Legislator RI Tekan Grebengan Baturraden Masuk KEN 2027: Janji Besar atau Sekadar Panggung Politik?
Budi Santoso
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

Banyumas, 12 Juli 2026 ā Anggota Komisi VII DPR RI, Siti Mukaromah, kembali menegaskan tekadnya untuk mengangkat Festival dan Grebeg Suran Baturraden ke dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) mulai 2027. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah rangkaian Lokawisata Baturraden 2026, sebuah ajang yang menampilkan tarian tradisional, musik, serta partisipasi wisatawan asing.
"Saya telah menyampaikan dorongan ini berulang kali kepada Kementerian Pariwisata. Grebengan Suran memiliki potensi menjadi agenda nasional. Harapannya, mulai 2027 kegiatan ini masuk KEN, sehingga promosi Baturraden semakin luas," ujar Siti Mukaromah, yang akrab disapa Erma, di depan ribuan penonton.
Menurut Erma, Grebengan Suran bukan sekadar ritual tahunan; ia menilai acara tersebut sebagai strategi multipihak yang menggabungkan pelestarian budaya, pengembangan destinasi wisata, dan pemberdayaan UMKM. "Baturraden sudah menjadi ikon pariwisata Banyumas yang dikenal hingga mancanegara. Kita harus memanfaatkan ekosistem pariwisata yang kini diakomodasi dalam pembaruan Undang-Undang Kepariwisataan," tegasnya.
Namun, di balik retorika yang menggiurkan, muncul sejumlah pertanyaan kritis. Apakah upaya memasukkan Grebengan ke dalam KEN akan benarābenar menggerakkan ekonomi lokal, atau hanya menjadi showcase politik yang cepat hilang setelah pemilihan? Sejauh mana sinergi antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan komunitas dapat terwujud tanpa menimbulkan birokrasi berlapis?
Erma menambahkan, "Kita berharap lahir kerja sama dan sinergi yang lebih luas, bukan hanya destinasi, tetapi juga budaya, ekonomi kreatif, UMKM, transportasi, infrastruktur, dan edukasi masyarakat." Pernyataan ini menyinggung agenda ambisius yang memerlukan dana, koordinasi lintas sektoral, serta kebijakan yang konsisten.
Selama acara, Erma sempat bergabung menari bersama wisatawan asal Eropa, menyoroti antusiasme internasional terhadap budaya Banyumas. "Saya melihat wisatawan dari Eropa ikut menari dengan sangat enerjik. Ini menandakan budaya Banyumas bukan hanya dicintai masyarakat lokal, tetapi juga internasional," katanya.
Di balik sorotan positif, para pengamat lokal mengingatkan bahwa promosi tidak cukup bila tidak diikuti oleh peningkatan kualitas infrastruktur, pelatihan SDM, dan akses pasar bagi UMKM. Tanpa langkah konkret, Grebengan berisiko menjadi festival yang terisolasiāmenarik perhatian sesaat, namun tidak menghasilkan dampak ekonomi berkelanjutan.
Analisis Pakar
Sebagai seorang jurnalis investigasi, saya menilai bahwa dorongan Siti Mukaromah untuk menempatkan Grebengan Baturraden dalam KEN 2027 merupakan langkah politik yang cerdas, namun berpotensi menimbulkan ekspektasi yang belum siap dipenuhi. KEN, sebagai platform nasional, menuntut standar tinggi dalam hal manajemen acara, pemasaran, serta dampak sosialāekonomi. Jika tidak ada rencana aksi yang terukur, pemerintah daerah dapat terjebak dalam jebakan prestise tanpa hasil.
Pertama, pendanaan menjadi isu utama. Mengintegrasikan Grebengan ke dalam KEN berarti menyiapkan dana untuk promosi, keamanan, dan peningkatan fasilitas. Mengingat anggaran daerah Banyumas yang masih terbatas, alokasi dana harus diprioritaskan secara transparan, bukan sekadar mengalirkan anggaran politik.
Kedua, sinergi antarāpemangku kepentingan harus dibuktikan lewat mekanisme yang jelas. Koordinasi antara Kementerian Pariwisata, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten harus melampaui sekadar surat pernyataan. Dibutuhkan forum rutin, indikator kinerja, serta akuntabilitas yang dapat diaudit publik.
Ketiga, dampak pada UMKM harus diukur secara kuantitatif. Apakah pelaku usaha lokal akan mendapatkan akses pasar yang lebih luas? Apakah ada program pelatihan untuk meningkatkan kualitas produk agar dapat bersaing di tingkat nasional? Tanpa jawaban konkrit, janji peningkatan kesejahteraan masyarakat tetap menjadi retorika belaka.
Keempat, aspek keberlanjutan lingkungan tidak boleh diabaikan. Grebengan yang melibatkan ribuan peserta dan wisatawan harus mengadopsi standar ramah lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah hingga penggunaan energi terbarukan. KEN 2027 tidak hanya menilai nilai budaya, tetapi juga komitmen terhadap sustainability yang kini menjadi kriteria utama dalam event internasional.
Kesimpulannya, meski niat baik terlihat jelas, realitas implementasi Grebengan Baturraden dalam KEN memerlukan strategi yang terukur, transparan, dan berkelanjutan. Jika tidak, kita akan menyaksikan sebuah festival yang menjadi panggung politik tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Banyumas.
BERITA TERKAIT

Ledakan Kekacauan di Festival Salsa Toronto: Dua Tewas, Panik Massa Menggelora Jalan

Ganda Putra Indonesia Kenzie/LƩo Menaklukkan Tekanan dan Raih Gelar di Jaya Raya Junior 2026
