Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Terungkap! Hamas Setuju Luncurkan Pelucutan Senjata, Israel Dipaksa Tarik Pasukan – Apa Kata Trump?

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Terungkap! Hamas Setuju Luncurkan Pelucutan Senjata, Israel Dipaksa Tarik Pasukan – Apa Kata Trump?
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Hamas mengumumkan kesepakatan pelucutan senjata di Gaza dengan syarat penarikan bertahap pasukan Israel .
  • Presiden DonaldTrump Trump dan Dewan Perdamaian menyatakan kesepakatan tersebut sebagai langkah historis dalam rencana 20 poinnya.
  • Hamas menegaskan bahwa pelucutan senjata akan tergantung pada kepatuhan Israel dan pembentukan Komite Nasional untuk mengawasi proses.

Ringkasan Singkat

  • Hamas mengumumkan kesepakatan pelucutan senjata di Gaza dengan syarat penarikan bertahap pasukan Israel.
  • Presiden DonaldTrump Trump dan Dewan Perdamaian menyatakan kesepakatan tersebut sebagai langkah historis dalam rencana 20 poinnya.
  • Hamas menegaskan bahwa pelucutan senjata akan tergantung pada kepatuhan Israel dan pembentukan Komite Nasional untuk mengawasi proses.

Kelompok Hamas secara resmi mengonfirmasi tercapainya kesepakatan mengenai pelucutan senjata di Jalur Gaza. Pernyataan tersebut disampaikan oleh seorang pejabat senior Hamas kepada AFP, menekankan bahwa kesepakatan itu tidak berdiri sendiri, melainkan diikat dengan rencana penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah tersebut.

Dalam konteks diplomatik yang lebih luas, Presiden DonaldTrump bersama Dewan Perdamaian (Board of Peace) mengumumkan pencapaian ini sebagai "tonggak penting" dalam implementasi rencana 20 poinnya, yang bertujuan mengakhiri konflik bersenjata di Gaza. Trump menulis di platform media sosialnya, Truth Social, bahwa kesepakatan ini merupakan langkah historis menuju perdamaian dan keamanan yang berkelanjutan.

Negosiasi yang berlangsung selama berbulan‑bulan melibatkan konsesi berat dari kedua belah pihak. Wakil tim negosiasi Hamas, Ghazi Hamad, menegaskan bahwa pelucutan senjata Hamas akan berhubungan langsung dengan penarikan pasukan Israel, pembentukan Komite Nasional yang independen, serta program rekonstruksi pasca‑konflik. Hamad menambahkan bahwa Hamas tidak akan melaksanakan bagian apapun dari perjanjian jika Israel gagal memenuhi kewajibannya.

Selain penarikan militer, rencana tersebut mencakup pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang akan berkoordinasi dengan kepolisian Palestina yang baru dibentuk untuk menjaga keamanan di Gaza. Namun, detail operasional dan jadwal konkret masih dalam tahap finalisasi, menunggu verifikasi dari mediator internasional.

Analisis Pakar

Kesepakatan ini menandai perubahan paradigma dalam dinamika konflik Israel‑Palestina. Dari sudut pandang keamanan regional, pelucutan senjata oleh Hamas—yang selama ini menjadi kekuatan utama dalam perlawanan bersenjata—menunjukkan adanya tekanan internal untuk mengurangi penderitaan sipil di Gaza. Namun, keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada konsistensi Israel dalam menurunkan kehadiran militer, yang secara historis telah menjadi faktor pemicu utama eskalasi.

Para analis menyoroti bahwa peran DonaldTrump sebagai mediator utama menimbulkan pertanyaan tentang legitimasi dan keberlanjutan proses. Meskipun rencana 20 poinnya menawarkan kerangka komprehensif, kurangnya dukungan luas dari komunitas internasional—terutama Uni Eropa dan PBB—dapat menghambat implementasi praktis. Tanpa jaminan multilateral, kesepakatan ini berisiko menjadi sekadar deklarasi politik yang mudah dilanggar.

Selanjutnya, pembentukan Komite Nasional dan Pasukan Stabilisasi Internasional harus dihadapi dengan tantangan logistik dan kepercayaan. Sejarah menunjukkan bahwa upaya serupa sering kali terhambat oleh persaingan internal antara faksi-faksi Palestina serta skeptisisme Israel terhadap niat baik pihak lawan. Oleh karena itu, mekanisme verifikasi yang transparan dan pengawasan independen menjadi kunci untuk menghindari kemunduran.

Terakhir, implikasi ekonomi dan kemanusiaan tidak boleh diabaikan. Rekonstruksi Gaza memerlukan dana yang signifikan, yang pada gilirannya menuntut komitmen donor internasional. Jika dana tidak mengalir, atau jika proses penarikan pasukan terhambat, risiko kembali ke siklus kekerasan akan tetap tinggi, mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa saja syarat utama yang ditetapkan Hamas untuk pelucutan senjata?
    A: Hamas menuntut penarikan bertahap pasukan Israel, pembentukan Komite Nasional yang independen, dan jaminan rekonstruksi serta keamanan pasca‑konflik.
  • Q: Bagaimana peran DonaldTrump dalam kesepakatan ini?
    A: Trump, bersama Dewan Perdamaian, memfasilitasi negosiasi dan mengumumkan kesepakatan sebagai bagian dari rencana 20 poinnya untuk mengakhiri perang di Gaza.
  • Q: Apakah ada mekanisme pengawasan internasional untuk memastikan kepatuhan Israel?
    A: Ya, rencana mencakup pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang akan bekerja sama dengan kepolisian Palestina untuk mengawasi proses penarikan dan keamanan.
Meow! Tanya Nesi!
😸