Live‑Action “Moana”: Disney Menggandakan Nostalgia atau Menyajikan Sekadar Remake Tanpa Inovasi?

Pilih Server untuk Menonton
Pilih server dan kualitas yang sesuai dengan koneksi internet Anda.
Jakarta, 12 Juli 2026 – Disney kembali menguji formula live‑action remake dengan mengangkat kembali kisah Moana yang pertama kali memukau penonton pada 2016. Disutradarai oleh Thomas Kail, film ini menampilkan Catherine Lagaʻaia sebagai Moana dan Dwayne Johnson kembali memerankan setengah dewa Maui. Namun, di balik kilau visual tropis dan soundtrack yang diproduksi oleh Lin‑Manuel Miranda, pertanyaan kritis muncul: apakah adaptasi ini sekadar meniru animasi lama atau berhasil menambahkan nilai artistik dan kultural yang signifikan?
Plot film tetap berpegang pada struktur naratif yang sama – Moana, putri kepala suku di Pulau Motunui, menentang larangan desa untuk berlayar, kemudian dipanggil oleh laut untuk menemukan Maui dan mengembalikan “jantung” dewi Te Fiti. Semua titik penting, dari dialog hingga adegan pertempuran melawan monster laut, hampir identik dengan versi animasi. Bahkan urutan pembukaan yang menampilkan panorama laut biru dan tarian tradisional diproduksi ulang dengan cinematography yang lebih megah, namun tidak mengubah alur cerita secara fundamental.
Keputusan Disney untuk menyalin hampir seluruh skenario menimbulkan dua konsekuensi. Di satu sisi, penonton yang tumbuh bersama Moana 2016 dapat menikmati nostalgia yang terjaga, sementara visual CGI – seperti tato hidup di dada Maui atau transformasi menjadi binatang – memberi sensasi baru yang lebih “nyata”. Di sisi lain, film ini berisiko menjadi remake yang stagnan, menawarkan sedikit ruang bagi inovasi naratif atau eksplorasi budaya Polinesia yang lebih mendalam.
Segi casting juga menjadi sorotan. Catherine Lagaʻaia, aktris keturunan Samoan, berhasil menampilkan energi dan vokal yang kuat, namun aktingnya terkadang terasa terbatasi oleh skrip yang tidak memberi ruang bagi pengembangan karakter. Dwayne Johnson, meski kembali memerankan Maui dengan gaya humor khasnya, tampak terjebak dalam pola karakter yang sudah terlalu familiar – setengah dewa yang flamboyan namun kurang kedalaman emosional. Kehadiran Heihei, ayam komik, tetap menjadi elemen komedi ringan, namun tidak memberikan kontribusi signifikan pada alur.
Musik menjadi titik terang. Lagu “How Far I’ll Go” tetap menjadi anthem kebebasan, sementara lagu baru “Along The Way” menambah dimensi musikal yang segar. Namun, sebagian besar komposisi masih bergantung pada melodi yang sudah dikenal, sehingga menimbulkan rasa déjà vu bagi penonton yang mengharapkan eksplorasi musikal yang lebih eksperimental.
Opini Mendalam
Sebagai seorang jurnalis investigasi yang telah menelusuri jejak industri hiburan selama dua dekade, saya melihat Moana live‑action sebagai contoh paling jelas dari dilema Disney: antara mengejar profit lewat nostalgia dan tanggung jawab artistik untuk memperkaya cerita asal. Film ini berhasil menampilkan produksi kelas dunia – sinematografi laut yang memukau, kostum yang detail, dan efek visual yang memadukan realisme dengan sentuhan magis. Namun, keberhasilan teknis tidak menutupi kekosongan naratif yang terasa.
Disney tampaknya masih belum sepenuhnya mengerti cara mengadaptasi kisah budaya non‑Barat ke dalam format live‑action tanpa mengorbankan otentisitas. Sementara film ini menampilkan aktor keturunan Polinesia, penulisan skrip tetap dikelola oleh penulis Barat yang tidak mengangkat isu‑isu sosial‑kultural yang relevan, seperti dampak perubahan iklim terhadap pulau‑pulau kecil atau dinamika gender dalam kepemimpinan tradisional. Kesempatan untuk menjadikan Moana sebagai platform edukatif terlewatkan.
Selain itu, strategi Disney yang mengandalkan “formula sukses” – mengulang alur, dialog, dan bahkan shot‑shot tertentu – menimbulkan pertanyaan tentang kreativitas studio. Apakah perusahaan ini lebih memilih keamanan komersial daripada risiko artistik? Mengingat keberhasilan The Lion King (2019) yang menambahkan lapisan dramatis baru, Moana seharusnya dapat menelusuri jalur serupa, misalnya dengan memperdalam konflik internal Moana antara tradisi dan aspirasi pribadi, atau menampilkan perspektif Maui yang lebih kompleks.
Prediksi saya, Moana live‑action akan meraih pendapatan yang solid di box‑office, terutama di pasar Asia‑Pasifik yang menyukai visual eksotis. Namun, film ini kemungkinan akan cepat dilupakan dalam diskusi kritis tentang representasi budaya dan inovasi sinematik. Jika Disney ingin mempertahankan relevansi jangka panjang, mereka harus berani menantang diri sendiri: bukan sekadar meniru, melainkan menciptakan kembali cerita dengan rasa hormat yang lebih dalam terhadap akar budaya dan dengan keberanian naratif yang lebih besar.