek ini?
A: Total investasi diproyeksikan mencapai Rp 72 triliun, dengan Rp 24‑25 triliun sudah dikeluarkan untuk infrastruktur awal. - Q: Apa implikasi perpanjangan IUPK bagi pemerintah dan masyarakat?
A: Perpanjangan IUPK memastikan pendapatan pajak, royalti, dan dividen terus mengalir, sekaligus menjaga 30 000 lapangan kerja serta program CSR yang mendukung pembangunan sosial di Papua.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

IHSG Raih Penguatan 0,95% di Sesi I, Asing Borong 10 Saham Ini Meski Catat Net Sell

23 UKM Diproyeksi IPO di BEI, Mayoritas dari Sektor FB

BEI Catat 23 UKM Siap IPO di 2027 Setelah Ikuti Program Pendampingan
