FIFA Tegaskan Tidak Ada Sentuhan Kabel pada Gol Inggris vs Norwegia: Kontroversi Teknologi dan Keputusan VAR

Olahraga
Dimas PratamaDimas Pratama
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

FIFA Tegaskan Tidak Ada Sentuhan Kabel pada Gol Inggris vs Norwegia: Kontroversi Teknologi dan Keputusan VAR
BAGIKAN:

JAKARTA (ANTARA) – Pada laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Norwegia, gol penyeimbang Jude Bellingham pada menit 45+2 menjadi sorotan setelah spekulasi bahwa bola menabrak kabel kamera robotik yang tergantung di atas lapangan. FIFA kini membantah keras tuduhan tersebut, menyatakan bahwa data sensor Connected Ball tidak menunjukkan adanya "lonjakan detak jantung" yang menandakan kontak dengan objek eksternal.

Menurut pernyataan resmi FIFA yang dipublikasikan di media sosial pada Minggu (12 Juli 2026), sensor pada bola tidak mencatat perubahan fisik apa pun ketika bola berada di udara. "Tidak ada bukti bahwa bola menyentuh kabel di atas lapangan dan mengubah arah pergerakan bola," bunyi kutipan tersebut. Dengan demikian, pertandingan tetap berjalan tanpa interupsi, dan gol Bellingham sah berujung 2-1 untuk Inggris.

Insiden itu bermula ketika tendangan gawang kiper Norwegia, Ørjan Nyland, tampak berubah arah secara misterius. Beberapa penonton dan komentator mengira bola menabrak salah satu kabel yang menopang kamera Hawk‑Eye di atas lapangan. Nyland, yang tampak frustrasi, memukul permukaan lapangan dan kemudian bersama penyerang Erling Haaland serta pelatih Ståle Solbakken mendekati wasit Prancis, Clement Turpin, untuk menanyakan keputusan.

Solbakken kemudian mengeluarkan pernyataan pasca pertandingan: "Dia mengatakan bahwa dia sendiri tidak melihatnya dan tidak menerima pesan bahwa itu benar-benar terjadi. FIFA mengatakan tidak ada sentuhan dan tidak ada sinyal dari chip di dalam bola, jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi bola itu jatuh lurus ke bawah. Bola itu memang menyentuhnya." Meskipun menegaskan bahwa insiden tersebut bukan penyebab utama kekalahan, pernyataan pelatih menambah keraguan publik terhadap transparansi teknologi dalam sepak bola modern.

Peraturan FIFA menyebutkan bahwa bila bola menyentuh kabel atau benda asing di atas lapangan, permainan harus dihentikan dan dilanjutkan dengan drop ball. Namun, karena sensor tidak mengirimkan sinyal apapun, wasit tidak menghentikan permainan. Hingga akhir laga, tidak ada bukti bahwa asisten VAR, Jerome Brisard, meninjau kembali insiden tersebut.

Kasus ini mengingatkan pada kontroversi serupa yang terjadi pada Piala Dunia 2026 sebelumnya, ketika sensor Connected Ball membatalkan gol Kroasia melawan Portugal karena mendeteksi kontak dengan pemain Kroasia yang menimbulkan posisi offside. Di perempat final lain, gol Mesir melawan Argentina dibatalkan setelah VAR menilai pelanggaran Marwan Attia terhadap Lisandro Martínez.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat dua hal penting yang terlewatkan dalam penanganan insiden ini. Pertama, ketergantungan berlebihan pada data sensor tanpa verifikasi visual dapat menimbulkan celah kebijakan. Sensor Connected Ball memang canggih, namun tidak menutup kemungkinan kegagalan teknis atau interferensi elektromagnetik yang tidak terdeteksi. FIFA seharusnya mengaktifkan prosedur backup, misalnya meninjau rekaman multi‑kamera secara real‑time, terutama ketika ada indikasi visual yang kuat.

Kedua, transparansi proses VAR masih jauh dari standar akuntabilitas publik. Tidak ada catatan resmi apakah VAR meninjau insiden tersebut, dan tidak ada rekaman keputusan yang dirilis. Ini menimbulkan persepsi bahwa keputusan diambil secara sepihak, memperparah kecurigaan bahwa federasi melindungi kepentingan tim besar. Dalam era digital, federasi harus menyediakan log lengkap, termasuk timestamp sensor, rekaman audio‑visual, dan keputusan VAR, yang dapat diakses oleh publik atau setidaknya oleh badan pengawas independen.

Jika FIFA tidak segera memperbaiki mekanisme verifikasi dan transparansi, kepercayaan publik terhadap integritas kompetisi internasional akan terus tergerus. Teknologi seharusnya menjadi penjamin keadilan, bukan alat yang menutupi ketidakjelasan. Ke depannya, saya memperkirakan akan muncul tekanan dari asosiasi pemain, media, dan bahkan sponsor untuk menuntut standar audit independen atas semua data sensor dan keputusan VAR. Tanpa reformasi ini, kontroversi serupa akan terus menghantui turnamen besar, mengurangi nilai sportivitas yang seharusnya menjadi inti sepak bola.