Sorotan OJK di Tengah Krisis Kepercayaan: DPK MNC Bank Susut 17% dan Deposito Menguap Rp2,74 Triliun

- Kepercayaan nasabah terhadap PT Bank MNC Internasional Tbk.
- (BABP) tengah diuji, tercermin dari penyusutan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 17,13% secara tahunan (YoY) menjadi Rp11,32 triliun per 30 September 2026.
- Menanggapi isu tersebut, Dian Ediana Rae , Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menegaskan bahwa secara pengawasan tidak ditemukan masalah serius terkait solvensi bank.
Kepercayaan nasabah terhadap PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP) tengah diuji, tercermin dari penyusutan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 17,13% secara tahunan (YoY) menjadi Rp11,32 triliun per 30 September 2026. Penurunan ini dipicu oleh eksodus dana deposito yang tercatat sebesar Rp2,74 triliun atau turun 24,35% YoY, menyusul beredarnya rumor mengenai kesulitan transaksi dan penarikan dana oleh nasabah di media sosial yang sempat memicu kekhawatiran publik.
Menanggapi isu tersebut, Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menegaskan bahwa secara pengawasan tidak ditemukan masalah serius terkait solvensi bank. Ia meminta masyarakat untuk tetap tenang dan terus berkoordinasi dengan pihak bank sambil menunggu penyelesaian masalah teknis yang mungkin terjadi, namun data keuangan menunjukkan tekanan likuiditas yang nyata pada pos simpanan jangka panjang.
Perkembangan Dana dan Kinerja Laba Bersih MNC Bank
Di samping pelemahan deposito, struktur DPK menunjukkan dinamika yang timpang. Meskipun nilai giro justru menebal signifikan sebesar 51,01% YoY menjadi Rp1,20 triliun, kenaikan ini tidak cukup untuk menutupi defisit dari pos deposito. Secara keseluruhan, himpunan simpanan bank yang dikendalikan oleh konglomerat Hary Tanoesoedibjo ini tercatat hanya Rp1,62 triliun untuk tabungan (turun tipis 0,51% YoY). Di sisi kinerja, laba bersih 9 bulan 2026 juga tertekan menjadi Rp46,63 miliar, turun 22,78% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dikutip dari laporan kuartal III/2026, kinerja BABP tertekan oleh beban bunga yang melonjak 51,05% YoY, jauh melampaui kenaikan pendapatan bunga yang hanya 6,52% YoY. Hal ini membuat pendapatan bunga bersih menyusut 44,52% YoY menjadi Rp389,76 miliar. Meskipun pendapatan komisi tumbuh signifikan 56,59% menjadi Rp100,3 miliar, pembengkakan beban operasional seperti beban tenaga kerja (naik 9,51% YoY) dan beban lain (naik 7,82% YoY) terus menghimpit margin laba operasional yang turun 18,12% YoY menjadi Rp52,42 miliar.
Dampak pada Aset dan Strategi Kredit Bank
Penurunan profitabilitas dan tekanan likuiditas juga tercermin pada pos aset dan kredit. Total aset BABP menyusut 8,29% YoY dari Rp20,49 triliun menjadi Rp18,79 triliun per akhir kuartal III/2026. Meskipun terjadi kontraksi aset, bank ini justru memperluas penyaluran kredit dengan pertumbuhan 8,38% YoY dari Rp11,09 triliun menjadi Rp12,02 triliun.
Strategi ekspansi kredit di tengah penyusutan DPK dan kenaikan beban bunga bersih ini menjadi perhatian utama. Jika tren eksodus dana terus berlanjut tanpa diimbangi perbaikan struktur biaya dana, MNC Bank berisiko mengalami tekanan likuiditas lebih jauh. Langkah strategis ke depan membutuhkan respons cepat dari manajemen untuk meredam sentimen negatif, menjaga kepercayaan nasabah, dan mengoptimalkan pertumbuhan kredit yang saat ini menjadi satu-satunya pos penopang pertumbuhan di tengah lesunya DPK dan laba bersih.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

OJK: Penghimpunan Dana Pasar Modal Tembus Rp202,04 Triliun, Didominasi EBUS

Laba Abadi Lestari Melesat 19,14% di 9 Bulan Pertama 2026 Berkat Strategi Efisiensi Digital

Paradoks Pasar Modal: Asing Borong Rp268,67 Miliar Meski IHSG Jelek
