Moana Live‑Action 2026: Siapakah yang Bikin Film Ini Jadi ‘Basi’ Meski Dipenuhi Bintang?
Ayu Lestari
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Setelah menunggu lama, Moana versi live‑action akhirnya meluncur ke bioskop Indonesia pada 8 Juli 2026. Film ini mengusung kembali kisah petualangan Moana (diperankan oleh Catherine Laga’aia) menyeberangi samudra bersama Maui (Dwayne Johnson) yang kembali memukau penonton. Namun, di balik kemewahan visual dan kehadiran aktor‑aktor papan atas, film ini ternyata mendapat sambutan berbeda dari para kritikus.
Di Rotten Tomatoes, Moana 2026 hanya meraih skor 36 % dari 110 kritikus—angka yang jauh di bawah ekspektasi. Banyak yang menilai adaptasi ini terlalu setia pada naskah asli, hingga kehilangan magis yang membuat versi animasinya begitu dicintai. "Animasi memancarkan pesona lewat warna dan gerakan yang memukau, sementara live‑action justru terasa hambar," kata Nikki Gemmell dari The Australian.
Para kritikus lain menyoroti motif di balik pembuatan film ini. G. Allen Johnson (San Francisco Chronicle) menuduh bahwa Disney hanya mengincar keuntungan, bukan inovasi. Alissa Wilkinson menambahkan, "Pendekatan visual yang terlalu harfiah menguras imajinasi kreatif yang menjadi kekuatan utama animasi."
Meski alur tetap solid dan lagu‑lagu masih mengalun, banyak yang merasa film ini hanyalah pengulangan tanpa sentuhan baru. "Jika animasinya belum ada, film ini mungkin terasa ringan dan memikat, tapi menyalin setiap adegan dari film berusia satu dekade membuatnya terasa berlebihan," ujar Danny Leigh (Financial Times).
Namun, tidak semua komentar negatif. Catherine Laga’aia mendapat pujian atas penampilan berani sebagai Moana, dan Dwayne Johnson tetap memancarkan karisma sebagai Maui. Film ini memang menghibur, tapi apakah cukup untuk menyaingi keajaiban animasi?
Opini Mendalam Nadia Putri
Sebagai pengamat budaya pop, saya melihat Moana live‑action sebagai contoh klasik dari "remake tanpa inovasi". Disney memang memiliki hak istimewa untuk menghidupkan kembali kisah‑kisah ikonik, namun tantangan terbesar terletak pada bagaimana mereka dapat menambahkan nilai baru yang relevan bagi generasi kini. Sayangnya, film ini tampak terjebak dalam nostalgia, mengandalkan kehadiran aktor terkenal tanpa menggali kedalaman mitologi Polinesia yang sebenarnya sangat kaya.
Secara visual, film ini memang memukau—pemandangan laut yang luas, kostum tradisional yang detail, dan efek CGI yang memukau. Namun, keindahan visual tidak cukup bila narasi dan emosinya terasa datar. Penonton modern mengharapkan immersive storytelling yang menggabungkan elemen budaya dengan perspektif kontemporer, misalnya menyoroti isu‑isu lingkungan atau identitas budaya yang lebih kompleks. Sayangnya, Moana 2026 masih terjebak pada formula hero‑journey klasik tanpa menambahkan lapisan makna baru.
Selain itu, keputusan untuk meniru hampir seluruh skrip animasi menimbulkan pertanyaan: apa gunanya remake ini? Jika tujuan utama adalah memperluas jangkauan pasar, maka Disney seharusnya berani mengambil risiko—menyisipkan subplot baru, memperdalam karakter Maui, atau bahkan menampilkan sudut pandang lain dari penduduk Pulau Motunui. Tanpa langkah-langkah tersebut, film ini terasa seperti cash‑cow yang mengandalkan nostalgia semata.
Ke depannya, saya berharap Disney dapat belajar dari kegagalan ini. Remake harus menjadi wadah untuk inovasi, bukan sekadar reproduksi. Menggabungkan teknologi live‑action dengan kreativitas naratif dapat menghasilkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkaya warisan budaya yang diangkat. Jika tidak, Moana live‑action akan tetap dikenang sebagai contoh bagaimana sebuah film yang penuh potensi bisa berakhir menjadi "hambar" di tengah lautan kritik.
BERITA TERKAIT

B50: Janji Kedaulatan Energi atau Beban Baru bagi Petani Sawit?

Provinsi Sumbawa? Janji Dekatkan Layanan Publik atau Beban Fiskal Baru?
