TelkomGroup Guncang Industri dengan Culture Festival 2026: Budaya Perusahaan Jadi Katalis Transformasi Bisnis
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- TelkomGroup selenggarakan Culture Festival 2026 dengan tema “Unshaken”, menekankan peran CultureAgent dan CultureBooster dalam mendorong transformasi.
- Direktur Human Capital Management Willy Saelan menegaskan bahwa budaya yang konsisten mengalahkan strategi di atas kertas.
- Empat unit kerja, termasuk Telin, raih penghargaan Culture Award, menandakan dampak positif budaya terhadap kinerja bisnis.
Jakarta, 22 Juli 2026 – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) kembali menggelar Culture Agent/Culture Booster Meet & Greet (CAMG) sebagai puncak rangkaian Culture Festival TelkomGroup 2026. Mengusung tema “Unshaken: Keeping Culture Relatable When Everything Shifts”, acara ini menyoroti bagaimana budaya perusahaan dapat menjadi pondasi stabil di tengah gejolak digital dan ekonomi.
Acara dihadiri senior leaders yang dijadikan role model serta ribuan Culture Agent dan Culture Booster dari seluruh unit kerja TelkomGroup. Mereka diajak menginternalisasi nilai‑nilai inti sebagai agen perubahan, sekaligus memberikan dukungan konkret pada agenda transformasi grup.
Panel diskusi menampilkan perwakilan dari Witel, Regional, dan Operating Company (OpCo) yang berbagi praktik terbaik dalam menanamkan budaya di lapangan. Sesi khusus menghadirkan Adjie Santosoputro, Mindfulness Practitioner dari Santosa Indonesia, serta Choky Sitohang, Founder & CEO Choky Sitohang Speaking Incorporation (ChoSSI). Kedua narasumber menekankan pentingnya ketangguhan mental, rasa hormat timbal balik, dan adaptasi budaya agar tetap relevan.
“Strategi sehebat apa pun akan runtuh bila budaya organisasi tidak mendukung. Culture eats strategy for breakfast,” ujar Willy Saelan. “Kita harus menjadikan budaya bukan sekadar slogan, melainkan perilaku harian yang menggerakkan nilai‑nilai bisnis.”
Setelah serangkaian Culture Assessment, Telkom mengumumkan Culture Award: Best Corporate Culture Implementation dalam rangkaian peringatan HUT ke‑61. Pemenang kategori meliputi Witel Suramadu, Telkom Regional 2, Enterprise Business Strategy, Divisi Wholesale Service, dan PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin). Penghargaan ini menegaskan korelasi positif antara konsistensi budaya dan kinerja keuangan, terutama dalam meningkatkan margin operasional dan retensi pelanggan.
Penghargaan Best Culture Agent/Culture Booster juga diberikan kepada individu yang menunjukkan komitmen tinggi selama 2025, menandai langkah strategis Telkom dalam menggerakkan human capital sebagai aset utama dalam era digital.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro dan pengamat industri telekomunikasi, saya melihat dua implikasi bisnis utama dari inisiatif budaya Telkom ini. Pertama, konsistensi budaya menjadi faktor penentu dalam eksekusi strategi digital. Di tengah persaingan sengit dengan pemain OTT dan penyedia layanan cloud, kemampuan Telkom untuk menggerakkan tim lintas fungsi secara selaras dengan nilai inti akan mempercepat peluncuran produk baru, mengurangi time‑to‑market, dan menurunkan biaya operasional. Kedua, penghargaan internal seperti Culture Award berfungsi sebagai mekanisme incentive alignment yang mengikat kinerja individu dengan tujuan korporasi, sehingga mengurangi gap antara target finansial dan realisasi di lapangan.
Namun, tantangan tetap ada. Budaya yang “hidup” di level manajemen belum tentu meresap ke level front‑line, terutama di unit‑unit yang beroperasi di daerah dengan tingkat digitalisasi rendah. Telkom perlu mengintegrasikan metrik budaya ke dalam KPIs keuangan—misalnya, mengaitkan NPS (Net Promoter Score) atau churn rate dengan skor budaya unit. Pendekatan kuantitatif ini akan memberi investor kejelasan tentang ROI (Return on Investment) dari program budaya.
Selanjutnya, dalam konteks makroekonomi Indonesia yang sedang beralih ke ekonomi digital, Telkom dapat memanfaatkan budaya “unshaken” sebagai nilai jual kepada regulator dan mitra strategis. Kemampuan menampilkan stabilitas internal akan memperkuat posisi tawar dalam tender infrastruktur 5G, fiber, dan layanan cloud, yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan non‑telco dan diversifikasi bisnis.
Kesimpulannya, Culture Festival 2026 bukan sekadar acara internal, melainkan strategi diferensiasi kompetitif yang dapat meningkatkan profitabilitas jangka panjang Telkom jika diukur dan diintegrasikan secara sistematis ke dalam kerangka manajemen kinerja.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa tujuan utama Culture Festival TelkomGroup 2026?
A: Menguatkan implementasi budaya perusahaan sebagai pendorong utama transformasi digital dan meningkatkan kolaborasi lintas unit. - Q: Siapa saja yang menerima penghargaan Culture Award tahun ini?
A: Witel Suramadu, Telkom Regional 2, Enterprise Business Strategy, Divisi Wholesale Service, dan PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin) sebagai pemenang utama. - Q: Bagaimana budaya perusahaan dapat memengaruhi kinerja finansial Telkom?
A: Budaya yang konsisten meningkatkan eksekusi strategi, menurunkan biaya operasional, mempercepat peluncuran produk, dan pada akhirnya meningkatkan margin serta retensi pelanggan.
