Nobar Piala Dunia 2026: Videotron ngglorakake saben pojok Indonesia, nanging ing balik cahya gemerlap iki, takonane tetep ngrembug soal akses lan komersialisasi.
Kevin Sanjaya
Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Minggu, 12 Juli 2026, sejumlah kota besar di Nusantara jadi panggilan bersama menonton semifinal Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina dengan Swiss. Di kawasan Sarinah, Jakarta, pendukung Timnas Argentina tampil keren dengan bandana berwajah Lionel Messi, sementara layar videotron yang disediakan oleh TVRI dan Sarinah menayangkan laga secara langsung. Situasi serupa terlihat di Padang, di depan Kantor Gubernur Sumatera Barat, tempat TVRI Sumbar bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memasang layar di halaman kantor; hujan deras memaksa panitia memindahkan acara ke dalam aula setelah beberapa menit pertama.
Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pemerintah setempat memanfaatkan alun-alun sebagai ruang terbuka, memasang layar videotron besar yang menarik ratusan warga dari berbagai latar belakang. Sementara itu, di Pulau Nusa Dua, Badung, Bali, acara yang diselenggarakan oleh Perum LKBN ANTARA menawarkan nuansa tropis dengan pantai sebagai latar belakang, meskipun tetap menggunakan teknologi layar besar yang sama. Semua lokasi ini menunjukkan kolaborasi antara penyiar negara, pemerintah daerah, dan pihak swata untuk menciptakan pengalaman bersama yang merayakan olahraga global.
Namun, di balik kegembiraan itu muncul beberapa catatan kritis. Pertama, ketergantungan pada layar videotron dan siaran TVRI menimbulkan pertanyaan tentang keterjangkauan bagi masyarakat yang tidak bisa mengakses area publik tersebut, terutama di daerah terpencil atau ekonomi terbatas. Kedua, kerja sama dengan entitas komersial seperti Sarinah dan Perum LKBN ANTARA menunjukkan kecenderungan mengkomersialisasikan acara olahraga yang seharusnya menjadi milik rakyat, dengan potensi penyebaran iklan dan konten promosi yang dapat mengalihkan perhatian dari nilai olahraga itu sendiri. Ketiga, penggunaan teknologi layar besar justru dapat memperlihatkan kesenjangan infrastruktur: kota-kota dengan anggaran besar mampu menyediakan layar HD, sementara daerah lain masih mengandalkan layar standar atau bahkan tidak ada sama sekali.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi yang selama lebih dari dua dekade meneliti hubungan antara media negara dan acara olahraga internasional, saya mengamati bahwa fenomeno nobar lewat layar videotron bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen soft power yang dipakai pemerintah untuk memperkuat citra nasional dan meningkatkan partisipasi sipil. Dalam konteks Piala Dunia 2026, upaya ini terlihat sebagai diplomasi budaya yang memanfaatkan momentum olahraga global untuk menarik perhatian internasional terhadap kemampuan infrastruktur dan koordinasi antarlembaga di Indonesia.
Namun, efektivitas instrumen ini sangat tergantung pada inklusivitas. Jika akses terbatas pada kelompok tertentu—misalnya hanya mereka yang mampu datang ke pusat kota atau memiliki transportasi ke lokasi videotron—maka dampak sosialnya menjadi selektif dan justru dapat memperdalam ketimpangan. Survei Lembaga Survei Indonesia (2025) menunjukkan bahwa 38% rumah tangga di pedalaman masih mengandalkan siaran televisi konvensional tanpa akses ke layar tinggi resolusi, sehingga mereka terpinggirkan dari pengalaman bersama yang diiklankan sebagai "nobar bersama".
Selain itu, aspek komersialisasi tidak boleh diabaikan. Mitra seperti Sarinah, yang merupakan pusat perbelanjaan elit, dan Perum LKBN ANTARA, yang memiliki kepentingan dalam penyiaran, cenderung menempatkan merek mereka secara prominen di layar—baik lewat logo, banner, maupun jeda iklan yang disisipkan dalam siaran. Praktik ini, meskipun memberikan pendanaan bagi acara, berisiko mengubah nuansa nobar dari ruang publik yang netral menjadi platform promosi. Dalam konteks etika jurnalis, hal ini menuntut transparansi yang jelas mengenai siapa yang membiayai layar dan apa kompensasi yang diberikan kepada pihak penyiar.
Dalam perspektif masa depan, saya menyarankan agar pemerintah dan penyiar negara membangun model nobar yang lebih inklusif, misalnya dengan mendistribusikan voucher nonton gratis untuk rumah tangga kurang mampu, atau memanfaatkan jaringan Wi‑Fi publik untuk streaming langsung ke perangkat pribadi tanpa harus mengandalkan layar fisik di tempat umum. Selain itu, perlu ada regulasi yang membatasi jumlah konten komersial yang dapat disisipkan dalam siaran nobar, sehingga inti acara tetap fokus pada olahraga dan nilai sportivitas, bukan hanya sebagai media iklan.
BERITA TERKAIT

Menkopolkam Janjikan Pembersihan Korupsi Total, Prabowo Janji Tak Ada yang Terlindungi

Buah Segar sebagai Penyelamat Hidrasi: Fakta atau Hanya Tren Musim Panas?
