Menag Nasaruddin Umar: Jangan Biarkan Masjid Hanya Jadi 'Monumen' Megah Tanpa Jiwa
Maulana Ibrahim
Mengulas sejarah kebudayaan Islam dan tokoh-tokoh penting dalam agama.

MAKASSAR – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar melontarkan kritik sekaligus tantangan bagi umat Islam di Indonesia dalam memandang fungsi rumah ibadah. Dalam agenda peresmian Masjid Nurul Ittihad Kalukuang di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu, Menag menegaskan bahwa kemegahan fisik sebuah masjid tidak memiliki arti jika tidak dibarengi dengan aktivitas pembinaan umat yang substansial.
Nasaruddin menekankan bahwa ada kecenderungan masyarakat terlalu fokus pada pembangunan infrastruktur fisik masjid, namun abai dalam "memakmurkan" isinya. Menurutnya, masjid seharusnya tidak sekadar menjadi tempat shalat berjamaah, melainkan bertransformasi menjadi pusat peradaban yang mengintegrasikan aspek spiritual, pendidikan, dan penguatan sosial.
"Masyarakat tidak hanya membangun masjid secara fisik, tetapi juga memakmurkannya melalui berbagai kegiatan ibadah, pendidikan, dan pembinaan umat," ujar Menag Nasaruddin Umar. Ia berharap masjid dapat menjadi ruang yang menghadirkan kedamaian, mempererat persaudaraan, serta menjadi kawah candradimuka dalam membangun karakter generasi muda.
Dalam momentum tersebut, Menag memberikan mandat agar Masjid Nurul Ittihad menjadi benchmark atau contoh bagi rumah ibadah lain. Ia menginginkan adanya keberlanjutan program sosial dan pendidikan keagamaan yang tidak bersifat temporer, sehingga masjid benar-benar hadir sebagai solusi atas problematika masyarakat di sekitarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Masjid Nurul Ittihad Kalukuang, Prof Hasrullah, menyambut positif arahan tersebut. Ia menyatakan komitmennya agar masjid yang baru diresmikan ini tidak hanya menjadi simbol arsitektur, tetapi benar-benar menjadi pusat kegiatan umat yang dinamis.
Analisis Redaksi: Menagugat Paradigma 'Kultus Kemegahan' Arsitektur Masjid
Sebagai jurnalis senior yang telah lama mengamati dinamika sosial-keagamaan di Indonesia, saya melihat pernyataan Menag Nasaruddin Umar ini bukan sekadar retorika seremonial. Ini adalah sebuah kritik tajam terhadap fenomena 'fetisisme arsitektur' yang tengah menjangkit banyak pengurus masjid di tanah air. Kita sering melihat masjid-masjid megah dengan kubah berlapis emas atau marmer impor yang mahal, namun ironisnya, perpustakaannya kosong, kajian keilmuannya stagnan, dan peran sosialnya terhadap kemiskinan di sekitar masjid hampir tidak terasa.
Ada paradoks yang mengkhawatirkan: kita lebih bangga memamerkan kemegahan bangunan daripada kualitas intelektual jamaahnya. Jika masjid hanya dipandang sebagai tempat ritual ibadah formal (shalat), maka kita sedang mereduksi fungsi masjid menjadi sekadar 'ruang tunggu' menuju akhirat, bukan pusat peradaban yang menggerakkan perubahan sosial di dunia. Menag secara implisit mengingatkan bahwa masjid yang 'hidup' adalah masjid yang mampu menjawab tantangan zaman, menjadi pusat literasi, dan tempat resolusi konflik sosial, bukan sekadar objek wisata religi.
Lebih jauh, saya memprediksi bahwa tantangan terbesar Menag ke depan adalah bagaimana menggeser pola pikir donatur dan pengurus masjid (takmir) agar lebih berani mengalokasikan dana pembangunan untuk pemberdayaan manusia. Seringkali, dana miliaran rupiah habis untuk mempercantik fasad bangunan, namun anggaran untuk beasiswa anak yatim atau pelatihan keterampilan ekonomi umat justru sangat minim. Inilah yang saya sebut sebagai 'misorientasi prioritas' dalam pengelolaan rumah ibadah.
Ke depan, jika visi 'Masjid sebagai Pusat Peradaban' ini ingin diwujudkan, pemerintah melalui Kementerian Agama tidak boleh hanya berhenti pada imbauan. Perlu ada standarisasi atau indikator kinerja masjid yang tidak hanya diukur dari jumlah jamaah shalat, tetapi dari seberapa besar dampak sosial-ekonomi yang dihasilkan masjid tersebut bagi lingkungannya. Tanpa langkah sistemik, peringatan Menag ini hanya akan menjadi angin lalu di tengah riuhnya peresmian gedung-gedung megah yang hampa makna.
BERITA TERKAIT

Skandal Emas dan Valas Eks Jampidsus: Komisi III Desak Tim Independen Guna Cegah 'Permainan' Internal Kejaksaan

Akhir Era Sang Pemimpin Tertinggi: Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad, Iran Menghadapi Titik Balik Geopolitik
