Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Serang dan Situbondo Bersatu: Festival Anyer-Panarukan Akan Bangkitkan Jalan Raya Pos Sejarah Kolonial

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Serang dan Situbondo Bersatu: Festival Anyer-Panarukan Akan Bangkitkan Jalan Raya Pos Sejarah Kolonial
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pemkab Situbondo dan Serang menandatangani MoU untuk mengembalikan jalur Anyer-Panarukan sebagai koridor pariwisata sejarah.
  • MoU meluncurkan program 3R (Road, Route, Roots) yang fokus pada pelestarian Jalan Raya Pos, pengembangan rute wisata, dan penelitian akar budaya setempat.
  • Festival Anyer-Panarukan direncanakan sebagai langkah pertama untuk menarik wisatawan, meningkatkan UMKM, dan memperkuat kolaborasi lintas daerah sepanjang jalur kolonial.

Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Serang, Banten, menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Rabu, 29 Juli 2024, di Pendopo Rakyat Situbondo. MoU tersebut menegaskan komitmen kedua daerah untuk menggalang kembali Anyer-Panarukan sebagai jalur strategis yang telah ada sejak era Daendels tahun 1808.

Menurut Yusuf Rio Wahyu Prayogo, Bupati Situbondo, memilih Jalan Raya Pos sebagai identitas baru bukan hanya karena panjangnya yang hampir 1.000 km, tetapi juga karena nilai sejarah yang sudah terakumulasi dalam masyarakat Indonesia. Ia menambahkan bahwa jalan ini, meski berkelakukannya sebagai simbol kerja paksa pada masa kolonial, dapat diinterpretasi ulang menjadi sumber daya pariwisata dan kreatif.

Konsep 3R yang diusung dalam MoU membagi tiga pilar: Road untuk pelestarian fisik Jalan Raya Pos; Route untuk merancang koridor perjalanan dan destinasi wisata dari Anyer hingga Panarukan; dan Roots untuk menggali kembali sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang tumbuh di sepanjang jalur tersebut.

Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menegaskan bahwa kolaborasi akan ditindaklanjuti melalui kerja sama antarorganisasi perangkat daerah (OPD) seperti perdagangan, pendidikan, komunikasi, dan pariwisata, dengan tujuan menciptakan program nyata yang meningkatkan pendapatan daerah dan kesejahteraan warga.

Sebagai implementasi awal, kedua pemerintah berencana menggelar Festival Anyer-Panarukan dalam waktu dekat. Festival ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kembali koridor Jalan Raya Pos sebagai destinasi wisata sekaligus memperkuat sinergi ekonomi antara kabupaten dan kota yang dilalui jalur sejarah tersebut.

Analisis Pakar

Dari perspektif investigasi, MoU ini menarik perhatian karena menggabungkan nilai warisan dengan agenda pembangunan ekonomi. Namun, terdapat beberapa catatan kritis yang perlu diperhatikan. Pertama, narasi tentang Jalan Raya Pos sebagai ‘simbol kerja paksa’ perlu dihandle dengan sensitivitas; memaknai kembali sejarah tanpa melibatkan langsung masyarakat yang turunan dari pekerja paksa berisiko meminimalkan trauma historis dan mengubahnya menjadi produk konsumsi yang menghilangkan dimensi keadilan historis.

Kedua, keberhasilan program 3R sangat bergantung pada keterlibatan komunitas setempat. Tanpa mekanisme partipasi yang transparan—misalnya musyawarah Desa, lembaga adat, dan UMKM—risiko terjadinya ‘top‑down’ yang hanya menguntungkan pihak pemerintah dan investor besar tetap tinggi. Pengalaman serupa di Jawa Barat menunjukkan bahwa proyek pariwisata berbasis warisan sering kali mengabaikan hak atas tanah dan sumber daya lokal, menimbulkan konflik sosial.

Ketiga, aspek keuangan dan akuntabilitas masih kurang terjelaskan dalam MoU. Tidak ada rincian tentang sumber dana, alokasi anggaran, maupun mekanisme pengawasan yang independen. Untuk mencegah praktik korupsi atau pengalihan dana, diperlukan bentuk laporan publik berkala dan audit oleh lembaga pengawas keuangan daerah (BPKD) atau lembaga swadaya masyarakat yang terpercaya.

Terakhir, integrasi infrastruktur juga menjadi tantangan. Jalur yang panjangnya hampir 1.000 km memerlukan perbaikan jalan, fasilitas sanitasi, dan akses telekomunikasi yang merata. Jika fokus hanya pada festival dan promosi tanpa peningkatan dasar infrastruktur, dampak ekonomi mungkin terbatas pada sektor pariwisata sezonali, sementara sektor lain seperti pertanian dan perikanan yang juga berada di jalur tersebut terabaikan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa saja manfaat ekonomi yang diharapkan dari Festival Anyer-Panarukan?
    A: Festival diharapkan menarik wisatawan domestik dan manca negara, meningkatkan penjualan UMKM, membuka lapangan kerja sementara dalam sektor pariwisata, dan memicu investasi dalam infrastruktur pariwisata entlang jalur Jalan Raya Pos.
  • Q: Bagaimana cara memastikan bahwa proyek ini tidak hanya menjadi proyek simbolis tanpa dampak nyata?
    A: Keberhasilan bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, mekanisme monitoring transparan, dan penyaluran dana yang terukur melalui anggaran daerah dan laporan publik yang dapat diakses oleh sipil.
  • Q: Apakah ada rencana untuk melibatkan pihak akademisi atau lembaga penelitian dalam penelitian sejarah Jalan Raya Pos?
    A: Dalam pilar Roots, MoU menyebutkan kolaborasi dengan lembaga pendidikan dan penelitian untuk dokumentasi arkeologi, studi budaya, dan pengembangan produk kreatif berbasis warisan, namun detail kerjasama masih perlu disusun dalam bentuk MoU terkait.
  • Q: Bagaimana dampak kebijakan baru terhadap bisnis lokal?
    A: Kebijakan fiskal yang lebih lunak dapat meningkatkan daya beli UMKM, memungkinkan mereka berpartisipasi lebih aktif dalam festival dan memanfaatkan peluang pasar yang muncul.
Meow! Tanya Nesi!
😸