Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa Buka Jalur Baru: Upaya Kesepakatan Keamanan dengan Israel Mengguncang Dinamika Timur Tengah

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa Buka Jalur Baru: Upaya Kesepakatan Keamanan dengan Israel Mengguncang Dinamika Timur Tengah
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa mengumumkan upaya merundingkan kesepakatan keamanan dengan Israel .
  • Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi batu loncatan bagi perdamaian komprehensif tanpa mengorbankan klaim Suriah atas Dataran Tinggi Golan .
  • Langkah diplomatik ini bertepatan dengan kunjungan Sekjen PBB Antonio Guterres ke Suriah serta peningkatan kehadiran militer Israel setelah kejatuhan Bashar al‑Assad pada Desember 2024.

Ringkasan Singkat

  • Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa mengumumkan upaya merundingkan kesepakatan keamanan dengan Israel.
  • Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi batu loncatan bagi perdamaian komprehensif tanpa mengorbankan klaim Suriah atas Dataran Tinggi Golan.
  • Langkah diplomatik ini bertepatan dengan kunjungan Sekjen PBB Antonio Guterres ke Suriah serta peningkatan kehadiran militer Israel setelah kejatuhan Bashar al‑Assad pada Desember 2024.

Presiden Suriah, Ahmed Al Sharaa, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera menyatakan bahwa pemerintahannya sedang mengupayakan sebuah kesepakatan keamanan dengan Israel. Menurut Sharaa, kesepakatan tersebut tidak hanya akan menurunkan ketegangan militer di perbatasan, tetapi juga membuka ruang bagi proses perdamaian komprehensif antara kedua negara, sambil tetap menghormati hak Suriah atas Dataran Tinggi Golan—wilayah yang direbut Israel pada Perang Enam Hari 1967 dan kemudian dianeksasi pada 1981.

Sharaa menegaskan bahwa Suriah berupaya melibatkan sejumlah negara sahabat untuk menekan Israel agar mengadopsi kebijakan yang lebih seimbang. "Kami menghindari konfrontasi," ujarnya, menekankan pendekatan diplomatik meski situasi di lapangan tetap tegang. Sejak kejatuhan mantan Presiden Bashar al‑Assad pada akhir 2024, pasukan Israel telah memasuki wilayah Suriah, termasuk zona demiliterisasi di sekitar Gunung Hermon yang menghadap ke Damaskus, serta melakukan serangkaian operasi militer yang menargetkan posisi strategis dan menahan sejumlah warga sipil.

Kunjungan Sekjen PBB Antonio Guterres ke Suriah pada minggu ini menambah dimensi internasional pada upaya diplomatik tersebut. Dalam pidatonya, Guterres menekankan pentingnya menghormati kedaulatan, kemerdekaan, persatuan, dan integritas teritorial Suriah. Pernyataan Sharaa muncul dalam konteks upaya pemerintahannya untuk memulihkan hubungan internasional dan menghidupkan kembali ekonomi domestik setelah hampir 14 tahun konflik bersenjata dan puluhan tahun isolasi.

Jika kesepakatan keamanan dapat terwujud, implikasinya akan melampaui hubungan bilateral Suriah‑Israel. Hal ini dapat memicu perubahan aliansi regional, mempengaruhi kebijakan luar negeri negara‑negara besar yang memiliki kepentingan di Timur Tengah, serta membuka peluang bagi investasi kembali ke wilayah yang selama ini terpinggirkan oleh perang. Namun, realitas di lapangan—termasuk kehadiran militer Israel, dinamika politik internal Suriah, dan peran aktor eksternal—menjadi tantangan signifikan yang harus diatasi oleh kedua belah pihak.

Analisis Pakar

Secara strategis, upaya Ahmed Al Sharaa untuk menegosiasikan kesepakatan keamanan dengan Israel menandakan pergeseran paradigma kebijakan luar negeri Suriah yang selama ini mengandalkan konflik sebagai alat tawar. Dengan mengedepankan diplomasi, pemerintah baru Suriah berusaha mengurangi beban militer dan membuka jalur bantuan internasional yang selama ini terhalang oleh sanksi. Namun, keberhasilan inisiatif ini sangat bergantung pada kesiapan Israel untuk mengubah kebijakan keamanan yang selama ini bersifat preventif dan mengutamakan kontrol wilayah strategis, terutama di Dataran Tinggi Golan.

Faktor eksternal juga tidak dapat diabaikan. Amerika Serikat, yang memiliki hubungan historis kuat dengan Israel, serta Rusia, yang selama ini menjadi sekutu utama Suriah, akan memainkan peran kunci dalam memediasi atau menolak proses ini. Jika kedua kekuatan besar tersebut dapat menemukan titik temu, kesepakatan keamanan dapat menjadi katalisator bagi stabilitas regional. Sebaliknya, kegagalan untuk mencapai konsensus dapat memperdalam fragmentasi politik di Timur Tengah, memperkuat posisi kelompok militan, dan memperpanjang penderitaan warga sipil.

Dari perspektif ekonomi, penyelesaian konflik keamanan dapat membuka pintu bagi investasi infrastruktur, rekonstruksi, dan pengembangan energi, terutama di wilayah yang selama ini terpinggirkan oleh perang. Hal ini akan memberikan dorongan signifikan bagi pemulihan ekonomi Suriah, yang kini berada di ambang krisis kemanusiaan. Namun, risiko kembali ke ketegangan militer tetap tinggi, mengingat sejarah panjang perselisihan atas Golan dan kepentingan strategis yang dimiliki Israel di wilayah tersebut.

Secara keseluruhan, inisiatif Sharaa mencerminkan upaya pragmatis untuk mengubah paradigma konflik menjadi dialog. Keberhasilan atau kegagalan kesepakatan ini akan menjadi barometer penting bagi masa depan politik Timur Tengah, menandai apakah kawasan ini dapat beralih dari pola konflik berulang ke era kooperasi regional yang lebih stabil.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa yang memotivasi Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa untuk mencari kesepakatan keamanan dengan Israel?
    A: Motivasi utama adalah mengurangi ketegangan militer, membuka jalur diplomatik, dan memulihkan ekonomi serta hubungan internasional Suriah setelah bertahun‑tahun konflik.
  • Q: Bagaimana status Dataran Tinggi Golan dalam negosiasi ini?
    A: Suriah menuntut pengakuan kembali atas Golan, sementara Israel mempertahankan kontrolnya; kesepakatan keamanan diharapkan tidak mengorbankan klaim Suriah atas wilayah tersebut.
  • Q: Apa peran Sekjen PBB Antonio Guterres dalam proses ini?
    A: Guterres menekankan pentingnya menghormati kedaulatan Suriah dan dapat berfungsi sebagai mediator internasional untuk memfasilitasi dialog antara Suriah dan Israel.
Meow! Tanya Nesi!
😸