UNAND Rilis Pasta Fungsional Berbasis Cassava dan Labu: Inovasi Lokal yang Siap Guncang Industri Pangan
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

Kota Padang, 15 Juli 2026 – Universitas Andalas (Unand) kembali menegaskan perannya sebagai motor riset pangan nasional dengan meluncurkan prototipe pasta fungsional yang memanfaatkan tiga komoditas unggulan Sumatera Barat: labu kuning, kedelai, dan kolang‑kaling, serta ekstrak cassava (cassiavera) dan bawang dayak. Inisiatif ini tidak sekadar menambah variasi produk kuliner, melainkan mengusung agenda strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus menjawab tantangan kesehatan masyarakat.
Ketua Tim Peneliti Fakultas Teknologi Pertanian Unand, Fauzan Azima, menjelaskan bahwa pasta tersebut dirancang berdasarkan profil bioaktif masing‑masing bahan. Labu kuning dipilih karena kandungan beta‑karoten dan serat pangan yang tinggi; kedelai menyumbang protein nabati serta isoflavon; kolang‑kaling memberikan galaktomanan yang berpotensi mengatur metabolisme glukosa. Kombinasi ini diperkaya dengan ekstrak cassava, komoditas yang menyumbang lebih dari 85 % pasokan dunia, serta bawang dayak yang kaya polifenol, flavonoid, dan senyawa fenolik lainnya.
"Cassava selama ini lebih banyak diekspor sebagai bahan mentah. Kami ingin mengubah paradigma itu menjadi produk bernilai tinggi yang dapat berkontribusi pada kesehatan kardiovaskular," ujar Fauzan dalam konferensi pers di Padang, Rabu (15/7). Penelitian pra‑klinis yang melibatkan model hewan menunjukkan penurunan signifikan pada tekanan darah sistolik, menandakan potensi anti‑hipertensi yang layak dieksplorasi lebih lanjut.
Proyek ini merupakan bagian dari International Research Network yang melibatkan kolaborator dari Amerika Serikat, Jepang, dan Filipina. Melalui jaringan tersebut, Unand berharap dapat mengakses teknologi pengolahan mutakhir, standar keamanan pangan internasional, serta jalur distribusi yang lebih luas. Jika berhasil, pasta fungsional ini dapat menjadi contoh produk “lokal‑global” yang mengangkat citra Indonesia di pasar premium.
Namun, tantangan tidak hanya bersifat teknis. Pengembangan produk berbasis cassava dan bahan tradisional memerlukan regulasi yang jelas, dukungan kebijakan industri, serta mekanisme pemasaran yang mampu menjangkau konsumen urban yang semakin sadar akan manfaat kesehatan. Tanpa sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri, inovasi ini berisiko terhenti pada laboratorium.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis senior investigasi, saya melihat dua dimensi kritis dalam inisiatif Unand ini. Pertama, keterbatasan rantai pasok. Meskipun Sumatera Barat menguasai mayoritas produksi cassava nasional, petani kecil masih menghadapi hambatan akses ke pasar formal, harga yang fluktuatif, dan kurangnya pelatihan pengolahan pasca‑panen. Tanpa mekanisme yang mengamankan pendapatan petani, skala produksi pasta fungsional dapat terhambat oleh ketidakstabilan bahan baku.
Kedua, regulasi dan standar keamanan pangan. Produk fungsional harus melewati uji klinis yang ketat sebelum dapat dipasarkan sebagai suplemen kesehatan. Saat ini, regulasi Indonesia masih terfragmentasi antara BPOM, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kesehatan. Kegagalan sinkronisasi kebijakan dapat menunda komersialisasi, atau bahkan menimbulkan risiko kesehatan bila klaim manfaat tidak terbukti secara ilmiah.
Ketiga, potensi pasar. Konsumen Indonesia masih sangat sensitif terhadap harga. Pasta fungsional yang mengandung bahan premium seperti cassava ekstrak dan bawang dayak kemungkinan akan memiliki harga jual di atas rata‑rata produk pasta konvensional. Untuk menjadikan produk ini massal, diperlukan strategi subsidi atau model bisnis yang mengintegrasikan nilai tambah bagi petani, produsen, dan konsumen akhir.
Keempat, peran pemerintah daerah. Dinas Pertanian Sumatera Barat dan Dinas Kesehatan harus berkolaborasi dalam menciptakan ekosistem inovasi yang berkelanjutan—mulai dari penyediaan lahan percobaan, pelatihan teknis, hingga promosi produk di pasar domestik dan internasional. Tanpa dukungan kebijakan yang konkret, inovasi akademik berisiko menjadi “projek lab” yang tak pernah terwujud di lapangan.
Jika Unand dapat mengatasi hambatan‑hambatan tersebut, pasta fungsional ini bukan hanya sekadar produk kuliner baru, melainkan katalisator transformasi ekonomi agrikultur Sumatera Barat. Keberhasilan akan menegaskan bahwa Indonesia mampu mengkonversi komoditas tradisional menjadi barang bernilai tinggi, sekaligus memberikan kontribusi nyata pada agenda kesehatan nasional.
BERITA TERKAIT

Dukungan Buruh ke Prabowo: Antara Harapan dan Skeptisisme di Tengah Perang Korupsi

Sidang Banding Nadiem Makarim: 10 Tahun Penjara, Denda Rp1 Miliar, dan Kontroversi Putusan Pengadilan Tipikor
