Serangan Rudal Houthi ke Dua Tanker Saudi di Laut Merah Picu Ketegangan Regional
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Milisi Houthi menembakkan rudal balistik, jelajah, dan drone ke dua tanker minyak milik Saudi Arabia di Red Sea.
- Penyerangan terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta blokade maritim yang diberlakukan Houthi sejak 20 Juli.
- Otoritas maritim UKMTO mengonfirmasi adanya proyektil tak dikenal yang menimbulkan kebakaran pada salah satu tanker, namun seluruh awak selamat.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengumumkan pada Rabu (22/7) bahwa dua kapal tanker minyak Saudi, Encelia dan Layla, diserang karena dianggap melanggar blokade yang ditetapkan oleh kelompok tersebut. Menurut pernyataan yang dikutip oleh Al Jazeera, serangan melibatkan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan drone, yang menyebabkan kebakaran pada kedua kapal.
Saudi Press Agency (SPA) mengonfirmasi kerusakan pada Encelia namun menegaskan bahwa seluruh awak kapal selamat. SPA menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional yang melindungi keselamatan kapal komersial. Tidak ada konfirmasi resmi mengenai kerusakan pada Layla.
Pada waktu yang hampir bersamaan, UKMTO melaporkan bahwa sebuah tanker mengalami tembakan tak dikenal yang memicu kebakaran, dan kapten kapal melaporkan upaya pemadaman oleh awak. Kedua laporan tersebut menambah kekhawatiran atas keamanan jalur pelayaran strategis di Laut Merah, yang kini menjadi rute utama ekspor minyak Saudi setelah ketegangan di Selat Hormuz.
Ketegangan ini muncul setelah pemerintah Yaman yang didukung Riyadh mengebom bandara Sanaa yang dikuasai Houthi pada 13 Juli. Houthi menuduh Saudi berada di balik serangan tersebut, mengingat pesawat Iran yang konon membawa pejabat Houthi ke pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai respons, Houthi memberlakukan blokade maritim pada 20 Juli, menuding Saudi melakukan "pengepungan yang tidak adil dan menindas" selama hampir satu dekade.
Analisis Pakar
Serangan ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang sudah melibatkan banyak aktor regional dan global. Dari perspektif keamanan maritim, penggunaan kombinasi rudal balistik, jelajah, dan drone menunjukkan peningkatan kemampuan teknis Houthi, yang sebelumnya lebih dikenal dengan taktik gerilya darat. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sumber teknologi dan dukungan logistik yang mungkin berasal dari Iran, mengingat hubungan historis antara kedua pihak.
Secara geopolitik, blokade Houthi terhadap kapal-kapal Saudi dapat dipandang sebagai upaya tawar-menawar dalam konteks perang proksi antara Riyadh dan Tehran. Dengan Amerika Serikat dan Iran kembali berada di ambang konfrontasi terbuka, Laut Merah menjadi arena baru di mana kepentingan energi, jalur perdagangan, dan pengaruh regional bersaing. Jika konflik ini meluas, dampaknya tidak hanya pada harga minyak global, tetapi juga pada keamanan rantai pasokan barang-barang penting yang melewati jalur pelayaran ini.
Di sisi hukum internasional, serangan terhadap kapal komersial melanggar Konvensi Internasional tentang Hukum Laut (UNCLOS) dan prinsip kebebasan navigasi. Namun, penegakan hukum di wilayah yang diperebutkan secara militer sangat sulit, terutama ketika pihak-pihak yang terlibat tidak mengakui otoritas internasional. Ini menimbulkan dilema bagi badan-badan seperti PBB dan Organisasi Maritim Internasional dalam merespons
