Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Korea Utara Kecam Buku Putih Pertahanan Jepang 2026, Ketegangan Militer Asia Timur Memanas

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Korea Utara Kecam Buku Putih Pertahanan Jepang 2026, Ketegangan Militer Asia Timur Memanas
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Korea Utara mengutuk buku putih pertahanan Jepang 2026 sebagai rencana invasi ulang.
  • Pyongyang meningkatkan retorika militer setelah Jepang uji coba rudal Tomahawk.
  • Ketegangan memicu perlombaan senjata di Asia Timur, berpotensi memengaruhi pasar regional.

Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh kantor berita resmi KCNA, seorang analis dari Pyongyang menuduh Jepang menggunakan buku putih pertahanan tahun 2026 untuk “legitimasi invasi ulang” dan memperkuat kemampuan militer. Analisis tersebut menegaskan bahwa narasi tersebut “tidak berdasar” dan menjadi tantangan strategis terbesar bagi Tokyo.

Menurut dokumen yang dirilis pada 11 Agustus 2026, buku putih tersebut mencakup peningkatan anggaran pertahanan, pengembangan sistem rudal, serta penempatan pasukan yang lebih agresif di wilayah perbatasan. Pyongyang menilai langkah ini sebagai upaya Tokyo untuk “menormalisasi operasi mesin perang” dan menyiapkan diri bagi konflik potensial.

Sejumlah pekan terakhir, Korea Utara telah mengeluarkan setidaknya tujuh pernyataan kritis terhadap kebijakan militer Jepang sejak Juli. Pada minggu lalu, Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un, memperingatkan bahwa Pyongyang siap mengambil “opsi militer tambahan” bila Jepang terus memperkuat kapasitasnya.

Ketegangan memuncak setelah Jepang melakukan uji coba rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika Serikat, yang menandakan upaya Tokyo memperkuat pertahanan di tengah persepsi ancaman keamanan yang meningkat. Sehari setelah peringatan Kim Yo Jong, Pyongyang meluncurkan rudal balistik jarak pendek ke perairan antara kedua negara, yang dipandang sebagai sinyal peringatan langsung kepada Jepang.

Para analis menilai bahwa eskalasi ini dapat memicu perlombaan senjata di kawasan, menambah volatilitas pasar energi dan logistik, serta menekan nilai tukar regional. Ketegangan meningkatkan premi risiko, menguatkan saham pertahanan Jepang, menurunkan nilai tukar regional, dan dapat memicu penyesuaian portofolio investor ke aset safe‑haven. Investor perlu memantau kebijakan pertahanan masing-masing negara serta respons diplomatik yang mungkin memengaruhi arus perdagangan dan investasi di Asia Timur.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat bahwa retorika militer Korea Utara bukan sekadar soal ideologi, melainkan strategi untuk memengaruhi persepsi risiko geopolitik. Ketika Jepang meningkatkan belanja pertahanan, hal itu menambah beban fiskal pada pemerintah yang sudah berjuang menyeimbangkan defisit dan tekanan demografis. Kenaikan pengeluaran militer biasanya diikuti oleh penurunan alokasi untuk infrastruktur sipil, yang pada gilirannya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik.

Di sisi lain, pasar modal regional akan merespons dengan penyesuaian

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸