⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Menteri Amran Janjikan Harga Pakan Turun, Namun Peternak Ayam Petelur Masih Merugi

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Menteri Amran Janjikan Harga Pakan Turun, Namun Peternak Ayam Petelur Masih Merugi
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Peternak ayam petelur di Jawa Timur ve Sulawesi Selatan melakukan aksi demo karena harga pakan naik drastis.
  • Menteri Pertanian Andi Amran menegaskan bahwa pakan SPHP sudah disubsidi dan akan disalurkan oleh Bulog hingga Desember.
  • Meski ada subsidi, peternak kecil tetap menanggung kerugian hingga Rp4.000 per rak telur karena selisih harga pakan dan pasar telur yang menurun.

Dalam kunjungan ke Universitas Hasanuddin (Unhas) pada Selasa (11/8), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menanggapi aksi damai peternak ayam petelur yang menuntut penurunan harga pakan. Ia menegaskan bahwa pemerintah telah menandatangani Surat Keputusan (SK) subsidi pakan SPHP dan menugaskan Bulog untuk menyalurkannya hingga Desember, sehingga harga pakan “aman”.

“Kita sudah memberi harga SPHP disubsidi pemerintah dan itu disalurkan oleh Bulog. Kami sudah putuskan, kami sudah tanda tangan. Hanya saja mungkin, kemarin kan demonya mau besar-besaran, mungkin ini terlanjur sudah persiapan. Tapi sebelum demo, kami sudah dahului, sudah tanda tangan SK‑nya SPHP,” ujar Amran.

Menanggapi kekhawatiran peternak kecil terpinggirkan oleh produsen pakan besar, Amran berjanji akan mengundang seluruh pelaku industri—dari produsen pakan, MBG, hingga satgas pertanian—untuk berdiskusi bersama. “Tidak boleh biarkan peternak kecil dipermainkan oleh perusahaan besar. Kami diangkat jadi menteri untuk berpihak pada rakyat, bukan untuk pencitraan saja,” tegasnya.

Selain itu, Amran meminta Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) agar memperluas penyerapan telur dan daging ayam ke seluruh program SPPG. Ia menekankan bahwa penurunan harga telur harus diimbangi dengan kebijakan yang mempermudah akses pasar bagi peternak.

Sementara itu, peternak yang tergabung dalam Aksi Damai Peternak Rakyat Sulawesi mengungkapkan krisis yang sudah berlangsung empat bulan. Mereka bahkan membagikan ayam dan telur secara gratis karena tidak mampu menutupi biaya pakan yang kini berada di kisaran Rp20.000‑Rp21.000 per kilogram. Kerugian operasional mencapai Rp38.000‑Rp40.000 per rak telur, jauh di atas target Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp26.500 per kilogram.

Analisis Pakar

Secara makroekonomi, subsidi pakan SPHP memang dapat menurunkan beban biaya variabel bagi peternak kecil, namun kebijakan ini bersifat jangka pendek dan tidak menyelesaikan masalah struktural. Harga pakan yang tinggi mencerminkan tekanan pada rantai pasokan bahan baku, terutama jagung dan kedelai, yang dipengaruhi oleh fluktuasi pasar global dan kebijakan ekspor impor. Tanpa reformasi pada sisi produksi pakan—misalnya peningkatan efisiensi pabrik, diversifikasi bahan baku, atau insentif bagi produsen lokal—subsidinya akan terus menggerogoti anggaran negara.

Lebih jauh, penetapan harga subsidi harus diimbangi dengan mekanisme distribusi yang transparan. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa subsidi sering kali terhambat oleh birokrasi dan kebocoran, sehingga tidak sampai ke peternak kecil yang paling membutuhkan. Pengawasan ketat oleh lembaga independen atau audit publik dapat meningkatkan akuntabilitas.

Dari perspektif pasar, penurunan harga telur yang drastis menandakan oversupply atau penurunan daya beli konsumen. Pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan permintaan‑sisi, seperti kampanye konsumsi protein hewani atau dukungan pada sektor makanan olahan, untuk menstabilkan harga. Sinergi antara Kementerian Pertanian, BGN, dan Kementerian Perdagangan sangat penting untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.

Terakhir, aksi demo peternak menegaskan pentingnya dialog sosial dalam kebijakan agribisnis. Jika pemerintah gagal menanggapi aspirasi secara konkret, risiko sosial‑ekonomi akan meningkat, termasuk potensi penurunan produksi dan peningkatan impor telur. Kebijakan yang inklusif, berbasis data, dan berjangka panjang akan menjadi kunci untuk mengatasi krisis ini.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu pakan SPHP dan mengapa disubsidi?
    A: SPHP (Pakan Sapi, Kambing, dan Ayam Petelur) adalah pakan bersubsidi pemerintah untuk menurunkan biaya produksi peternak kecil, disalurkan melalui Bulog.
  • Q: Mengapa harga telur tetap turun meski ada subsidi pakan?
    A: Harga telur dipengaruhi oleh faktor permintaan‑penawaran, biaya produksi lain, serta kebijakan pasar internasional; subsidi pakan saja tidak cukup menstabilkan harga jual.
  • Q: Bagaimana peternak dapat mengurangi kerugian operasional?
    A: Peternak dapat mengoptimalkan manajemen pakan, mencari pemasok alternatif, dan memanfaatkan program pemerintah seperti penyerapan telur oleh BGN untuk meningkatkan margin.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸