<h2>Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Buol: BPBD Imbau Tenang, Padahal Kerusakan Mulai Nampak</h2>

Berita Nasional
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Pimpinan Redaksi

Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

<h2>Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Buol: BPBD Imbau Tenang, Padahal Kerusakan Mulai Nampak</h2>
BAGIKAN:

Palu, 12 Juli 2026 – Pada pukul 21.05 WIB, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, diguncang gempa bumi berkekuatan 5,1 skala Richter. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buol segera mengeluarkan pernyataan resmi, meminta warga tetap tenang namun waspada. Dalam situasi darurat seperti ini, kecepatan dan ketepatan dalam mengambil tindakan sangat penting untuk mengurangi dampak bencana.

Kepala BPBD Buol, Moh Khacfy Mardjuni, menegaskan lewat keterangan tertulis yang diterima di Palu, “Waspada tetap, namun jangan panik.” Ia menambahkan bahwa hingga pukul 22.40 WITA, timnya terus berkoordinasi lintas sektor untuk memastikan situasi pascagempa tetap kondusif. Koordinasi ini merupakan langkah awal yang baik, namun perlu diikuti dengan tindakan nyata dan transparan untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.

BPBD telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan kaji cepat bersama pemerintah kecamatan dan desa. “Kami meminta para Kepala Desa membantu proses pendataan bila ada kerusakan terjadi di wilayah masing-masing,” ujar Mardjuni. Pendataan yang akurat dan cepat sangat penting untuk menentukan prioritas bantuan dan memastikan bahwa semua wilayah terkena dampak mendapatkan perhatian yang memadai.

Data sementara menunjukkan kerusakan pada beberapa infrastruktur penting, termasuk Kantor Mall Pelayanan Publik, sebagian ruang perawatan di RSUD Buol, Kantor Inspektorat, serta sejumlah rumah warga di Kelurahan Kali. Hingga kini, belum ada laporan korban jiwa, namun potensi kerusakan struktural masih menjadi fokus utama. Dalam penanganan bencana seperti ini, penggunaan teknologi drone bisa menjadi solusi efektif untuk pemetaan kerusakan dan mempercepat proses rehabilitasi.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengonfirmasi bahwa gempa terjadi pada kedalaman 21 kilometer dengan episenter di laut, sekitar 37 km timur laut Buol. Menurut pemodelan BMKG, gempa ini termasuk kategori dangkal dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Namun, perlu diingat bahwa gempa ini masih dapat menyebabkan dampak sekunder yang signifikan, seperti tanah longsor atau penurunan muka tanah, terutama di daerah pesisir.

BMKG menjelaskan bahwa gempa dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng, dengan mekanisme sumber berupa pergerakan naik‑geser. Peta intensitas menunjukkan gempa dirasakan pada skala IV MMI di beberapa wilayah, menyebabkan getaran yang cukup kuat dan potensi kerusakan pada bangunan yang tidak tahan gempa. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat akan bencana gempa bumi.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai respons BPBD Buol cukup cepat, namun ada beberapa celah kritis yang perlu diperhatikan. Pertama, koordinasi lintas sektor yang disebutkan belum diikuti dengan transparansi publik mengenai alokasi sumber daya dan prioritas perbaikan. Tanpa mekanisme pelaporan yang terbuka, masyarakat berisiko kehilangan kepercayaan pada institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam penanggulangan bencana.

Kedua, data kerusakan yang masih bersifat “sementara” menimbulkan pertanyaan tentang kapasitas inventarisasi di daerah terpencil. Mengingat wilayah Buol memiliki topografi yang menantang, penggunaan teknologi pemetaan berbasis drone atau citra satelit seharusnya menjadi standar, bukan opsi tambahan. Ini dapat mempercepat proses rehabilitasi dan mengurangi beban pada warga yang sudah terdampak.

Ketiga, pernyataan BMKG bahwa gempa tidak berpotensi tsunami memang mengurangi kepanikan, namun tidak menutup kemungkinan dampak sekunder seperti tanah longsor atau penurunan muka tanah. Pemerintah daerah perlu menyiapkan rencana kontinjensi yang melibatkan tim geologi lokal, bukan hanya mengandalkan pernyataan satu kali dari pusat. Ini akan membantu dalam mengidentifikasi dan mitigasi potensi bencana lainnya.

Terakhir, saya mengingatkan bahwa gempa subduksi lempeng di wilayah ini bukan fenomena baru. Pola seismik yang berulang menuntut adanya kebijakan mitigasi jangka panjang, termasuk revisi standar bangunan, edukasi kesiapsiagaan warga, dan investasi pada infrastruktur tahan gempa. Selain itu, ancaman bencana alam lainnya seperti letusan gunung berapi juga perlu menjadi perhatian dalam perencanaan mitigasi bencana. Tanpa langkah-langkah proaktif, Buol akan terus berada di zona rawan, mengulang siklus kerusakan yang dapat dihindari.