Mandalika Street Food Festival: Janji Besar ITDC untuk Lombok, Tapi Apa Hasil Nyatanya?

Berita Nasional
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Pimpinan Redaksi

Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

Mandalika Street Food Festival: Janji Besar ITDC untuk Lombok, Tapi Apa Hasil Nyatanya?
BAGIKAN:

Lombok Tengah, 12 Juli 2026 – InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) menggelar Mandalika Street Food Festival selama tiga hari (10‑12 Juli) di kawasan Bazaar Mandalika dan Kuta Lane. Acara ini dimaksudkan sebagai platform promosi kuliner khas Lombok, sekaligus memperkuat citra destinasi wisata The Mandalika.

Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka, menegaskan bahwa festival ini menampilkan 24 tenant kuliner, 8 coffee shop dan roastery, serta 5 UMKM kriya dan wastra yang semuanya berasal dari pulau Lombok. "Kami ingin memberi pengalaman yang lebih dari sekadar atraksi utama The Mandalika. Setiap event harus menjadi ekosistem pendukung yang menambah nilai bagi pengunjung," ujar Warokka dalam konferensi pers di Lombok Tengah.

Beragam hidangan legendaris Lombok menghiasi panggung kuliner, mulai dari Sate Rembiga, Sate Bulayak, Sate Tanjung, Ayam Taliwang, Nasi Balap, hingga jajanan tradisional yang menjadi identitas rasa pulau ini. Pengunjung juga dapat mencicipi kopi lokal dari berbagai roastery yang kini menjadi bagian penting dari ekosistem kreatif Lombok.

Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nur Aulia, menyambut baik kolaborasi ini, menilai festival sebagai "ruang strategis bagi UMKM untuk menampilkan produk terbaik mereka kepada wisatawan domestik dan mancanegara." Ia menekankan pentingnya keberlanjutan acara semacam ini sebagai agenda tahunan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sinergi pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif.

Festival ini juga direncanakan menjadi atraksi pendamping bagi peserta Lombok 2026 Running Event, dengan harapan menambah daya tarik wisata kuliner dan kopi lokal serta memperkuat citra budaya Lombok di mata dunia.

Analisis Pakar

Di balik sorotan positif, ada beberapa pertanyaan mendasar yang belum terjawab. Pertama, sejauh mana keterlibatan 100 % tenant lokal benar-benar menguntungkan UMKM kecil, atau justru menjadi sarana branding bagi ITDC yang lebih mengutamakan citra internasional? Banyak pelaku UMKM mengaku bahwa partisipasi dalam festival besar memerlukan biaya logistik, standar kebersihan, dan persyaratan administratif yang tidak sedikit, yang pada akhirnya menambah beban mereka.

Kedua, keberlanjutan ekonomi pasca‑festival menjadi isu krusial. Sejumlah studi menunjukkan bahwa event berskala besar sering menghasilkan lonjakan penjualan sesaat, namun tidak selalu berkonversi menjadi pendapatan berkelanjutan bagi pelaku lokal. Apakah ITDC memiliki rencana jangka panjang untuk mengintegrasikan tenant festival ke dalam jaringan distribusi permanen, atau hanya mengandalkan hype sesaat?

Ketiga, dampak lingkungan harus menjadi bagian tak terpisahkan dari evaluasi. Dengan ribuan pengunjung yang berkumpul dalam area terbuka, masalah sampah plastik, limbah makanan, dan emisi karbon dari transportasi menjadi tantangan nyata. Tanpa kebijakan pengelolaan sampah yang tegas dan program edukasi lingkungan, festival ini berisiko menambah beban ekologi Lombok yang sudah rapuh.

Terakhir, peran pemerintah daerah dalam mengawasi dan menegakkan regulasi menjadi kunci. Apakah Dinas Pariwisata NTB akan memastikan bahwa setiap keuntungan yang dihasilkan festival benar‑benar mengalir ke komunitas lokal, atau justru menjadi bagian dari portofolio investasi swasta yang menguasai sektor pariwisata? Transparansi dalam pelaporan keuangan dan mekanisme distribusi manfaat harus menjadi standar, bukan pilihan.

Jika ITDC mampu menjawab tantangan‑tantangan ini dengan kebijakan yang inklusif, berkelanjutan, dan transparan, Mandalika Street Food Festival dapat menjadi model sinergi antara pariwisata massal dan ekonomi kreatif lokal. Namun, tanpa langkah konkret, festival ini berpotensi menjadi sekadar panggung visual yang menutupi masalah struktural yang lebih dalam.