Pramono Anung Serahkan Penilaian ke Publik Atas Pujian Prabowo 'Gubernur Hebat'
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menolak terjebak euforia pujian Presiden Prabowo Subianto yang menyebutnya "gubernur hebat" saat meresmikan LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai, Rabu (16/9) lalu. Di hadapan wartawan di Jakarta Pusat, Kamis (17/9), Pramono dengan tegas menyerahkan penilaian kinerjanya sepenuhnya kepada warga.
"Kalau dipuji, itu nanti biar publik lah yang menilai," ucap Pramono singkat, menutup ruang spekulasi soal hubungan politik yang hangat antara keduanya. Sikap rendah hati itu kontras dengan nada Prabowo yang penuh apresiasi di hadapan undangan di Stasiun LRT Manggarai, Jakarta Selatan, kemarin sore.
Dalam pidatonya, Prabowo tidak segan mengakui pencapaian rekan seperjuangan di PDIP itu. "Intinya selamat, terima kasih, Gubernur. Saya harus akui kalau ada gubernur yang hebat, ya saya akui dia hebat," tegas Kepala Negara itu. Pujian itu dilontarkan di tengah sambutan hangat hadirin yang menyaksikan peresmian LRT Jakarta rute terbaru tersebut.
Prabowo melangkah lebih jauh, menyoroti perbedaan latar belakang partai sebagai non-isu. "Walaupun bukan dari partai saya. Tapi, ini harus mendorong partai-partai lain, ya kan? Ya kerja yang benar dong!" ujarnya dengan nada tekak yang khas. Instruksi itu jelas mengarahkan partai-partai koalisi untuk menjadikan kinerja DKI Jakarta sebagai tolok ukur.
Respons Pramono keesokan harinya menunjukkan kesadaran akan beban tugas yang lebih berat dari sekadar pujian protokoler. Ia hadir di tengah tekanan nyata: banjir musiman, kemacetan parah, hingga kesejahteraan warga miskin kota. Pramono Anung tampak sadar, label "hebat" harus dibuktikan dengan hasil lapangan, bukan retorika di panggung peresmian.
Dinamika ini memicu pembacaan baru soal hubungan pusat-daerah di era Prabowo-Gibran. Sinergi yang ditampilkan bukan sekadar formalitas, tapi sinyal politik bahwa kinerja nyata di atas kepentingan partai. Publik Jakarta, yang kritis dan tidak maaf, kini memegang kartu penentu apakah label "gubernur hebat" itu layak disandang atau hanya jargon sesaat.
Analisis Redaksi
Pujian Prabowo kepada Pramono bukan sekadar sopan santun antarpemimpin, tapi pengakuan strategis bahwa model kerja DKI Jakarta layak dijadikan benchmark nasional. Namun, bagi wartawan yang sudah dua dekade mengawasi dinamika kota ini, kata "hebat" itu berat. Pramono cerdas tidak memetik buah yang belum masak; ia melempar bola ke lapangan publik—tempat di mana ia dipilih dan tempat di mana ia akan dinilai pada akhir masa jabatannya.
Yang perlu diwaspadai: apakah sinergi ini akan berujung pada kebijakan konkret yang menguntungkan warga, misalnya percepatan proyek MRT Fase 2, penanganan banjir struktural, hingga penyediaan rumah susun yang terjangkau. Langkah logis selanjutnya bukan lagi soal puji-pujian, tapi realokasi anggaran dan pelonggaran birokrasi pusat yang sering jadi hambatan gubernur sebelumnya. Jika Prabowo serius dengan instruksi "kerja yang benar", maka kemudahan izin dan aliran dana dari pusat ke DKI harus terlihat dalam kuartal dekat ini.