Netanyahu di Ambang Kalah: Survei Terbaru Tampilkan Mayoritas Israel Meragukan Kemenangannya di Gaza
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Ringkasan Singkat Survei Channel 12 menunjukkan blok oposisi Zionis menguasai 60 kursi, sedikit di bawah mayoritas 61 di Knesset 120 anggotanya.
- 62% responden tidak percaya bahwa Netanyahu akan mencapai 'kemenangan total' di Gaza, sementara hanya 28% mengoptimistikan kemenangannya.
- Responden juga skeptis terhadap peluruhan senjata Hamas dan Hizbullah, dan terbagi mengenai ancaman Iran , dengan 51% mendukung pembukaan kembali perang melawan Iran.
Ringkasan Singkat
- Survei Channel 12 menunjukkan blok oposisi Zionis menguasai 60 kursi, sedikit di bawah mayoritas 61 di Knesset 120 anggotanya.
- 62% responden tidak percaya bahwa Netanyahu akan mencapai 'kemenangan total' di Gaza, sementara hanya 28% mengoptimistikan kemenangannya.
- Responden juga skeptis terhadap peluruhan senjata Hamas dan Hizbullah, dan terbagi mengenai ancaman Iran, dengan 51% mendukung pembukaan kembali perang melawan Iran.
Menurut survei yang dilakukan oleh Migdam Institute dengan 503 responden dan margin kesalahan 4,4%, partai oposisi Zionis kini menguasai 56 kursi, sementara blok Netanyahu hanya meraih 50 kursi. Partai sentris Zionist Home dengan empat kursi telah menunjukkan niat bergabung dalam koalisi anti‑Netanyahu, sehingga total oposisi Zionis mencapai 60 kursi.
Dalam hal persepsi kemenangan, 62% dari responden menyatakan tidak percaya bahwa Benjamin Netanyahu telah memimpin Israel menuju 'kemenangan total' setelah tiga tahun pertarungan, dibandingkan dengan 28% yang percaya demikian. Sikap skeptis ini juga terlihat terhadap kelompok bersenjata: 63% tidak percaya Hezbollah akan menyerahkan senjatanya, dan 72% sama terhadap Hamas.
Terhadap ancaman Iran, respons terbagi: 27% menilai ancaman meningkat karena kebijakan Israel, 28% menganggap tidak berubah, dan 35% mengancaman menurun. Namun, sedikit lebih dari separuh (51%) mendukung ide memulai kembali perang melawan Iran, sementara 34% menentangnya.
Penilaian terhadap Menteri Pertahanan Yisrael Katz juga kurang menguntungkan: 57% memberi nilai 'buruk', sementara hanya 34% menilai 'baik'. Selain itu, 47% menganggap upaya Katz untuk menggulingkan Komando Pusat IDF, Mayjen Avi Bluth, tidak 'pantas', dengan hanya 17% yang mendukungnya.
Analisis Pakar
Survei terbaru ini mencerminkan suatu pergeseran politik yang signifikan dalam masyarakat Israel, di mana kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Benjamin Netanyahu mulai erosi setelah bertahun‑tahun menjalani konflik yang panjang dan kompleks. Angka 62% yang tidak percaya pada klaimNetanyahu mengenai pencapaian 'kemenangan total' di Gaza menunjukkan bahwa narasi resmi yang menekankan keberhasilan militer mulai kehilangan daya tariknya, terutama ketika masyarakat menyaksikan dampak humaniter yang panjang dan tidak ada jelasnya jalan keluar yang dapat diterima oleh semua pihak.
Dari perspektif strategis, fakta bahwa blok oposisi Zionis kini berada pada 60 kursi — hanya satu kursi di bawah ambang mayoritas — mengindikasikan bahwa koalisi anti‑Netanyahu memiliki potensi untuk mengganti pemerintahan jika mereka mampu menjaga kesatuan dan menarik dukungan dari partai‑partai kecil seperti Zionist Home serta fraksi Arab seperti Ra'am dan Hadash‑Ta'al. Namun, fragmentasi ideologis antara partai Zionis sekuler dan nasionalis serta kepentingan fraksi Arab tetap menjadi hambatan besar dalam membentuk koalisi yang stabil dan koheren.
Sikap publik terhadap ancaman Iran juga menarik untuk diperhatikan. Meskipun hanya 35% mengancam menurun, sebagian besar masyarakat (51%) masih mendukung ide pembukaan kembali perang melawan Iran, yang menunjukkan bahwa rasa waspada terhadap program nuklir dan pengaruh regional Tehran tetap tinggi. Ini mungkin menjadi alat politik bagi pihak yang ingin mengalihkan perhatian dari masalah domestik seperti ketidakpuasan terhadap Netanyahu dan ekonomi, dengan menekankan ancaman eksternal yang dianggap eksistensial.
Terakhir, penilaian negatif terhadap Menteri Pertahanan Yisrael Katz dan upaya‑nya untuk menggulingkan panglima Komando Pusat IDF menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas kepemimpinan pertahanan Israel saat ini. Jika angka 57% yang memberi nilai 'buruk' dipadu dengan ketidakpercayaan terhadap strategi militer di Gaza dan terhadap Hamas/Hezbollah, maka terdapat risiko bahwa kepercayaan publik terhadap aparat keamanan akan terus menurun, yang pada gilirannya bisa memengaruhi keputusan politik terkait anggaran pertahanan dan kebijakan luar negeri.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa yang menyebabkan mayoritas warga Israel tidak percaya pada klaim kemenangan Netanyahu di Gaza?
A: Survei menunjukkan bahwa publik merasa klaim tersebut tidak selaras dengan kenyataan lapangan, termasuk pertahanan yang berkelanjutan, korban sipil, dan tidak ada pencapaian strategis yang jelas setelah tiga tahun pertempuran.
Q: Bagaimana posisi parti oposisi Zionis dalam survei ini dan apakah mereka mampu membentuk mayoritas di Knesset?
A: Blok oposisi Zionis mencatat 60 kursi, hanya satu kursi di bawah mayoritas 61 dari total 120 kursi Knesset; dengan dukungan dari Zionist Home dan potensi aliansi dengan partai Arab, mereka memiliki peluang realistis untuk mencapai mayoritas jika berhasil menjaga kohesi koalisi.
Q: Apakah respons terhadap ancaman Iran menunjukkan perubahan dalam kebijakan pertahanan Israel?
A: Meskipun ada keraguan terhadap kemampuan Netanyahu dalam memimpin konflik tersebut, 51% responden mendukung ide membuka kembali perang melawan Iran, menegaskan bahwa ancaman nuklir dan regional masih dianggap serius, yang dapat memicu tekanan pada pemerintah untuk memperketat postur militer terhadap Tehran.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Korea Utara Tolak Tuduhan FBI Soal Peretasan Binance, Kim Yo Jong Sebut Klaim AS Retorika Absurd

Gelombang Besar Pemilih AS Hadiri TPS Pemilu Sela, Dinamika Politik Global Dipertaruhkan

Lukashenko Dorong Donald Trump Jadi Sekjen PBB untuk Bersihkan 'Rawa-Rawa' Organisasi
