Empat Kontroversi Mengguncang Perjalanan Argentina ke Semifinal Piala Dunia 2026: Drama, VAR, dan Kejutan Messi!
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Argentina kembali menorehkan jejak dramatis di Piala Dunia 2026. Sang juara bertahan, dipimpin oleh Lionel Messi yang kini berusia 39 tahun, harus melewati serangkaian kontroversi yang menegangkan sebelum menembus semifinal. Dari keputusan wasit yang dipertanyakan hingga intervensi VAR yang memicu perdebatan, setiap langkah Albiceleste dipenuhi ketegangan yang membuat para penggemar berdebar.
1. Laga pembuka melawan Aljazair – ‘Betis Messi’ menjadi sorotan
Saat Argentina menjajaki grup pertama, Messi dituduh menginjak betis bek Aljazair, Aissa Mandi. Namun, wasit tidak mengeluarkan kartu atau bahkan memberi peringatan. Insiden ini langsung menjadi viral di media sosial, dengan warganet membandingkannya dengan kasus serupa di mana pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun, langsung menerima kartu merah. Kritik keras mengalir, menuntut keadilan yang seolah tak datang.
2. Kontroversi di fase grup melawan Austria
Argentina kembali berada di pusat perhatian ketika gol pertama Messi melawan Austria dipertanyakan. Alexis Mac Allister tampak menjegal pemain Austria, Xaver Schlager, namun tidak ada pelanggaran yang dicatat. Keputusan ini menambah daftar keluhan publik yang menuduh adanya bias terhadap tim juara tiga kali dunia.
3. Babak 32 besar melawan Cape Verde – tiga insiden dalam satu pertandingan
Pertandingan melawan Cape Verde menjadi arena tiga kontroversi sekaligus. Pertama, kiper Cape Verde, Vozinha, sedang menyiapkan pagar betis ketika Messi bergegas menyepak bola, namun bola tetap meluncur ke gawang. Kedua, tangan Facundo Medina menyentuh bola dalam serangan balik Cape Verde, namun wasit menolak untuk menganggapnya handball. Ketiga, Nicolas Tagliafico kembali ke lapangan tanpa menunggu prosedur medis yang seharusnya, menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi aturan.
4. Pertarungan sengit melawan Mesir di 16 besar
Laga ini menjadi sorotan utama ketika VAR membatalkan gol Mostafa Ziko karena pelanggaran sebelum bola masuk. Selanjutnya, Alexis Mac Allister dituduh menarik baju Hamdy Fathy, namun tidak ada tinjauan VAR. Lebih mengejutkan lagi, Julian Alvarez menjatuhkan Mohamed Salah di dalam kotak penalti tanpa intervensi VAR. Argentina berhasil bangkit dari ketertinggalan 0-2 menjadi pemenang 3-2, namun kontroversi tetap menggelayuti setiap detik pertandingan.
5. Perempat final melawan Swiss – keputusan kartu merah yang memicu perdebatan
Di menit ke-72, Breel Embolo menerima kartu merah setelah VAR mengubah kartu kuning awal yang diberikan kepada Leandro Paredes. Keputusan ini menurunkan jumlah pemain Swiss menjadi 10, menambah lagi daftar keputusan yang dipertanyakan oleh para analis dan fans.
Analisis Pakar
Sebagai pengamat olahraga yang telah menyaksikan ribuan pertandingan, saya melihat pola yang lebih dalam dari sekadar sekadar kontroversi. Pertama, tekanan luar biasa yang dihadapi Argentina sebagai juara tiga kali dunia menciptakan "kaca pembesar" bagi setiap keputusan wasit. Setiap sentuhan, setiap pelanggaran kecil, bahkan setiap prosedur medis menjadi bahan bakar bagi narasi yang menuntut keadilan. Ini bukan sekadar bias, melainkan dinamika psikologis antara otoritas pertandingan dan ekspektasi publik.
Kedua, peran VAR di turnamen ini tampak tidak konsisten. Pada satu sisi, VAR dengan tegas membatalkan gol Mesir, namun pada sisi lain, ia mengabaikan handball yang melibatkan Facundo Medina dan tidak meninjau insiden yang melibatkan Julian Alvarez. Ketidakkonsistenan ini membuka peluang bagi tim-tim yang merasa dirugikan untuk mengajukan protes resmi, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi reputasi FIFA dalam mengelola turnamen berskala global.
Ketiga, keberhasilan Messi yang masih mencetak delapan gol di usia hampir 40 tahun patut diacungi jempol. Namun, pencapaian luar biasa ini tidak menghilangkan fakta bahwa timnya harus berjuang melawan persepsi negatif. Kritik publik yang menyoroti setiap keputusan wasit dapat memengaruhi moral pemain, terutama pada fase knockout yang menuntut konsentrasi tinggi. Di sinilah pentingnya kepemimpinan Lionel Scaloni untuk menjaga fokus tim dan mengubah energi negatif menjadi motivasi.
Ke depan, jika Argentina melaju ke final, mereka tidak hanya akan berhadapan dengan lawan di lapangan, tetapi juga dengan "lawannya" di luar lapangan: opini publik, media sosial, dan keputusan teknis yang masih dipertanyakan. Saya memprediksi bahwa tim yang mampu mengelola tekanan psikologis ini, sambil tetap menampilkan taktik menyerang yang tajam, akan memiliki peluang terbesar untuk menambah gelar juara dunia. Dan bagi para penggemar, drama ini justru menambah rasa cinta pada sepak bola – karena di balik setiap kontroversi, ada cerita heroik yang menunggu untuk ditulis.
BERITA TERKAIT

Skandal Seksual di USU: 10 Mahasiswa FEB Resmi Laporkan, Mahasiswa Angkatan 2025 Dituduh Lakukan VCS & Pemerasan

Jannik Sinner Pertahankan Gelar Wimbledon 2026, Jadi Petenis ke-10 yang Menaklukkan Era Open
