Rupiah Tertahan di Level 18.000: Ancaman Geopolitik Timur Tengah dan Bayang-Bayang 'Hawkish' The Fed
Hendra Gunawan
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Nilai tukar rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan penguatan tipis 63 poin ke level 18.065 per dolar AS pada Jumat (10/7/2026). Meski terlihat menguat, posisi Garuda sebenarnya masih berada dalam zona rentan setelah resmi meninggalkan level 17.000 sejak awal Juli lalu.
Pasar kini menanti pergerakan Senin mendatang. Ibrahim Assuabi, Direktur PT Traze Andalan Futures, memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dengan potensi pelemahan kembali ke rentang 18.060-18.110 per dolar AS. Tekanan ini bukan tanpa alasan; eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran.
Ketegangan geopolitik ini berdampak langsung pada stabilitas energi global. Penundaan pembukaan penuh Selat Hormuz—jalur vital bagi 20% pasokan migas dunia—menjaga harga minyak tetap tinggi. Bagi pelaku bisnis, lonjakan harga energi adalah alarm bahaya karena berpotensi memicu inflasi global yang persisten.
Kondisi ini menciptakan efek domino. Inflasi yang tinggi memaksa Federal Reserve (The Fed) untuk tetap agresif. Sinyal hawkish yang tertangkap dari pertemuan FOMC 17 Juni lalu memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada 2026. Akibatnya, Indeks Dolar (DXY) menguat tajam, yang secara otomatis menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Analisis Mendalam Siti Amalia
Mari kita bedah situasi ini secara lebih kritis. Penguatan 63 poin yang terjadi pada Jumat lalu hanyalah 'noise' atau fluktuasi jangka pendek yang tidak mengubah tren fundamental. Faktanya, rupiah sedang mengalami tekanan struktural yang serius. Ketika kita melihat angka 18.000 sebagai level psikologis baru, kita harus menyadari bahwa daya tahan rupiah sedang diuji oleh kombinasi mematikan antara geopolitical risk dan monetary divergence.
Ketergantungan global pada stabilitas Selat Hormuz membuat Indonesia berada dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi, kenaikan harga minyak dunia akan membebani APBN melalui subsidi energi, yang pada gilirannya memperlebar defisit fiskal. Di sisi lain, jika pemerintah mencoba menekan harga domestik secara agresif, tekanan inflasi akan tetap ada. Inilah yang membuat pasar melihat rupiah kurang menarik dibandingkan dolar AS yang kini menjadi safe haven utama di tengah kekacauan Timur Tengah.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah sikap The Fed. Narasi 'higher for longer' atau bahkan potensi kenaikan suku bunga baru di 2026 menunjukkan bahwa perang melawan inflasi di AS belum usai. Bagi Bank Indonesia (BI), ruang gerak menjadi sangat sempit. Jika BI tidak menaikkan suku bunga untuk menjaga daya tarik aset domestik, aliran modal keluar (capital outflow) akan semakin deras. Namun, jika BI terlalu agresif menaikkan suku bunga, pertumbuhan ekonomi domestik yang sedang berusaha dipacu bisa terhambat karena biaya kredit yang membengkak.
Prediksi saya, rupiah tidak akan dengan mudah kembali ke level 17.000 dalam waktu dekat kecuali terjadi de-eskalasi nyata di Iran dan AS, atau adanya kejutan data inflasi AS yang turun drastis. Para pelaku usaha, terutama importir, harus mulai melakukan hedging (lindung nilai) secara agresif. Jangan terjebak pada penguatan harian yang semu. Fokuslah pada risiko ekor (tail risk) dari konflik Timur Tengah yang bisa mengirim rupiah melampaui 18.200 jika terjadi blokade total di Selat Hormuz. Ini bukan lagi soal teknikal trading, tapi soal manajemen risiko bertahan hidup di tengah badai makroekonomi.
BERITA TERKAIT

Korupsi 'Mega Case' Jampidsus: Komisi III Bentuk Panja, Habiburokhman Pimpin Pengawasan Ketat

Skandal Emas dan Valas Eks Jampidsus: Komisi III Desak Tim Independen Guna Cegah 'Permainan' Internal Kejaksaan
