Jenazah Korban KM Nurul Salsa Ditemukan Mengapung: SAR Terburu-buru, Keluarga Tertanya

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Jenazah Korban KM Nurul Salsa Ditemukan Mengapung: SAR Terburu-buru, Keluarga Tertanya
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Tim SAR menemukan satu jenazah perempuan yang diduga korban KM Nurul Salsa mengapung di sekitar Pulau Mataalang, Kepulauan Selayar.
  • KN SAR Pacitan dan Kamajaya mengevakuasi total tiga jenazah ke RS Bhayangkara Makassar untuk identifikasi.
  • Penemuan jenazah menambah tekanan pada Basarnas untuk mengungkap penyebab tenggelamnya kapal penumpang tersebut.

Makassar, 21 Juli 2026 – Sebuah tragedi laut kembali mengguncang Sulawesi Selatan. Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi tiga jenazah yang diduga merupakan korban kapal penumpang KM Nurul Salsa yang tenggelam di perairan Kepulauan Selayar pada hari Selasa (21/7).

Menurut Andi Sultan, Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, jenazah pertama ditemukan mengapung di sekitar Pulau Mataalang dengan bantuan pelampung. “Kami menerima laporan dari nelayan di Pulau Pamulikang, lalu tim KN SAR Pacitan langsung bergerak ke lokasi,” ujar Andi kepada CNNIndonesia.com.

Setelah penemuan pertama, KN SAR Kamajaya melanjutkan operasi dan berhasil mengamankan dua jenazah tambahan. Kedua jenazah tersebut diperkirakan tiba di Pelabuhan Makassar pukul 06.30 WITA keesokan harinya, lalu dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi resmi.

Penemuan jenazah-jenazah ini menimbulkan pertanyaan mendesak mengenai prosedur keselamatan kapal, kesiapan SAR, serta transparansi informasi yang diberikan kepada publik. Hingga kini, pihak berwenang belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penyebab tenggelamnya KM Nurul Salsa, meski sejumlah saksi melaporkan kondisi cuaca yang tidak terlalu buruk pada saat kejadian.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa respons cepat tim SAR memang patut diapresiasi, namun tidak dapat menutupi kegagalan sistemik yang tampak sejak awal. Pertama, kurangnya data akurat mengenai muatan, kondisi teknis kapal, dan daftar penumpang menunjukkan adanya celah dalam regulasi maritime safety yang belum diimplementasikan secara ketat di wilayah Indonesia bagian selatan.

Kedua, komunikasi antara otoritas lokal, Basarnas, dan masyarakat nelayan masih terfragmentasi. Laporan nelayan yang menemukan jenazah baru dapat diproses dalam hitungan menit, namun informasi tersebut baru sampai ke publik setelah beberapa jam, menimbulkan spekulasi dan keresahan di kalangan keluarga korban.

Ketiga, proses identifikasi jenazah yang masih berlangsung di RS Bhayangkara menimbulkan pertanyaan tentang kapasitas laboratorium forensik maritim di Indonesia. Apakah identifikasi akan selesai dalam waktu yang wajar? Atau justru akan berlarut‑lurus, menambah penderitaan keluarga yang menunggu kepastian?

Terakhir, perlu ada audit independen terhadap prosedur operasional kapal penumpang yang melintasi jalur Selayar‑Makassar. Jika terbukti ada kelalaian, maka pertanggungjawaban tidak hanya berada pada operator kapal, melainkan juga pada regulator yang mengawasi kepatuhan standar keselamatan laut.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa jumlah korban yang diperkirakan hilang dalam kecelakaan KM Nurul Salsa?
    A: Hingga kini, pihak berwenang belum mengonfirmasi total korban; tiga jenazah telah ditemukan, sementara jumlah penumpang yang belum teridentifikasi masih diperkirakan antara 20‑30 orang.
  • Q: Apa penyebab utama tenggelamnya kapal tersebut?
    A: Penyebab resmi belum diumumkan; penyelidikan awal menyinggung kemungkinan kebocoran struktural atau kegagalan mesin, namun investigasi masih berlangsung.
  • Q: Bagaimana cara keluarga korban mendapatkan informasi terbaru?
    A: Keluarga dapat menghubungi posko Basarnas Makassar atau rumah sakit RS Bhayangkara untuk update proses identifikasi dan penanganan jenazah.