Harga Ayam & Telur Melonjak di Jakarta: Dampak MBG dan Risiko Inflasi Pangan
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ringkasan Singkat
- Harga daging ayam ras naik rata-rata nasional menjadi Rp37.302/kg, sementara harga pasar di pasar Tebet Timur mencapai Rp40.000 per ekor (≈1 kg).
- Telur ayam ras juga naik, tercatat Rp27.294/kg secara nasional dan Rp29.000/kg di lapangan.
- Kenaikan dipicu kembali oleh Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menambah tekanan pada rantai pasok dan menurunkan margin pedagang.
Menurut data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga rata‑rata nasional daging ayam ras pada Jumat (24/7) tercatat Rp37.302 per kilogram, melampaui Harga Acuan (HA) pemerintah sebesar Rp40.000/kg. Di Jakarta, khususnya pasar Tebet Timur, pedagang melaporkan harga jual Rp40.000 per ekor dengan berat sekitar satu kilogram, naik dari Rp35.000 pekan lalu. Untuk ayam berukuran lebih besar (≈1,7 kg), harga mencapai Rp50.000 per ekor, naik dari Rp45.000.
Pedagang daging, seperti Oman, mengaitkan lonjakan ini dengan dimulainya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah‑sekolah. “Ayam sekarang saya jual Rp40 ribu per ekor… naik sejak minggu lalu karena MBG sudah mulai lagi,” ujarnya.
Telur ayam ras tidak luput dari tren naik. Harga nasional tercatat Rp27.294/kg, sementara di pasar yang sama, pedagang seperti Hamid menjualnya Rp29.000/kg, naik dari Rp24.000/kg sebelumnya. “MBG sudah ada sejak minggu kemarin, jadi distributor berebut,” tambahnya.
Sayuran juga ikut tertekan. Buncis melambung dari Rp15.000/kg menjadi Rp30.000/kg, kacang panjang dari Rp12.000/kg menjadi Rp28.000/kg, dan timun dari Rp10.000/kg menjadi Rp20.000/kg. Pedagang sayur, yang tidak menyebutkan nama, menilai margin keuntungan kini “mengecil” meski harga bawang merah, bawang putih, dan cabai relatif stabil.
Di pasar Bendungan Hilir, tren serupa terlihat. Penjual daging ayam ras, Tutiyani, menjual ayam 1,8 kg seharga Rp50.000 per ekor, naik dari Rp45.000. Telur dijual Rp28.000/kg, naik dari Rp23.000/kg. Sayur timun juga naik dua kali lipat menjadi Rp20.000/kg.
Analisis Pakar
Lonjakan harga ini bukan sekadar fluktuasi musiman; ia mencerminkan tekanan struktural pada rantai pasok pangan Indonesia. MBG memang meningkatkan permintaan institusional, namun kebijakan tersebut tidak diiringi dengan penyesuaian pasokan yang memadai. Peternak dan produsen sayur menghadapi biaya produksi yang naik – pakan ternak, bahan bakar, dan tenaga kerja – sementara kapasitas distribusi masih terbatas.
Dari perspektif makroekonomi, kenaikan harga pangan berpotensi menambah beban inflasi inti. Pemerintah telah menetapkan HA pada level yang relatif konservatif (Rp40.000/kg untuk ayam, Rp30.000/kg untuk telur), namun realisasi pasar sudah melampaui angka tersebut. Jika tren ini berlanjut, Bank Indonesia dapat terpaksa menyesuaikan kebijakan moneter untuk menahan ekspektasi inflasi, terutama menjelang periode belanja konsumen menjelang lebaran.
Bagi pelaku bisnis ritel, strategi diversifikasi produk menjadi kunci. Mengganti sebagian stok ayam dengan alternatif protein (seperti ikan atau daging olahan) dapat melindungi margin. Di sisi lain, pedagang sayur dapat memanfaatkan peluang pada komoditas yang masih stabil (bawang, cabai) untuk menyeimbangkan portofolio penjualan.
Secara jangka panjang, pemerintah perlu memperkuat mekanisme buffer stok nasional dan mempercepat program food security yang terintegrasi dengan kebijakan subsidi pakan ternak. Tanpa langkah tersebut, siklus kenaikan harga akan terus menggerogoti daya beli konsumen kelas menengah ke bawah, yang pada gilirannya dapat menurunkan pertumbuhan konsumsi domestik.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa harga ayam dan telur naik bersamaan?
A: Kedua komoditas dipengaruhi oleh peningkatan permintaan institusional lewat MBG serta kenaikan biaya produksi (pakan, energi) yang mempengaruhi peternak. - Q: Apakah Harga Acuan (HA) pemerintah dapat menahan kenaikan harga?
A: HA bersifat referensi; bila pasar melampaui HA, pemerintah biasanya menunggu intervensi pasar atau subsidi untuk menstabilkan harga. - Q: Bagaimana konsumen dapat mengurangi dampak kenaikan harga pangan?
A: Diversifikasi sumber protein, membeli dalam jumlah besar saat ada promo, dan memanfaatkan sayur yang masih stabil harganya dapat membantu mengurangi beban biaya.


