Solo Luncurkan Program #SungaiLestari: Target 1.000 Ton Sampah Dibersihkan dari Kali Premulung

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Solo Luncurkan Program #SungaiLestari: Target 1.000 Ton Sampah Dibersihkan dari Kali Premulung
BAGIKAN:

Solo, 10 Juli 2026 – Pemerintah Kota Solo bersama United Nations Development Programme (UNDP) dan inisiatif lokal Clean River resmi meluncurkan program aksi penanganan sampah berlabel #SungaiLestari di Pendapa Kecamatan Laweyan. Acara yang dihadiri pejabat daerah, perwakilan UNDP, aktivis lingkungan, serta warga setempat menandai langkah kolaboratif untuk menurunkan beban pencemaran di Kali Premulung.

Program ini menargetkan pengangkutan dan pemrosesan lebih dari seribu ton sampah yang selama ini menumpuk di sepanjang aliran sungai. Pendekatan yang diusung menekankan pada pengelolaan sampah berbasis masyarakat, dengan melibatkan warga dalam proses pemilahan, daur ulang, dan edukasi kebersihan lingkungan.

Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Solo, volume sampah yang masuk ke Kali Premulung meningkat tajam dalam lima tahun terakhir, dipicu oleh pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta kurangnya fasilitas pengelolaan sampah yang memadai. Pemerintah kota mengakui bahwa upaya sebelumnya masih bersifat reaktif, sehingga #SungaiLestari dirancang sebagai program jangka panjang yang mengintegrasikan teknologi, pendanaan internasional, dan partisipasi warga.

UNDP menyumbangkan dana hibah sebesar US$ 1,2 juta serta dukungan teknis dalam penyusunan sistem pemantauan kualitas air berbasis sensor IoT. Sementara Clean River, sebuah gerakan sukarelawan yang telah beroperasi sejak 2019, menyediakan jaringan relawan yang akan melakukan kegiatan bersih-bersih secara rutin, serta kampanye edukasi di sekolah-sekolah.

Namun, tidak semua pihak menyambut inisiatif ini dengan antusias. Beberapa tokoh masyarakat mengkritik kurangnya transparansi dalam alokasi dana dan menilai bahwa fokus pada satu sungai saja tidak cukup mengatasi masalah sampah kota secara keseluruhan. Mereka menuntut agar pemerintah memperluas program ke sungai-sungai lain dan meningkatkan infrastruktur pengolahan sampah di sumbernya.

Pengelolaan sampah berbasis komunitas memang menjanjikan, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi partisipasi warga dan keberlanjutan pendanaan. Tanpa mekanisme insentif yang jelas, risiko program ini kembali menjadi inisiatif satu kali yang berakhir setelah dana hibah habis.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat #SungaiLestari sebagai percobaan penting yang dapat menjadi model bagi kota-kota lain di Indonesia, namun sekaligus mengandung sejumlah celah strategis. Pertama, ketergantungan pada dana luar negeri menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan jangka panjang. Jika UNDP menarik dukungan setelah tiga tahun, apakah kota Solo sudah memiliki kapasitas fiskal dan operasional untuk melanjutkan program?

Kedua, pendekatan berbasis komunitas harus diimbangi dengan kebijakan regulatif yang tegas. Tanpa penegakan hukum yang kuat terhadap pembuangan sampah ilegal, upaya pembersihan akan selalu berjuang melawan arus sampah baru yang terus masuk. Pemerintah daerah perlu memperkuat regulasi, meningkatkan denda, serta memperluas jaringan tempat pembuangan akhir yang ramah lingkungan.

Ketiga, teknologi sensor IoT yang diusulkan UNDP memang dapat memberikan data real‑time tentang kualitas air, tetapi data tersebut harus diintegrasikan ke dalam sistem perencanaan kota yang transparan. Publik harus dapat mengakses data tersebut, sehingga akuntabilitas pemerintah dapat dipertanggungjawabkan.

Terakhir, keberhasilan program ini sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat. Edukasi di sekolah dan kampanye media sosial memang penting, namun harus diiringi dengan penyediaan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai di titik-titik kritis, seperti pasar tradisional, area wisata, dan pemukiman padat. Tanpa infrastruktur yang memadai, pesan moral akan sulit diinternalisasi.

Jika Solo mampu mengatasi tantangan-tantangan tersebut, #SungaiLestari bukan hanya akan mengembalikan kejernihan Kali Premulung, melainkan juga menjadi blueprint kebijakan lingkungan perkotaan yang dapat direplikasi di seluruh Nusantara.