PRSU: Dadi Panggung Budaya, metu menyang Panggung Bisnis—Apakah Sumatera Utara bener‑bener ngandhong ekonomi lokal, ngangkat semangat wong, lan mbangun fondasi perekonomian sing kuat lan lestari?

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

PRSU: Dadi Panggung Budaya, metu menyang Panggung Bisnis—Apakah Sumatera Utara bener‑bener ngandhong ekonomi lokal, ngangkat semangat wong, lan mbangun fondasi perekonomian sing kuat lan lestari?
BAGIKAN:

Medan, 12 Juli 2026 — Malam itu penonton bersorak gembira, sementara sekelompok penari menampilkan tarian tradisional Kabupaten Nias Selatan di panggung utama Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU). Kostum berwarna-warni, irama musik kuno, dan lagu daerah bersatu menciptakan suasana yang seolah mengajak penonton melangkah ke ujung barat Pulau Sumatera.

Berbagai tarian ditunjukkan bergantian, masing‑masing menyampaikan nilai kebersamaan, penghormatan kepada nenek moyong, serta tekad masyarakat melestarikan warisan budaya. Puncak perhatian tercapai saat penampilan lompat batu — simbol ikonik Nias yang sudah diakui dunia — memukau ribuan mata yang menatap.

Di sisi panggung, layar raksasa menayangkan panorama Nias Selatan: pantai berpasir putih yang menjadi surga peselancar internasional, bukit hijau yang menantang, serta kehidupan sehari‑hari masyarakat yang masih berpegang teguh pada adat. Kombinasi visual dan pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya strategis untuk menorehkan potensi pariwisata daerah.

Di paviliun terpisah, Kabupaten Deli Serdang menyajikan tarian Melayu yang memikat, sekaligus menampilkan produk unggulan: busana tradisional, cendera mata, kuliner khas, dan paket wisata alam. Kabupaten Langkat tidak mau kalah; mereka menyorot kerajinan tangan, hasil UMKM, ikan hias, serta penutup kepala tanjak, sambil membuka kisah Kesultanan Langkat dan destinasi wisata utama.

Keberadaan pelaku ekonomi kreatif di PRSU semakin menegaskan pergeseran fungsi pameran ini. Sebagai contoh, stan 061 Apparel menampilkan cendera mata resmi PRSU yang dirancang oleh desainer lokal Medan, menandakan sinergi antara budaya dan industri kreatif.

Analisis Pakar

PRSU kini berada di persimpangan penting: antara menjadi ajang pelestarian budaya dan menjadi platform pemasaran ekonomi regional. Di satu sisi, penampilan seni tradisional yang memukau berhasil menumbuhkan rasa kebanggaan dan memperkenalkan kekayaan budaya Sumatera Utara kepada publik nasional bahkan internasional. Namun, tanpa strategi pemasaran yang terintegrasi, potensi ekonomi yang tersembunyi di balik pertunjukan tersebut akan tetap terpendam.

Penggunaan visual multimedia yang menampilkan lanskap alam dan kehidupan masyarakat merupakan langkah cerdas, namun masih terkesan pasif. Pemerintah daerah perlu mengubah tampilan visual menjadi “call‑to‑action” yang konkret — misalnya, menyediakan QR code yang langsung mengarahkan penonton ke platform pemesanan paket wisata atau e‑commerce produk UMKM. Tanpa mekanisme konversi yang jelas, sorakan penonton tidak akan berujung pada peningkatan pendapatan bagi pelaku lokal.

Selanjutnya, keberadaan stan‑stan komersial seperti 061 Apparel menandakan bahwa sektor kreatif mulai merespons panggilan pasar. Namun, masih terdapat kesenjangan antara eksposur budaya dan dukungan finansial. Pemerintah provinsi sebaiknya memperkenalkan skema insentif fiskal atau pendanaan khusus bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berbasiskan budaya, sehingga mereka tidak hanya menjadi “pameran sampingan” melainkan bagian integral dari ekosistem ekonomi PRSU.

Jika PRSU mampu mengoptimalkan sinergi antara budaya dan ekonomi — misalnya dengan mengintegrasikan program “business matching” yang dicanangkan Kemen‑UMKM, serta memfasilitasi jaringan distribusi produk lokal ke pasar nasional — maka pameran ini berpotensi menjadi model replikasi bagi provinsi lain. Tanpa langkah konkret, PRSU berisiko menjadi sekadar festival budaya yang menghibur, namun tidak memberi dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Nias, Deli Serdang, Langkat, dan sekitarnya.