Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Pilot Malaysia Tertangkap Bawa 25 Kg Ekstasi & 7 Kg Sabu ke Jakarta, Upah Rp220 Juta

KriminalBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Pilot Malaysia Tertangkap Bawa 25 Kg Ekstasi & 7 Kg Sabu ke Jakarta, Upah Rp220 Juta
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Pilot asal Malaysia , Mohd Saufi bin Othman , tertangkap tiga kali mengangkut narkoba ke Indonesia.
  • Tim gabungan Bareskrim Polri menyita 25 kg ekstasi dan 7 kg sabu serta satu paket sabu 2,7 gram di koper.
  • Pelaku mengaku dibayar Rp220 juta (50 ribu Ringgit) oleh bandar yang diduga berlokasi di Jakarta .

Ringkasan Singkat

Dalam operasi gabungan antara Bareskrim Polri dan satuan khusus lainnya, seorang pilot maskapai asing asal Malaysia berhasil ditangkap saat hendak mengirimkan narkotika ke Indonesia untuk ketiga kalinya. Menurut Brigjen Eko Hadi Santoso, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim, tersangka, Mohd Saufi bin Othman, pertama kali mengirimkan sabu ke Sabah, kemudian 7 kilogram sabu ke Jakarta, dan kini kembali dengan 25 kilogram ekstasi serta satu paket sabu seberat 2,7 gram.

Hasil pemeriksaan urine menunjukkan bahwa Saufi juga mengkonsumsi metamfetamina (sabu), MDMA (ekstasi) dan kokain, menegaskan kedalaman keterlibatannya dalam jaringan narkotika internasional. Ia mengaku menerima perintah dari seorang bandar yang beroperasi dari Malaysia, dengan janji upah sebesar 50 ribu Ringgit Malaysia (sekitar Rp220 juta). Menurut keterangan, barang akan diserahkan di sebuah hotel, namun rencana itu berhasil digagalkan oleh aparat.

Tim gabungan menemukan 70.114 butir ekstasi (sekitar 25 kg) yang dibungkus dalam 14 paket besar, serta satu paket sabu 2,7 gram yang tersembunyi dalam koper. Penangkapan ini menandai upaya serius penegakan hukum terhadap jalur penerbangan yang dimanfaatkan untuk perdagangan narkoba lintas negara.

Analisis Pakar

Kasus ini mengungkap celah kritis dalam pengawasan penerbangan sipil, terutama pada maskapai asing yang beroperasi di wilayah Indonesia. Pilot bukan sekadar pelaku pasif; mereka menjadi agen aktif yang memfasilitasi distribusi narkoba dengan memanfaatkan akses ke bandara internasional. Keterlibatan seorang pilot dalam tiga kali penyelundupan menunjukkan adanya jaringan yang terorganisir, bukan aksi individu semata.

Penegakan hukum yang melibatkan Bareskrim Polri bersama unit intelijen menunjukkan sinergi yang diperlukan untuk memutus rantai pasokan. Namun, keberhasilan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana barang-barang tersebut lolos dari pemeriksaan keamanan bandara sebelumnya. Apakah ada korupsi internal atau kelemahan prosedur yang dimanfaatkan oleh sindikat?

Selain itu, fakta bahwa pelaku juga mengonsumsi narkoba menandakan adanya budaya narkotika yang mengakar di kalangan pelaku. Ini memperkuat argumen bahwa penanggulangan harus bersifat multidimensional: tidak hanya menindak kriminal, tetapi juga memutus sumber pendanaan dan memutus jaringan keuangan yang memberi insentif tinggi bagi pelaku.

Ke depan, Indonesia perlu memperkuat kerjasama bilateral dengan negara asal pilot, dalam hal pertukaran intelijen dan prosedur keamanan penerbangan. Pengawasan yang lebih ketat pada kargo dan penumpang, serta audit rutin terhadap personel penerbangan, menjadi langkah preventif yang tidak boleh diabaikan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa banyak narkoba yang berhasil disita dalam kasus ini?
    A: Sekitar 25 kilogram ekstasi, 7 kilogram sabu, dan satu paket sabu 2,7 gram.
  • Q: Siapa yang memberi perintah kepada pilot tersebut?
    A: Seorang bandar narkoba yang diduga berdomisili di Malaysia, yang menjanjikan upah Rp220 juta.
  • Q: Apa langkah selanjutnya yang akan diambil oleh aparat?
    A: Pelaku akan diproses secara hukum atas tiga kali penyelundupan narkoba, dan penyelidikan lanjutan akan diarahkan pada jaringan kriminal internasional yang mendukungnya.
Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ