⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.4 di 41 km S of Sarangani, Philippines pada 11/7/2026, 17.51.12. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.

Menghidupkan 'Harta Karun' Purba: Ambisi Fadli Zon Ubah Museum Sultra Jadi Magnet Dunia

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Menghidupkan 'Harta Karun' Purba: Ambisi Fadli Zon Ubah Museum Sultra Jadi Magnet Dunia
BAGIKAN:

KENDARI — Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, membawa misi besar dalam kunjungannya ke Museum Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Sabtu lalu. Tak sekadar kunjungan kerja formal, Menbud mendorong transformasi radikal pada wajah museum tersebut dengan mengusulkan replika lukisan cadas Liang Metanduno dari Kabupaten Muna sebagai ikon utama.

Lukisan cadas yang diperkirakan berusia 67.800 tahun ini bukan sekadar coretan purba. Berdasarkan riset kolaboratif antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan institusi internasional seperti Griffith University dan Southern Cross University Australia, temuan ini mengukuhkan posisi Sultra sebagai pemilik salah satu rekam jejak peradaban tertua di dunia. Fadli Zon menegaskan bahwa identitas kuat ini harus dipamerkan secara mencolok, baik di plafon maupun dinding museum, guna menarik minat wisatawan domestik hingga mancanegara.

"Museum harus berfungsi sebagai etalase budaya dan peradaban, bukan sekadar gudang penyimpanan benda bersejarah," tegas Fadli Zon. Ia menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam pengelolaan museum, mulai dari penataan alur pameran, optimalisasi pencahayaan, hingga peningkatan kompetensi edukator dan konservator agar museum menjadi pintu gerbang utama bagi siapa pun yang ingin mengenal Sulawesi Tenggara.

Terkait aspek finansial, Menbud memberikan sinyal bahwa pemerintah pusat akan mendukung melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik. Namun, untuk pembangunan fisik yang masif, ia mendorong adanya skema kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor swasta. Langkah ini diambil agar beban pembiayaan tidak sepenuhnya bertumpu pada APBN maupun APBD, melainkan melalui sinergi strategis yang berkelanjutan.

Analisis Redaksi: Antara Ambisi Simbolis dan Realitas Konservasi

Sebagai jurnalis senior yang telah lama mengamati dinamika kebijakan publik, saya melihat langkah Fadli Zon ini sebagai upaya branding yang agresif namun berisiko jika tidak dibarengi dengan eksekusi teknis yang presisi. Mengangkat lukisan cadas tertua di dunia sebagai 'ikon' adalah langkah cerdas secara pemasaran. Namun, kita harus bertanya: apakah sekadar memasang replika di plafon sudah cukup untuk mengangkat martabat sebuah museum yang selama ini sering dikritik karena kondisinya yang memprihatinkan?

Ada paradoks yang tajam di sini. Di satu sisi, kita memiliki klaim peradaban tertua di dunia—sebuah aset intelektual yang tak ternilai harganya—namun di sisi lain, manajemen museum daerah seringkali terjebak dalam pola pikir 'penjaga gudang'. Mengubah museum menjadi 'etalase' membutuhkan lebih dari sekadar replika lukisan; ia membutuhkan ekosistem edukasi yang hidup. Jika kualitas konservator dan edukator tidak ditingkatkan secara fundamental, replika mewah tersebut hanya akan menjadi pajangan estetis tanpa ruh edukasi, sebuah kosmetik budaya yang gagal menyentuh substansi sejarah.

Lebih jauh lagi, dorongan Menbud untuk melibatkan pihak swasta dalam pendanaan fisik adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ini adalah solusi pragmatis atas keterbatasan anggaran negara. Namun, di sisi lain, kita harus waspada terhadap potensi 'komersialisasi' ruang publik budaya. Jangan sampai kepentingan korporasi justru mendikte narasi sejarah yang ingin disampaikan. Museum adalah institusi pengetahuan, bukan mal belanja yang kebetulan menjual sejarah. Pemerintah daerah harus mampu menjaga garis tegas antara kolaborasi finansial dan independensi kuratorial.

Prediksi saya, jika transformasi ini hanya berhenti pada level 'estetika visual' tanpa perbaikan manajemen internal dan integrasi riset yang berkelanjutan, maka Museum Sultra akan tetap menjadi tempat yang hanya dikunjungi pelajar karena kewajiban sekolah, bukan karena rasa ingin tahu yang organik. Sultra memiliki modalitas sejarah yang luar biasa; namun, mengubah 'batu purba' menjadi 'magnet wisata dunia' memerlukan keberanian untuk merombak total birokrasi kebudayaan kita, bukan sekadar mengganti cat dinding atau menambah replika lukisan.