Drama Perempat Final Piala Dunia 2026: Tiga Raksasa Tersingkir & Duel Epik Argentina vs Swiss!

Olahraga
Eka SaputraEka Saputra
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Drama Perempat Final Piala Dunia 2026: Tiga Raksasa Tersingkir & Duel Epik Argentina vs Swiss!
BAGIKAN:

Perempat final Piala Dunia 2026 telah menyuguhkan aksi yang menegangkan, mengukir sejarah baru di panggung sepak bola paling bergengsi. Tiga tim raksasa sudah dipastikan melenggang ke luar kompetisi, meninggalkan ruang bagi dua kontestan yang masih berjuang meraih tiket semifinal.

Norwegia menutup babak mereka setelah terjepit oleh Inggris dalam duel 120 menit yang berlangsung di Stadion Miami pada Sabtu (11/7) atau Minggu (12/7). Pertandingan dimulai dengan tembakan keras Andreas Schjelderup pada menit ke‑36, yang memberi Norwegia keunggulan tipis. Namun, Jude Bellingham dari Real Madrid menegaskan kelasnya dengan mencetak gol pada injury time babak pertama (45+2) dan menambah satu lagi pada menit ke‑93 di extra time, memanfaatkan bola muntah lawan. Kemenangan Three Lions berakhir 2‑1, menandai keluarnya Norwegia dari kompetisi.

Sementara itu, Belgia harus menelan kekalahan melawan Spanyol dengan skor 2‑1 di Stadion SoFi pada Kamis (10/7). Pertandingan berlangsung sengit, namun serangan cepat ala Pedri dan Alvaro Morata berhasil menembus pertahanan Belgia, sementara gol balasan Belgia tidak cukup untuk mengubah hasil akhir.

Tim pertama yang tereliminasi adalah Maroko, yang kalah 0‑2 dari Prancis pada Rabu (9/7). Penyerangan Kylian Mbappé dan Antoine Griezmann menguasai lini tengah, memaksa Maroko terdesak dan tak mampu menembus pertahanan Prancis yang rapat.

Dengan tiga tim sudah melayang, sisa satu perempat final yang belum terpecahkan mempertemukan Argentina melawan Swiss. Kedua tim akan bertarung di Stadion Atlanta, Amerika Serikat, pada Sabtu (11/7) atau Minggu (12/7) pagi WIB. Pemenang akan melaju ke semifinal, sementara yang kalah akan menutup mimpi mereka di turnamen paling bergengsi ini.

Analisis Pakar Dimas Pratama

Keberhasilan Inggris mengalahkan Norwegia bukan sekadar soal kebetulan; taktik gegenpressing yang diterapkan oleh Gareth Southgate berhasil menekan lawan sejak menit pertama. Bellingham, yang menjadi motor utama serangan, memanfaatkan ruang di antara lini tengah dan pertahanan Norwegia, menciptakan peluang berbahaya yang pada akhirnya berbuah gol. Di sisi lain, Norwegia tampak terlalu bergantung pada satu pemain, sehingga ketika Schjelderup tidak lagi menjadi ancaman, mereka kehilangan daya serang.

Spanyol mengungkapkan keunggulan taktis mereka melalui transisi cepat dan penguasaan bola yang tinggi. Dengan Pedri sebagai playmaker, mereka mampu mengendalikan tempo permainan, memaksa Belgia bermain defensif. Belgia, meski memiliki lini belakang yang solid, gagal menyesuaikan diri dengan perubahan ritme yang cepat, sehingga terjebak dalam tekanan terus-menerus.

Prancis menunjukkan kelas dunia dengan kombinasi serangan individu dan kolektif. Mbappé, yang kembali menunjukkan kecepatan luar biasa, menjadi ancaman konstan di sayap kanan, sementara Griezmann menambah dimensi kreatif di tengah. Maroko, meski memiliki pertahanan yang disiplin, tidak mampu menahan serangan berulang kali, terutama dalam hal penempatan posisi dan penutup ruang.

Pertarungan antara Argentina dan Swiss akan menjadi ujian taktik yang menarik. Argentina, dipimpin oleh Lionel Messi, kemungkinan akan mengandalkan kreativitas dan serangan balik cepat, sementara Swiss, yang dikenal dengan disiplin defensif dan serangan terstruktur, akan mencoba menahan tekanan dan memanfaatkan peluang dari bola mati. Saya memprediksi pertandingan ini akan berakhir dengan selisih tipis, mungkin 2‑1, dengan Messi yang menambah satu gol lagi di turnamen ini. Namun, jika Swiss dapat mengeksekusi strategi mereka dengan presisi, mereka berpotensi mengacaukan rencana Argentina dan melaju ke semifinal.