⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 7 km WNW of Kalbay, Philippines pada 22/7/2026, 01.33.27. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.

Bangladesh Kembali Cantumkan Klausul ‘Kecuali Israel’ di Paspor – Apa Dampaknya bagi Diplomasi Regional?

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Bangladesh Kembali Cantumkan Klausul ‘Kecuali Israel’ di Paspor – Apa Dampaknya bagi Diplomasi Regional?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Departemen Dalam Negeri Bangladesh memerintahkan penambahan frasa ‘kecuali Israel’ pada paspor elektronik, menegaskan kebijakan luar negeri yang tidak mengakui Israel.
  • Langkah ini diambil bersamaan dengan revisi simbolik pada paspor, termasuk penghormatan kepada korban protes 2024 dan penghapusan beberapa gambar pendiri negara.
  • Keputusan tersebut muncul di tengah ketegangan politik domestik, setelah demonstrasi besar-besaran menuntut mundurnya SheikhHasina dan menewaskan sekitar 1.400 orang.

Dalam sebuah pernyataan resmi pada 19 Juli, KementerianDalamNegeri Bangladesh mengumumkan bahwa frasa "Paspor ini berlaku untuk semua negara di dunia kecuali Israel" akan kembali dicetak pada paspor elektronik negara tersebut. Kebijakan ini mencerminkan posisi historis Bangladesh yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan secara tegas menolak pengakuan negara tersebut, selaras dengan dukungan tradisionalnya terhadap Palestina.

Selain menegaskan kembali larangan tersebut, kementerian juga menginstruksikan penambahan simbol penghormatan kepada tokoh‑tokoh yang tewas dalam pemberontakan pada Juli‑Agustus 2024. Demonstrasi tersebut, yang menuntut pengunduran diri Sheikh Hasina setelah lebih dari satu dekade berkuasa, berakhir dengan bentrokan keras antara aparat keamanan dan warga sipil, menewaskan sekitar 1.400 orang dan melukai puluhan ribu lainnya. Sejak itu, mantan perdana menteri tersebut dilaporkan berada dalam pengasingan di India.

Revisi lain pada paspor elektronik mencakup penghapusan beberapa gambar yang terkait dengan pendiri bangsa, Sheikh Mujibur Rahman, sebagai bagian dari upaya memperbaharui narasi visual negara. Langkah-langkah ini menandai kembali kebijakan luar negeri Bangladesh yang berfokus pada solidaritas dengan Palestina serta menegaskan identitas nasional di tengah dinamika politik internal yang masih bergolak.

Analisis Pakar

Penambahan klausul “kecuali Israel” pada paspor Bangladesh bukan sekadar tindakan simbolis; ia mencerminkan strategi diplomatik yang berakar pada identitas politik dan agama mayoritas di negara tersebut. Bangladesh, sebagai negara mayoritas Muslim, telah lama menempatkan dirinya pada posisi pro‑Palestina dalam arena internasional, dan kebijakan ini memperkuat narasi tersebut di mata publik domestik. Namun, langkah ini juga berpotensi menimbulkan konsekuensi praktis, terutama bagi warga Bangladesh yang bepergian ke negara‑negara yang memiliki hubungan kuat dengan Israel, mengingat kemungkinan penolakan visa atau pembatasan masuk.

Dari perspektif keamanan regional, kebijakan ini dapat memperburuk ketegangan antara Bangladesh dan sekutu Barat yang mendukung Israel, termasuk Amerika Serikat. Meskipun Bangladesh tidak memiliki hubungan resmi dengan Israel, kebijakan semacam ini dapat memicu reaksi diplomatik, termasuk potensi penurunan kerja sama ekonomi atau bantuan teknis. Di sisi lain, kebijakan ini dapat memperkuat posisi Bangladesh di forum‑forum internasional yang pro‑Palestina, seperti Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan Perserikatan Bangsa‑Bangsa, memperkuat aliansi dengan negara‑negara yang menentang kebijakan Israel.

Revisi simbolik pada paspor, termasuk penghormatan kepada korban protes 2024, menandakan upaya pemerintah untuk meredam ketegangan domestik dengan mengakui penderitaan warga sipil. Namun, penghapusan gambar Sheikh Mujibur Rahman dapat menimbulkan kontroversi di kalangan nasionalis yang melihatnya sebagai upaya menghilangkan warisan pendiri negara. Kebijakan ini mencerminkan dilema antara menjaga stabilitas politik internal dan mempertahankan narasi historis yang kuat.

Secara keseluruhan, keputusan ini menegaskan kembali bahwa kebijakan luar negeri Bangladesh tidak hanya dipengaruhi oleh pertimbangan geopolitik, tetapi juga oleh dinamika politik dalam negeri yang kompleks. Pengamat harus memantau bagaimana langkah ini memengaruhi hubungan Bangladesh dengan mitra internasional, serta dampaknya pada persepsi publik domestik mengenai legitimasi pemerintah dan arah kebijakan luar negeri ke depan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Bangladesh menolak mengakui Israel dalam paspornya?
    A: Bangladesh tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan secara historis mendukung Palestina; penolakan ini mencerminkan kebijakan luar negeri yang konsisten dengan posisi pro‑Palestina.
  • Q: Apakah penambahan klausul ‘kecuali Israel’ memengaruhi kemampuan warga Bangladesh bepergian ke negara lain?
    A: Secara langsung tidak, namun negara yang memiliki hubungan erat dengan Israel dapat menilai kebijakan ini secara negatif, yang berpotensi mempersulit proses visa atau masuk.
  • Q: Apa hubungan antara kebijakan paspor ini dengan protes 2024 dan pengasingan Sheikh Hasina?
    A: Pemerintah menggunakan revisi paspor untuk menghormati korban protes 2024, sementara pengasingan mantan perdana menteri menandai perubahan politik yang memicu ketegangan domestik.