Pagar Makan Tanaman: Kasat Narkoba Polres Tangsel dan 5 Perwira Ditangkap Terkait Penyalahgunaan Etomidate
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Enam personel Satresnarkoba Polres Tangerang Selatan, termasuk Kasat Narkoba AKP Pardiman, ditangkap terkait penyalahgunaan obat keras etomidate.
- Penangkapan dilakukan oleh Bareskrim Polri, dan para oknum kini telah diserahkan ke Subdit Paminal Polda Metro Jaya.
- Kasus ini memicu sorotan tajam terhadap pengawasan internal kepolisian dan pengelolaan barang bukti narkotika.
Sebuah tamparan keras kembali menghantam wajah institusi kepolisian Republik Indonesia. Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri berhasil membongkar keterlibatan sindikat internal dalam penyalahgunaan obat keras golongan G jenis etomidate. Tidak tanggung-tanggung, enam personel dari Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Tangerang Selatan diringkus, termasuk sang pimpinan satuan, AKP Pardiman.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, mengonfirmasi penangkapan tersebut. Ia menegaskan bahwa AKP Pardiman selaku Kasat Narkoba Polres Tangsel terbukti terlibat aktif dalam pusaran penyalahgunaan zat anestesi yang kerap disalahgunakan sebagai narkotika tersebut.
Selain AKP Pardiman, lima perwira pertama lainnya yang turut diciduk adalah Ipda Apip Kurniawan (Panit 2 Unit 1), Ipda Ndaru Wahyu Prayogo (Panit Timsus), Ipda Oki Wira Pranata (Kanit 1), Ipda Rudy (Panit Baya), dan Ipda Frandhika Pria Dwi Oktavianto (Katimsus). Penangkapan massal satu unit kerja ini menunjukkan adanya degradasi moral yang sistemik di tubuh satuan antinarkoba tersebut.
Keenam oknum polisi tersebut kini telah dilimpahkan ke Subdit Paminal Polda Metro Jaya guna menjalani pemeriksaan kode etik dan pidana lebih lanjut. Brigjen Eko menegaskan bahwa Polri tidak akan memberikan toleransi sedikit pun kepada anggotanya yang bermain-main dengan hukum, khususnya terkait penyalahgunaan narkoba.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis yang telah puluhan tahun mengawal isu hukum dan kepolisian, saya melihat skandal ini bukan sekadar kasus kenakalan oknum biasa. Ini adalah alarm bahaya yang menunjukkan kegagalan sistemik dalam pengawasan internal Polri. Bagaimana mungkin hampir seluruh jajaran inti dalam satu unit Satresnarkoba—mulai dari Kasat, Kanit, hingga Katimsus—bisa terlibat dalam penyalahgunaan zat berbahaya secara bersama-sama? Ini adalah fenomena 'pagar makan tanaman' yang sangat merusak legitimasi penegakan hukum di mata publik.
Penggunaan etomidate oleh aparat penegak hukum juga membuka tabir baru yang mengkhawatirkan. Etomidate adalah obat anestesi medis yang ketat penggunaannya. Pertanyaan besarnya adalah: dari mana para perwira ini mendapatkan pasokan obat keras tersebut? Apakah ada kebocoran dari barang bukti hasil sitaan, ataukah mereka memelihara jaringan pengedar ilegal untuk konsumsi pribadi? Jika barang bukti yang seharusnya dimusnahkan justru dikonsumsi oleh penyidiknya sendiri, maka sistem administrasi dan pengawasan barang bukti di Polres Tangsel harus diaudit total secara independen.
Pernyataan normatif dari petinggi Polri mengenai 'komitmen pemberantasan tanpa pandang bulu' sudah terlalu sering kita dengar dan kini terasa hambar. Publik tidak lagi butuh retorika. Yang kita butuhkan adalah tindakan radikal, seperti tes urine berkala yang dilakukan oleh lembaga independen di luar Polri, serta transparansi proses sidang etik hingga pidana bagi para pelaku. Jangan sampai kasus ini menguap begitu saja dengan sanksi demosi atau mutasi 'tempat basah' di kemudian hari.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo harus menyadari bahwa kepercayaan publik adalah komoditas yang sangat mahal. Ketika garda terdepan pemberantasan narkoba justru menjadi budak dari zat yang mereka perangi, maka runtuhlah wibawa hukum kita. Reformasi kultural di tubuh Polri tidak boleh berhenti pada jargon 'Presisi', melainkan harus dibuktikan dengan pembersihan besar-besaran tanpa kompromi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa itu etomidate dan mengapa disalahgunakan?
A: Etomidate adalah obat anestesi intravena non-barbiturat yang digunakan untuk induksi anestesi umum. Obat ini disalahgunakan karena efek sedatifnya yang kuat, namun sangat berbahaya jika digunakan tanpa pengawasan medis karena dapat menekan fungsi kelenjar adrenal.
Q: Siapa saja anggota Polres Tangsel yang ditangkap dalam kasus ini?
A: Ada enam anggota yang ditangkap, yaitu Kasat Narkoba AKP Pardiman, Ipda Apip Kurniawan, Ipda Ndaru Wahyu Prayogo, Ipda Oki Wira Pranata, Ipda Rudy, dan Ipda Frandhika Pria Dwi Oktavianto.
Q: Bagaimana kelanjutan proses hukum terhadap para oknum polisi tersebut?
A: Keenam oknum polisi tersebut telah diserahkan ke Subdit Paminal Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan intensif terkait pelanggaran kode etik profesi serta potensi tuntutan pidana umum.
BERITA TERKAIT (Kriminal)

Polisi Ungkap Modus Biadab Pencuri Dua Mobil Boks di Duren Sawit: Rusak Kunci dan Bakar Kabel

Miris: Bayi 20 Bulan Dinyatakan Tewas Dibunuh Ayah Tiri dan Ibu Kandung Akibat Desakan Ekonomi

Kolaborasi Warga Kunci Tersangka Ayah Tiri dan Ibu Kandung dalam Kasus Pembunuhan Bayi 20 Bulan di Jakarta Selatan
