Shakira Gugat Kolaborasi Bintang Pop dalam Halftime Show Final Piala Dunia 2026: Janji Glamor atau Panggung Komersial?
Eka Saputra
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Jakarta, 10 Juli 2026 – Penyanyi asal Kolombia, Shakira (49), mengonfirmasi kesiapan dirinya untuk bergabung dalam pertunjukan halftime show final FIFA World Cup 2026 yang akan digelar pada 19 Juli di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat. Dalam wawancara eksklusif di The Capital Evening Show with Jimmy Hill, Shakira menegaskan niatnya untuk berkolaborasi dengan ikon-ikon musik dunia seperti Madonna (67), grup K‑pop BTS, serta bintang pop barat Justin Bieber (32). Ia juga menaruh harapan agar vokalis Coldplay, Chris Martin (49), turut melengkapi aksi panggung yang diprediksi menjadi "sejarah pertama" dalam format halftime show Piala Dunia.
Pengumuman ini muncul satu hari setelah FIFA dan Global Citizen menambahkan Justin Bieber ke dalam daftar artis yang sudah terkonfirmasi, melengkapi barisan yang sebelumnya hanya mencakup Shakira, Madonna, dan BTS. Pertunjukan diperkirakan akan berlangsung selama 11 menit, menempati slot 45 menit setelah peluit awal pertandingan final pada Senin (20/7) pukul 02.00 WIB.
Shakira menegaskan, “Saya tampil di pembukaan, kini di final. Saya harus menemukan cara agar penampilan ini berbeda, lebih segar, dan tetap relevan.” Ia menambahkan, “Saya sangat berharap Chris Martin juga akan bernyanyi, sehingga kita memiliki lima artis luar biasa di atas panggung.”
Namun, di balik antusiasme yang tampak, muncul pertanyaan kritis: apakah kolaborasi lintas genre ini memang akan menambah nilai estetika dan semangat sportivitas, atau sekadar menjadi wadah promosi komersial bagi label rekaman dan sponsor global? Sejak 2010, ketika Shakira mencetak hit internasional “Waka Waka (This Time for Africa)” sebagai lagu resmi Piala Dunia, ia telah menjadi figur yang tak terpisahkan dari turnamen sepak bola. Kini, dengan lagu kolaborasinya bersama Burna Boy, “Dai Dai (FIFA World Cup Official Song 2026)”, yang menancapkan diri di puncak Billboard Global 200, Shakira tampaknya kembali memanfaatkan platform sport sebagai mesin pemasaran musik.
Data Luminate mencatat “Dai Dai” menembus posisi tiga pada Billboard Global 200 dengan 34,4 juta streaming dan 4.000 penjualan di luar AS dalam dua minggu terakhir. Keberhasilan komersial ini menimbulkan spekulasi bahwa FIFA, yang tengah berupaya menyeimbangkan antara sportivitas dan hiburan, kini semakin mengandalkan bintang pop untuk menarik penonton non‑football. Apakah ini mengorbankan esensi kompetisi? Atau justru membuka peluang baru bagi integrasi budaya?
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat fenomena ini sebagai titik balik dalam strategi pemasaran global FIFA. Pertama, kolaborasi antara artis lintas generasi dan genre menandakan upaya FIFA untuk menembus demografis yang lebih luas, terutama generasi Z yang mengonsumsi musik dan konten visual secara intensif. Kedua, kehadiran Madonna, ikon era 80‑an, bersama BTS, fenomena K‑pop yang mendominasi streaming, serta Justin Bieber, simbol pop modern, menciptakan “mix‑and‑match” yang secara sengaja dirancang untuk memaksimalkan jangkauan media sosial.
Namun, ada risiko tersembunyi. Penonton tradisional sepak bola dapat merasakan alienasi bila hiburan panggung mengalahkan nilai sport. Sejarah mencatat bahwa halftime show Super Bowl, meski spektakuler, pernah menuai kritik karena mengalihkan fokus dari pertandingan itu sendiri. Jika FIFA mengulangi pola ini, ia berpotensi menurunkan kredibilitas turnamen sebagai kompetisi olahraga paling bergengsi di dunia.
Selanjutnya, peran Chris Martin sebagai kurator pertunjukan menimbulkan pertanyaan tentang kontrol kreatif. Apakah artis akan diberikan kebebasan artistik ataukah mereka akan dipaksa menyesuaikan diri dengan narasi komersial FIFA? Transparansi dalam proses kurasi menjadi penting, mengingat potensi konflik kepentingan antara sponsor, label rekaman, dan badan olahraga.
Terakhir, keberhasilan “Dai Dai” di tangga lagu global menegaskan bahwa musik dapat menjadi alat diplomasi budaya, menyatukan penonton dari berbagai latar belakang. Jika diproduksi dengan sensitif, halftime show ini dapat menjadi platform untuk menyoroti isu‑isu sosial‑politik yang relevan, seperti inklusi gender, keberagaman, dan persatuan antarbangsa. Namun, jika hanya menjadi panggung iklan, maka peluang tersebut akan terlewatkan, dan FIFA akan kehilangan momen bersejarah untuk memperkuat pesan-pesan positif di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas.
Dengan semua dinamika ini, pertunjukan halftime show final Piala Dunia 2026 bukan sekadar hiburan; ia menjadi barometer bagaimana olahraga global beradaptasi dengan ekonomi kreatif abad ke‑21. Bagaimana hasilnya nanti, hanya waktu yang akan menjawab—namun satu hal pasti: mata dunia akan menatap panggung, menilai tidak hanya kualitas musik, tetapi juga integritas nilai-nilai yang dibawa oleh FIFA.
BERITA TERKAIT

Bank Tanah dan ‘Jebakan Legal’ Reforma Agraria: Antara Janji Kemandirian Petani dan Realitas Kekuasaan Tanah Negara
Siti Amalia
Skrining CKG Ungkap 2,8 Juta Warga Sumut Terancam Ledakan Krisis Kesehatan Jiwa: Dinkes Masih Jalan Kaki, Padahal RS Jiwa Penuh & Dokter Spesialis Justru Minim
Budi Santoso
Komersialisasi Asrama Haji: Strategi Efisiensi Negara atau Sekadar Mengejar Profit?
Ustaz Farhan