Penghormatan Terakhir Rachmat Gobel: Perpaduan Militer dan Tradisi Gorontalo di TMP Kalibata

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Penghormatan Terakhir Rachmat Gobel: Perpaduan Militer dan Tradisi Gorontalo di TMP Kalibata
BAGIKAN:

JAKARTA – Suasana khidmat menyelimuti prosesi pelepasan jenazah almarhum Rachmat Gobel yang diberangkatkan menuju Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Utama Kalibata pada Jumat (10/7) siang. Tepat pukul 13.50 WIB, iring-iringan jenazah mulai bergerak meninggalkan rumah duka dalam sebuah seremoni yang sarat akan makna simbolis.

Prosesi pemberangkatan ini tidak sekadar menjadi ritual pemakaman biasa. Terdapat sinkretisme budaya dan kehormatan negara yang terlihat jelas melalui penggabungan upacara militer dengan tradisi adat Gorontalo. Hal ini menjadi bentuk apresiasi tertinggi atas dedikasi dan jasa almarhum semasa hidupnya.

Salah satu detail yang mencuri perhatian adalah keranda jenazah yang tidak polos, melainkan dihiasi dengan rangkaian kain berwarna-warni yang membentuk tandu adat khas Gorontalo. Visualisasi ini menegaskan identitas kultural yang kuat, membawa akar tradisi daerah ke jantung ibu kota dalam momen perpisahan terakhir.

Keberangkatan jenazah turut dikawal oleh keluarga besar, kerabat dekat, serta sejumlah pejabat tinggi negara dan pelayat yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Kehadiran para tokoh penting ini mengonfirmasi pengaruh dan posisi strategis almarhum dalam lanskap sosial maupun politik di Indonesia.

Catatan Redaksi: Refleksi Atas Simbolisme Kekuasaan dan Identitas

Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati dinamika kekuasaan di Indonesia, saya melihat prosesi pemakaman Rachmat Gobel bukan sekadar seremoni duka, melainkan sebuah statement politik dan kultural yang sangat kuat. Penggabungan antara protokol militer yang kaku dengan warna-warni adat Gorontalo adalah sebuah upaya untuk mengawinkan legitimasi negara dengan legitimasi akar rumput. Di Indonesia, ketika seorang tokoh besar dimakamkan di TMP Kalibata dengan atribut adat yang kental, itu adalah pesan bahwa sang tokoh berhasil menjembatani peran sebagai abdi negara sekaligus penjaga marwah daerah.

Namun, jika kita bedah lebih dalam, fenomena ini juga menunjukkan bagaimana 'estetika penghormatan' seringkali menjadi indikator posisi seseorang dalam hierarki sosial-politik kita. TMP Kalibata bukan sekadar tanah pemakaman; ia adalah monumen prestise. Ketika tradisi daerah dibawa masuk ke sana, terjadi sebuah klaim identitas bahwa kontribusi tokoh tersebut tidak hanya bersifat administratif bagi negara, tetapi juga memiliki dampak emosional dan kultural bagi masyarakat asalnya. Ini adalah bentuk 'diplomasi kematian' yang mengukuhkan warisan (legacy) sang tokoh agar tetap relevan bagi generasi mendatang.

Saya memprediksi bahwa kepergian tokoh seperti Rachmat Gobel akan meninggalkan ruang kosong dalam jaringan komunikasi politik antara pusat dan daerah, khususnya wilayah Gorontalo. Tokoh-tokoh yang mampu menguasai dua dunia—birokrasi pusat dan tradisi daerah—adalah 'perekat' yang jarang ditemukan. Kehilangan sosok seperti ini seringkali memicu pergeseran peta pengaruh di daerah, di mana akan ada perebutan peran untuk menjadi 'jembatan' baru menuju kekuasaan di Jakarta.

Secara kritis, kita harus bertanya: apakah penghormatan mewah seperti ini benar-benar mencerminkan jasa yang ditinggalkan, atau sekadar formalitas protokol bagi mereka yang berada di lingkaran elit? Meskipun demikian, dalam kasus ini, perpaduan adat dan militer memberikan sentuhan manusiawi pada kekakuan birokrasi kematian. Ini adalah pengingat bahwa setinggi apa pun jabatan seseorang di mata negara, pada akhirnya mereka akan kembali ke akar identitas dan tanah leluhurnya. Sebuah ironi sekaligus keindahan dalam siklus hidup para penguasa.