Bekasi, Juara Utama Squash Nasional 2026 – ngolek 11 medaliemasemas, 5 perak, 15 perunggu – tapi sao ya parukotan infrastruktur jeung masa depan?
Dimas Pratama
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Kecamatan Bekasi menjadi saksi peristiwa olahraga squash nasional pada 7‑11 Juli 2026, di mana Tim Jawa Barat berhasil meraih puncak medali dengan 11 emas, 5 perak, dan 15 perunggu. Prestasi ini mencerminkan dominasi tradisional wilayah tersebut, namun sekaligus memunculkan pertanyaan serius mengenai keberlanjutan pencapaian.
Menurut Endang Suranata, ketua panitia Kejuaraan Nasional Squash 2026, pencapaian tersebut tidak hanya berkat usaha keras atlet, tetapi juga dukungan besar dari Pemerintah Kabupaten Bekasi yang menyediakan fasilitas standar internasional. Namun, muncul skeptisisme karena hanya satu arena yang dipakai selama dua tahun berturut‑turut, tanpa rencana diversifikasi lokasi atau pemeliharaan yang berkelanjutan.
Dengan 162 atlet peserta yang bersaing di kategori usia dari U9 hingga senior, angka partisipasi menunjukkan minat yang masih terbatas pada cabang ini. Meski squash masih “baru digemari” oleh banyak daerah, potensi ekspansi menjadi tantangan utama bagi komite organisir dan sponsor.
Analisis Pakar
Pertama, pencapaian medal tally yang luar biasa harus dihadapi dengan realisme. 11 emas dalam 31 event yang diadakan menunjukkan dominasi yang hampir tak tergoyahkan, tetapi juga menandakan kurangnya kompetisi di luar Jawa Barat. Jika squash ingin menjadi sport berprestasi di level internasional, diperlukan program pengembangan yang lebih terstruktur di provinsi‑provinsi lain, termasuk peningkatan jumlah latihannya, akses turnamen internasional, dan program identifikasi bakat sejak usia dini.
Kedua, model pembiayaan yang diandalkan oleh pemerintah daerah, meskipun efektif pada satu momen, tidak berkelanjutan. Dana yang dialokasikan untuk pembangunan arena harus dipertanggungjawabkan dengan transparansi dan hasil yang terukur. Tanpa audit independen, risiko korupsi atau pemborosan dana akan menghantam kredibilitas program squash nasional.
Ketiga, tantangan strategis yang dihadapi KONI dan PB PSI adalah memperluas basis peserta. Data menunjukkan bahwa hanya segmen kecil populasi yang terlibat, terutama di kalangan anak‑anak dari keluarga mampu. Program sosial yang menargetkan sekolah‑sekolah di daerah pedesaan, memberikan subsidi peralatan, dan pelatihan pelatih dapat membuka jalan bagi keterampilan yang lebih beragam.
Akhirnya, proyeksi masa depan squash Indonesia bergantung pada dua pilar utama: (1) pembangunan infrastruktur yang tersebar merata, dan (2) strategi pemasaran yang menarik minat generasi muda. Jika kedua pilar ini berhasil, squash memiliki potensi menjadi sport utama di PON 2028 dan masa depan internasional. Namun, jika hanya mengandalkan keberhasilan satu wilayah, risiko stagnasi dan ketergantungan akan terus menghantam.
BERITA TERKAIT

SIAP HANCURKAN INGGRIS! Messi Sebut Timnas Argentina 'Tidak Normal' di Piala Dunia 2026 – Ini Kekuatan Mental Juara Sejati!

Kejutan Listrik: Nissan Sakura Baru Dijual Lebih Murah dari Mobil Bekas di Tokyo – Bagaimana Bisa?
