⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 27 km SSE of Tambolaka, Indonesia pada 12/7/2026, 20.20.25. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.

ANTARA Guncang Bali: Nonton Bareng Piala Dunia 2026 Jadi Magnet Sport Tourism

Olahraga
Maya SariMaya Sari
Maya Sari
Maya Sari
Wartawan Olahraga

Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

ANTARA Guncang Bali: Nonton Bareng Piala Dunia 2026 Jadi Magnet Sport Tourism
BAGIKAN:

BADUNG, 12 Juli 2026 – Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA tidak lagi sekadar menyajikan berita; kini ia menancapkan diri sebagai aktor utama dalam strategi sport tourism Bali. Pada Minggu (11/7), direktur utama ANTARA, Benny Siga Butarbutar, menandai langkah ambisius itu dengan menggelar nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 serta pameran foto jurnalistik "Negeri Bola" di kawasan elit Peninsula Island, The Nusa Dua.

Acara nobar yang menampilkan laga perempat final antara Argentina dan Swiss berlangsung di ruang terbuka hijau seluas beberapa ribu meter persegi, mengundang ribuan penonton—dari wisatawan mancanegara hingga pejabat provinsi. Gubernur Bali, Wayan Koster, hadir bersama jajaran Pemprov, menandai dukungan politik yang jelas terhadap upaya diversifikasi pariwisata pulau ini.

"ANTARA mendapat harapan untuk menjadi amplifikator dan aktor ekosistem informasi negara," ujar Benny di sela-sela sorak sorai penggemar yang mengenakan atribut tim kesayangan. Ia menegaskan bahwa peran kantor berita tidak hanya menyampaikan fakta, melainkan juga menggerakkan semangat kebangsaan lewat olahraga, sebuah bahasa universal yang dapat menyatukan beragam lapisan masyarakat.

Selama 11–24 Juli 2026, area yang sama akan menjadi panggung pameran foto jurnalistik yang menelusuri jejak sejarah sepak bola Indonesia—dari era persaingan klasik hingga era modern yang kini menatap panggung dunia. Pameran ini bukan sekadar galeri visual; ia berupaya menumbuhkan narasi sport tourism yang mengaitkan warisan budaya, ekonomi kreatif, dan industri pariwisata.

Gubernur Koster memuji inisiatif tersebut, menyebutnya "sangat mendukung sport tourism" dan menilai bahwa penyediaan ruang terbuka untuk menonton bersama menambah nilai tambah bagi wisatawan yang mengunjungi Bali bukan hanya untuk pantai, tetapi juga untuk pengalaman olahraga. "Jika pertandingan langsung juga dapat digelar di sini, saya sangat puas," tambahnya.

General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menegaskan kolaborasi BUMN ini sebagai upaya menyeimbangkan fokus sport tourism antara Mandalika dan Bali. Ia menyoroti antusiasme pengunjung yang melampaui ekspektasi, terutama mengingat kebanyakan acara serupa biasanya terbatas pada area hotel.

Seorang wisatawan asal Australia, Adrian (52), yang bersepeda dari hotel ke lokasi nobar, mengungkapkan kepuasannya: "Saya datang khusus untuk menonton, suasananya seru, orang-orangnya ramah, dan UMKM di sekitar menyediakan makanan lezat. Saya berharap acara semacam ini menjadi rutin di Bali."

Analisis Pakar

Langkah ANTARA ini menandai perubahan paradigma dalam peran media publik di Indonesia. Selama ini, kantor berita negara lebih dikenal sebagai penyampai informasi pasif; kini ia beralih menjadi catalyst pembangunan ekonomi kreatif. Dengan mengintegrasikan konten jurnalistik, event sport tourism, dan promosi UMKM, ANTARA menciptakan ekosistem sinergis yang dapat meningkatkan durasi tinggal wisatawan, memperpanjang rata‑rata pengeluaran, serta menumbuhkan citra Bali sebagai destinasi sport tourism yang kredibel.

Namun, keberhasilan inisiatif ini tidak otomatis. Tantangan utama terletak pada keberlanjutan—apakah nobar ini akan menjadi acara tahunan atau sekadar gimmick sesaat? Pemerintah provinsi harus memastikan adanya infrastruktur pendukung, regulasi yang memfasilitasi kerjasama antara BUMN, sektor swasta, dan komunitas lokal, serta mekanisme evaluasi dampak ekonomi yang transparan.

Selanjutnya, potensi konflik kepentingan antara promosi pariwisata massal dan pelestarian lingkungan harus diwaspadai. Penyelenggaraan acara di ruang terbuka hijau menuntut standar manajemen sampah, kontrol kebisingan, dan mitigasi dampak lalu lintas. Tanpa kebijakan yang tegas, upaya sport tourism dapat berbalik menjadi beban bagi ekosistem pulau yang sudah rapuh.

Terlepas dari itu, inisiatif ini membuka peluang bagi jurnalis investigatif untuk menelusuri alur dana, transparansi kontrak antara ANTARA, pemerintah, dan pihak swasta. Pertanyaan-pertanyaan kritis seperti: siapa yang menanggung biaya produksi, bagaimana pembagian keuntungan, dan sejauh mana manfaat tersebut dirasakan oleh pelaku UMKM lokal, harus dijawab secara terbuka. Hanya dengan akuntabilitas yang kuat, sport tourism Bali dapat berkembang menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain tanpa mengorbankan integritas sosial dan lingkungan.