Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kebakaran Memusnahkan 37 Rumah di Permukiman Padat Makassar: Penyebab Korsleting dan Kegagalan Penanganan

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kebakaran Memusnahkan 37 Rumah di Permukiman Padat Makassar: Penyebab Korsleting dan Kegagalan Penanganan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kebakaran melanda kawasan padat penduduk di Jalan Kandea 3, menewaskan 37 rumah dan melukai dua warga.
  • Petugas pemadam kebakaran mengerahkan sekitar 40 armada dan 80 personel, namun terhambat akses sempit dan kerumunan warga.
  • Penyebab diduga arus pendek listrik; otoritas masih menyelidiki dan belum ada korban jiwa.

Api berkobar pada Senin (10/8) malam di Makassar, tepatnya di kawasan permukiman padat penduduk Jalan Kandea 3 Lorong 2 dan 3, Kecamatan Bontoala. Lebih dari 30 unit rumah, mayoritas tipe semi‑permanen, terbakar habis dalam waktu kurang dua jam. Tim pemadam kebakaran Makassar mengerahkan sekitar 40 armada dan 80 personel, namun proses pemadaman terhambat oleh jalan yang sempit serta kerumunan warga yang menghalangi akses.

Menurut Kepala Bidang Operasi, Cakrawala, kondisi rumah yang berdekatan mempermudah penyebaran api sekaligus menyulitkan upaya pemadaman. "Sebagian besar bangunan di lokasi adalah rumah semi‑permanen dengan impitan yang sangat rapat, sehingga akses pemadaman menjadi sangat sulit," ujarnya.

Walaupun tidak ada korban jiwa, dua warga mengalami luka ringan akibat serpihan benda tajam dan dilarikan ke puskesmas terdekat. Kapolsek Bontoala, Kompol Andi Aris, menyatakan bahwa penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan, namun dugaan awal mengarah pada korsleting listrik.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar mencatat 37 rumah terbakar, menimpa 60 kepala keluarga (KK) dan 245 warga. Dari total tersebut, 25 rumah rusak berat, tujuh rusak sedang, dan lima rusak ringan. Sebagian besar rumah terdampak berada di RT 03/RW 04 dan RT 04/RW 04.

Analisis Pakar

Tragedi ini mengungkapkan kegagalan struktural dalam perencanaan kawasan kumuh. Kepadatan hunian tanpa standar bangunan yang memadai menciptakan zona rawan kebakaran yang hampir tak terhindarkan. Pemerintah daerah harus segera meninjau kembali kebijakan perumahan informal, mengintegrasikan program relokasi, dan memastikan standar keselamatan listrik dipatuhi.

Respons cepat tim pemadam kebakaran memang patut diapresiasi, namun keterbatasan sarana dan prosedur operasional menunjukkan kebutuhan akan investasi peralatan modern serta pelatihan khusus untuk menangani kebakaran di area sempit. Penambahan jalur evakuasi darurat dan penyuluhan keselamatan listrik kepada warga menjadi langkah preventif yang tidak boleh diabaikan.

Selain itu, penyelidikan atas penyebab kebakaran harus transparan dan melibatkan pihak independen. Jika terbukti bahwa instalasi listrik tidak memenuhi standar, maka ada tanggung jawab hukum yang harus diemban oleh penyedia listrik atau kontraktor yang melakukan instalasi. Penegakan hukum yang tegas akan menjadi sinyal kuat bagi semua pemangku kepentingan untuk meningkatkan standar keselamatan.

Terakhir, korban yang kehilangan tempat tinggal memerlukan bantuan segera. Pemerintah daerah bersama lembaga sosial harus mengaktifkan skema bantuan darurat, termasuk penyaluran bahan bangunan, bantuan tunai, dan layanan psikologis. Tanpa dukungan komprehensif, trauma kebakaran dapat berlarut lama dan memperparah kondisi sosial‑ekonomi warga terdampak.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa penyebab utama kebakaran di permukiman Bontoala?
    A: Penyebab masih diselidiki, namun dugaan awal mengarah pada korsleting listrik.
  • Q: Berapa banyak rumah yang terbakar dan berapa warga yang terdampak?
    A: Sebanyak 37 rumah terbakar, menimpa 60 kepala keluarga atau sekitar 245 warga.
  • Q: Apakah ada korban jiwa dalam kebakaran ini?
    A: Tidak ada korban jiwa, namun dua warga mengalami luka ringan dan dirawat di puskesmas.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸