Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Prabowo Bidik Nuklir: Indonesia Kantongi 89.000 Ton Uranium, Siapkah Jadi Raksasa Energi Baru?

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Prabowo Bidik Nuklir: Indonesia Kantongi 89.000 Ton Uranium, Siapkah Jadi Raksasa Energi Baru?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • BRIN memaparkan potensi energi nuklir Indonesia di hadapan Presiden Prabowo Subianto, menyoroti cadangan 89.000 ton uranium dan 143.000 ton thorium.
  • Teknologi nuklir ini dipersiapkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) serta sektor non-energi seperti pangan dan kesehatan.
  • Selain nuklir, BRIN juga memamerkan inovasi energi alternatif lain seperti CNG bertekanan tinggi dan biofuel (B50) dari sawit, sorgum, dan aren.

Di tengah ambisi swasembada energi yang dicanangkan pemerintahan baru, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyodorkan kartu as yang krusial. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, memaparkan kesiapan teknologi dan bahan baku untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di tanah air.

Indonesia ternyata menyimpan "harta karun" energi yang masif. Berdasarkan data BRIN, Indonesia memiliki potensi cadangan uranium sebesar 89.000 ton dan thorium mencapai 143.000 ton. Angka fantastis ini dinilai lebih dari cukup untuk mengamankan pasokan bahan baku PLTN dalam jangka panjang, sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

"Untuk PLTN kita sudah siapkan untuk bahan nuklir di Indonesia... Dan ini adalah kemampuan dari kami memurnikan uranium sampai dengan 60%," ujar Syaiful dalam presentasinya yang didampingi Kepala BRIN Arif Satria dan jajaran Menteri Kabinet Merah Putih.

Selain untuk sektor ketenagalistrikan, teknologi nuklir ini juga dirancang untuk mendukung sektor non-energi, khususnya ketahanan pangan dan kesehatan. Tak hanya nuklir, BRIN juga memamerkan inovasi Compressed Natural Gas (CNG) bertekanan hingga 30 bar, serta pengembangan biofuel dan bioetanol guna menyokong implementasi program B50 berbasis sawit, sorgum, dan aren.

Analisis Pakar

Ambisi Presiden Prabowo untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% membutuhkan pasokan energi yang stabil, murah, dan bersih (baseload green energy). Di sinilah nuklir masuk sebagai opsi yang tidak bisa lagi diabaikan. Cadangan 89.000 ton uranium dan 143.000 ton thorium bukan sekadar angka di atas kertas; ini adalah modal geopolitik dan geoekonomi yang luar biasa. Jika dikelola dengan benar, Indonesia bisa melompat dari negara importir energi menjadi eksportir teknologi dan energi bersih di kawasan ASEAN.

Namun, sebagai jurnalis finansial, saya harus bersikap realistis. Membangun PLTN bukanlah perkara mudah and murah. Investasi awal (capex) untuk reaktor nuklir sangatlah masif dengan periode pengembalian modal (payback period) yang panjang. Pemerintah harus mampu menciptakan regulasi yang ramah investasi (bankable) untuk menarik minat konsorsium global. Tanpa skema pendanaan yang solid—seperti Public-Private Partnership (PPP) atau green bonds—potensi uranium ini akan tetap terkubur sebagai potensi tanpa realisasi.

Selain masalah finansial, tantangan terbesar ada pada aspek regulasi dan penerimaan publik (public acceptance). Indonesia berada di wilayah Ring of Fire, yang berarti standar keselamatan PLTN kita harus berada di level tertinggi (zero-tolerance for error). BRIN mengklaim mampu memurnikan uranium hingga 60%, namun komersialisasi teknologi ini membutuhkan pengawasan ketat dari BAPETEN dan kepatuhan terhadap standar IAEA. Kita tidak boleh terburu-buru tanpa mitigasi risiko bencana yang komprehensif.

Diversifikasi energi melalui biofuel B50 dan CNG yang dipamerkan BRIN adalah langkah transisi yang baik untuk jangka pendek. Namun untuk jangka panjang, jika Indonesia ingin keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) melalui industrialisasi dan hilirisasi nikel serta tembaga yang rakus daya, energi nuklir adalah keniscayaan. Kuncinya kini ada di tangan kabinet Prabowo: apakah mereka berani mengambil keputusan politik yang berani (political will) untuk mengeksekusi peta jalan nuklir ini, ataukah ini hanya akan menjadi pameran teknologi tahunan tanpa ujung?

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Berapa banyak cadangan uranium dan thorium yang dimiliki Indonesia?
A: Berdasarkan data BRIN, Indonesia memiliki potensi cadangan uranium sekitar 89.000 ton dan thorium mencapai 143.000 ton yang dapat digunakan sebagai bahan baku PLTN.

Q: Apa saja kegunaan teknologi nuklir yang dipaparkan BRIN selain untuk energi?
A: Selaian untuk pembangkit listrik (PLTN), teknologi nuklir juga dipersiapkan untuk sektor non-energi, seperti peningkatan produktivitas pangan (pertanian) dan teknologi kesehatan (medis).

Q: Apa tantangan terbesar Indonesia dalam membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)?
A: Tantangan utamanya meliputi kebutuhan investasi awal (capex) yang sangat besar, regulasi keselamatan yang ketat karena posisi geografis Indonesia di cincin api (Ring of Fire), serta penerimaan sosial dari masyarakat.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸