Waspada! Tanda TBC pada Anak Bisa Tersembunyi di Balik Penurunan Berat Badan

Kesehatan
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Waspada! Tanda TBC pada Anak Bisa Tersembunyi di Balik Penurunan Berat Badan
BAGIKAN:

Infeksi tuberkulosis (TB) pada anak tidak selalu menampakkan gejala klasik seperti batuk berdahak yang umum pada orang dewasa. Menurut Dr. Madeleine Ramadhani Jasin, Sp.A, Subspesialis Respirasi (K) dari Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penurunan atau stagnasi berat badan selama tiga bulan berturut‑turut menjadi indikator penting yang sering terlewatkan.

Gejala yang tidak terduga: Pada anak, sistem imun yang masih berkembang dapat menutupi gejala pernapasan, sehingga orang tua sering kali hanya melihat anak tidak bertambah berat meski pola makan sudah diperbaiki. Kondisi ini menandakan tubuh sedang berjuang melawan bakteri Mycobacterium tuberculosis tanpa menimbulkan gejala pernapasan yang jelas.

Penelitian klinis menunjukkan bahwa weight loss atau kegagalan pertumbuhan pada anak-anak dapat menjadi sinyal alarm pertama bagi dokter untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti tes tuberkulin (Mantoux) atau rontgen dada. Tanpa deteksi dini, risiko komplikasi serius—seperti TB meningitis atau TB milier—meningkat secara signifikan.

Oleh karena itu, para orang tua disarankan untuk memantau pola pertumbuhan anak secara rutin, terutama pada rentang usia 0‑5 tahun. Jika berat badan anak tidak naik selama lebih dari dua bulan meski asupan nutrisi sudah optimal, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk skrining TB.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa masalah ini bukan sekadar kurangnya pengetahuan orang tua, melainkan kegagalan sistem kesehatan dalam menyebarluaskan informasi yang tepat. Pemerintah dan lembaga kesehatan harus mengintegrasikan edukasi tentang tanda‑tanda non‑klinis TB anak ke dalam program imunisasi rutin, sehingga tenaga kesehatan dapat mengidentifikasi kasus sejak dini.

Selain itu, data epidemiologi TB anak di Indonesia masih terfragmentasi. Tanpa basis data yang terpusat, kasus yang terdeteksi lewat penurunan berat badan sering kali tidak tercatat, sehingga angka prevalensi yang sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi. Diperlukan investasi dalam sistem pelaporan digital yang terhubung langsung dengan puskesmas dan rumah sakit.

Jika tidak ada langkah konkret, kita akan terus melihat anak-anak yang seharusnya dapat diselamatkan dari penyakit mematikan ini terabaikan. Kebijakan yang menekankan pada skrining gizi sebagai pintu masuk deteksi TB dapat menjadi terobosan, mengingat Indonesia masih berada di peringkat tinggi dunia dalam beban TB.

Ke depan, kolaborasi antara dokter anak, ahli respirasi, dan lembaga kebijakan kesehatan harus memperkuat protokol skrining gizi‑TB, serta meningkatkan pelatihan bagi tenaga medis di daerah terpencil. Hanya dengan pendekatan multidisiplin, kita dapat memutus rantai penularan dan mengurangi beban TB pada generasi muda.