Proyek PSEL Tahap II: Investasi Rp 25 Triliun, 8 Konsorsium Internasional Siap Bangun Fasilitas Energi Sampah di Indonesia

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Proyek PSEL Tahap II: Investasi Rp 25 Triliun, 8 Konsorsium Internasional Siap Bangun Fasilitas Energi Sampah di Indonesia
BAGIKAN:

Danantara mengumumkan penunjukan delapan mitra konsorsium untuk mengembangkan dan mengelola fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) tahap II di delapan lokasi strategis. Direktur Investasi PT Danantara Investment Management sekaligus CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), Fadli Rahman, menyebutkan nilai proyek per lokasi berkisar antara Rp 3‑3,5 triliun, sehingga total investasi mencapai Rp 24‑25 triliun.

Pemilihan konsorsium dilakukan melalui seleksi ketat dari 85 perusahaan yang lolos tahap penyaringan pada Mei lalu. Konsorsium terpilih merupakan gabungan antara perusahaan asing—dari Prancis, Jepang, dan Cina—dengan mitra lokal, menandakan sinergi teknologi internasional dan kapasitas domestik.

Berikut daftar konsorsium yang akan mengerjakan proyek PSEL di masing‑masing lokasi:

  • SUEZ‑IAN Consortium (SUEZ Insan Asia) – Medan Raya
  • Consortium Everbright Cemerlang Energy (Everbright Harmoni) – Kabupaten Bekasi
  • Bumi Biru Indonesia (SUS Indoplas) – Lampung Raya
  • Masa Depan Energi Indonesia (Chandra Waste Energy BGE) – Serang Raya
  • Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd (Veolia) – Semarang Raya
  • Consortium Mentari Citra Lestari (Bakrie Power SUS) – Surabaya Raya
  • MPM‑CEVIA Consortium (Mega Power CEVIA) – Bogor Raya 2
  • Cakra Energi Lestari Consortium (Pertamina NRE Tianjin CITICC) – Yogyakarta Raya

Semua fasilitas akan mengadopsi standar emisi Eropa, sejalan dengan proyek PSEL di Denpasar Raya yang mulai dibangun pada 8 Juli 2026. Fadli menegaskan bahwa proses konstruksi akan dipantau secara ketat melalui tim khusus yang akan melaporkan perkembangan secara berkala kepada seluruh pemangku kepentingan.

CEO PT Danantara Investment Management, Pandu Patria Sjahrir, menambahkan bahwa empat konsorsium dipimpin oleh perusahaan Indonesia, dua oleh perusahaan Prancis, dan dua lagi oleh perusahaan Cina. Kolaborasi ini tidak hanya mempercepat implementasi proyek, tetapi juga menjadi katalisator transfer teknologi, memperkuat kapasitas nasional, dan menggerakkan ekosistem industri pengelolaan sampah di Indonesia.

Analisis Pakar

Penunjukan delapan konsorsium dengan dukungan teknologi asing menandai titik balik penting dalam upaya Indonesia mengatasi krisis sampah sekaligus memperluas bauran energi terbarukan. Dengan total investasi mendekati Rp 25 triliun, proyek ini akan menjadi salah satu investasi infrastruktur terbesar di sektor energi hijau tahun ini. Transisi energi yang didorong oleh proyek ini dapat menstimulasi pertumbuhan sektor konstruksi, manufaktur komponen energi, serta layanan profesional (audit, legal, dan konsultasi) yang mendukung proyek berskala besar.

Namun, keberhasilan proyek tidak hanya bergantung pada besarnya dana, melainkan pada kemampuan koordinasi lintas‑sektor antara pemerintah, regulator, dan konsorsium. Standar emisi Eropa yang diadopsi menuntut kepatuhan ketat terhadap regulasi lingkungan, yang pada gilirannya dapat memicu pembentukan standar nasional yang lebih tinggi. Ini membuka peluang bagi perusahaan lokal untuk mengembangkan kompetensi teknis, khususnya dalam bidang solusi energi terbarukan berbasis biomassa dan teknologi gasifikasi.

Risiko utama tetap pada potensi bottleneck logistik dan perizinan, terutama di daerah yang belum memiliki infrastruktur pendukung. Pemerintah perlu memastikan bahwa proses perizinan dipercepat tanpa mengorbankan standar lingkungan, serta menyediakan insentif fiskal yang memadai untuk mengurangi beban biaya modal. Jika hal ini terkelola dengan baik, proyek PSEL tahap II dapat menjadi model bagi replikasi di provinsi lain, mempercepat pencapaian target 23% energi terbarukan dalam bauran energi nasional pada 2029.

Secara keseluruhan, proyek ini bukan sekadar konversi sampah menjadi listrik; ia merupakan motor pertumbuhan ekonomi hijau yang dapat menggerakkan ribuan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi, serta mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan pengawasan yang ketat dan sinergi antara pemain internasional dan domestik, Indonesia berada pada posisi yang sangat menguntungkan untuk menjadi regional hub teknologi pengelolaan sampah dan energi terbarukan.