IBCWE Ungkap: Program Pemberdayaan Perempuan Gagal Karena Tidak Pakai Social Mapping

Ringkasan Singkat
- Program pemberdayaan perempuan sering tidak efektif karena penyelenggara tidak memahami kebutuhan riil peserta.
- Social mapping menjadi kunci untuk menyesuaikan waktu, lokasi, dan dukungan logistik agar perempuan dapat berpartisipasi.
- IBCWE menekankan bahwa inklusivitas harus diukur dari manfaat nyata, bukan sekadar angka partisipasi.
Dalam sesi Designing Community Investment for Social Impact pada Bangun Bangsa Conference 2026 Bangun Bangsa Conference 2026 yang digelar di Menara Bank Mega, Wita Krisanti, Executive Director Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), menyoroti kegagalan banyak program pemberdayaan perempuan. Menurutnya, kegagalan tersebut bukan karena kurangnya dana, melainkan karena penyelenggara tidak melakukan social mapping yang memetakan kondisi hidup, jadwal, dan tanggung jawab pengasuhan peserta.
"Keberhasilan investasi sosial tidak cukup diukur dari berapa banyak perempuan yang terdaftar. Kita harus pastikan mereka benar‑benar menjadi penerima manfaat yang memperoleh akses dan peluang untuk berkembang," ujar Wita. Ia mencontohkan program pelatihan yang dijadwalkan pada jam‑jam sibuk rumah tangga, sehingga perempuan yang masih mengurus pekerjaan domestik tidak dapat hadir. Begitu pula program pemberian makanan tambahan yang dilaksanakan saat perempuan sedang menyiapkan sarapan atau mencuci pakaian, membuat partisipasi menjadi sangat rendah.
Selain penjadwalan, lokasi kegiatan dan ketersediaan transportasi menjadi faktor penghambat lainnya. Wita menekankan pentingnya memperhitungkan beban pengasuhan, terutama bagi ibu dengan anak kecil, agar program tidak hanya bersifat simbolik tetapi memberikan dampak nyata.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro dan jurnalis keuangan, saya melihat bahwa kegagalan program pemberdayaan perempuan bukan sekadar masalah operasional, melainkan mencerminkan ketidaksesuaian kebijakan dengan realitas pasar tenaga kerja informal. Di Indonesia, lebih dari 70% perempuan berada di sektor informal, dengan jam kerja yang tidak teratur dan tanggung jawab rumah tangga yang tinggi. Tanpa data granular—yang seharusnya dihasilkan lewat social mapping—penyedia program cenderung mengandalkan asumsi umum yang tidak relevan.
Social mapping harus menjadi fondasi dalam desain kebijakan publik dan investasi swasta. Dengan memetakan titik-titik kritis seperti akses transportasi, jam produktif, dan beban pengasuhan, penyelenggara dapat menyesuaikan mekanisme distribusi bantuan, misalnya dengan menyediakan layanan mobile atau mengadakan sesi pelatihan di lingkungan RT setempat. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan partisipasi, tetapi juga menurunkan biaya akuisisi peserta karena mengurangi kebutuhan logistik yang tidak efisien.
Selain itu, pengukuran dampak harus beralih dari metrik kuantitatif sederhana (jumlah peserta) ke metrik kualitas (tingkat peningkatan pendapatan, akses ke layanan keuangan, atau perubahan perilaku konsumsi). Ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) yang menuntut inklusivitas dan pemberdayaan gender. Investor institusional yang menilai ESG (Environmental, Social, Governance) akan lebih tertarik pada program yang dapat membuktikan ROI sosial yang terukur. Investasi Sosial untuk wawasan lebih lanjut.
Terakhir, kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah, lembaga keuangan, dan organisasi masyarakat sipil—harus didorong untuk menciptakan ekosistem yang mendukung perempuan secara holistik. Tanpa sinergi ini, program yang tampak baik di atas kertas akan tetap terjebak dalam paradoks “program tanpa manfaat”.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu social mapping dalam konteks pemberdayaan perempuan?
A: Social mapping adalah proses pengumpulan data demografis, geografis, dan sosial untuk memahami kebutuhan, kebiasaan, dan hambatan yang dihadapi target kelompok, sehingga program dapat dirancang lebih tepat sasaran. - Q: Mengapa program pelatihan sering tidak dihadiri perempuan?
A: Karena jadwal pelatihan tidak mempertimbangkan jam kerja domestik perempuan, lokasi yang sulit dijangkau, dan kurangnya dukungan transportasi, sehingga partisipasi menjadi rendah. - Q: Bagaimana cara mengukur keberhasilan program pemberdayaan perempuan secara efektif?
A: Menggunakan indikator kualitas seperti peningkatan pendapatan, akses ke layanan keuangan, perubahan perilaku konsumsi, dan tingkat kepuasan peserta, bukan sekadar jumlah peserta.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BJS Buka Suara Dugaan Hilangnya Emas 2,2 Kilogram: Fasilitas Gadai Dinyatakan Lunas Sejak 2013

OJK Luncurkan Blueprint Strategis Keuangan Syariah, Targetkan Pertumbuhan Aset Melampaui 10%

DJP Klarifikasi Mitos Pajak Digital: Transfer Bank Bukan Objek PPN, Ini Mekanisme SPP-TDLN
