Kebakaran Bromo Membakar 921 Hektare, Upaya Water Bombing Terkendala Kabut Tebal
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Area terbakar di Gunung Bromo mencapai 921,42 hektare, masih dalam proses pendataan.
- Tim darat fokus pada zona Bukit Cinta‑Seruni Point, namun medan curam dan angin kencang memperparah penyebaran api.
- Operasi water bombing terhenti sementara karena kabut tebal dan asap pekat, meski total air yang dijatuhkan mencapai 74.000 liter.
Menurut BPBD Jawa Timur, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo terus meluas. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Satriyo Nurseno, mengonfirmasi bahwa area yang terbakar kini mencapai 921,42 hektare dan masih dapat bertambah seiring pendataan yang sedang berlangsung.
Hingga kini belum ada laporan korban jiwa, namun vegetasi kritis seperti cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar telah terdampak. Tim gabungan jalur darat memprioritaskan pemadaman di zona konsentrasi api, yakni dari Bukit Cinta hingga Seruni Point di wilayah Dingklik. Medan yang terjal dan angin kencang menjadi kendala utama bagi tim pemadam manual, mempercepat penyebaran api ke area yang lebih luas.
Di sisi lain, operasi pemadaman dari udara menggunakan tiga helikopter water bombing sempat terhenti pada siang hari karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Kabut tebal dan kepulan asap mengurangi visibilitas, memaksa pilot menunda penerbangan. Meskipun begitu, pada Rabu (12/8) operasi kembali dilanjutkan dan total air yang dijatuhkan mencapai 29 rit, atau sekitar 74.000 liter.
Kebakaran ini pertama kali terdeteksi pada Senin (3/8) pukul 17.00 WIB. Seiring dengan meluasnya titik api, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup sementara seluruh akses wisata sejak Sabtu (8/8) malam, menambah beban ekonomi bagi sektor pariwisata lokal.
Analisis Pakar
Situasi kebakaran di Bromo mengungkapkan kegagalan sistemik dalam mitigasi risiko kebakaran hutan. Pertama, kurangnya koordinasi antara otoritas lokal dan tim pemadam kebakaran mengakibatkan respon yang terfragmentasi. Meskipun ada tim gabungan, tidak ada mekanisme yang jelas untuk mengintegrasikan intelijen cuaca secara real‑time, yang seharusnya menjadi faktor penentu dalam penjadwalan operasi water bombing. Tanpa data meteorologi yang akurat, helikopter terpaksa menunda misi, memperpanjang durasi kebakaran.
Kedua, penegakan hukum terhadap penyebab kebakaran masih menjadi pertanyaan besar. Sejumlah laporan menyebutkan praktik pembukaan lahan secara ilegal dan pembakaran sampah pertanian di sekitar kawasan konservasi. Tanpa penegakan yang tegas, perilaku destruktif ini akan terus berulang, menambah beban pada ekosistem yang sudah rapuh.
Ketiga, perubahan iklim memperparah intensitas kebakaran. Musim kemarau yang lebih panjang dan suhu yang meningkat menciptakan kondisi bahan bakar alami yang lebih mudah terbakar. Pemerintah daerah harus mengadopsi strategi adaptasi jangka panjang, termasuk reboisasi dengan spesies yang tahan terhadap kebakaran dan program edukasi masyarakat tentang bahaya pembakaran terbuka.
Akhirnya, penutupan akses wisata, meski diperlukan untuk keselamatan, menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan bagi komunitas lokal yang bergantung pada pariwisata. Pemerintah harus menyiapkan paket bantuan atau alternatif pendapatan, seperti program ekowisata berbasis komunitas, untuk mengurangi kerentanan ekonomi selama masa krisis.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa luas area yang terbakar di Gunung Bromo?
A: Hingga 13 Agustus 2026, area yang terbakar diperkirakan mencapai 921,42 hektare. - Q: Mengapa operasi water bombing terhenti?
A: Kabut tebal dan asap pekat mengurangi visibilitas helikopter, sehingga penerbangan dibatalkan demi keselamatan pilot. - Q: Apakah ada korban jiwa akibat kebakaran ini?
A: Sampai saat ini belum ada laporan korban jiwa.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

BPS: Penumpang LRT Jakarta Melonjak 66 Persen Sepanjang September 2026, Transjakarta Tembus 39 Juta Orang

Wisatawan ke Jakarta Capai 8,58 Juta Perjalanan, Naik 6,37 Persen Sepanjang September 2026

Jaga Aliran Limbah: Sudin SDA Kepulauan Seribu Bersihkan Bak Kontrol IPAL Panggang Antisipasi Banjir
