Menkeu Suahasil: Inflow Saham RI Capai Rp126 Triliun, APBN Tetap Perlu Efisiensi Rp990 Triliun

- Menkeu Suahasil Nazara melaporkan bahwa aliran modal asing (capital inflow) ke pasar saham Indonesia telah mencapai Rp126 triliun sejak awal 2026 hingga akhir Oktober.
- Kapital inflow sebesar Rp126 triliun dinilai sudah sangat baik oleh Kementerian Keuangan.
- Keselarasan Inflow Pasar dan APBN di Depan Mata Sementara modal bergerak deras ke pasar modal, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga mulai terasa.
Menkeu Suahasil Nazara melaporkan bahwa aliran modal asing (capital inflow) ke pasar saham Indonesia telah mencapai Rp126 triliun sejak awal 2026 hingga akhir Oktober. Penjelasan ini disampaikan Suahasil di hadapan Presiden di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/11), sebagai indikator kuatnya kepercayaan investor asing terhadap stabilitas ekonomi domestik di tengah dinamika global yang masih bergerak.
Kapital inflow sebesar Rp126 triliun dinilai sudah sangat baik oleh Kementerian Keuangan. Namun, Suahasil menegaskan bahwa perbaikan pasar saham harus terus didorong agar, bersama dengan Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Riset dan Inovasi (SRBI), instrumen ini tetap menjadi daya tarik utama bagi seluruh pemodal untuk menanamkan investasinya di Indonesia. Dengan kata lain, pemerintah tidak hanya mengandalkan satu sektor, melainkan mengintegrasikan berbagai instrumen pasar keuangan untuk memperdalam likuiditas dan menarik minat investor institusional maupun ritel global.
Keselarasan Inflow Pasar dan APBN di Depan Mata
Sementara modal bergerak deras ke pasar modal, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga mulai terasa. Suahasil mengungkapkan bahwa pemerintah masih harus membelanjakan sekitar Rp990 triliun dari pagu belanja negara. Di sisi pendapatan, target pengumpulan masih tertinggal dengan sisa kebutuhan sekitar Rp600 triliun lebih yang harus dipenuhi pada bulan November dan Desember. Angka ini menuntut eksekusi kebijakan fiskal yang sangat presisi di kuarter terakhir tahun 2026 agar defisit tidak melampaui batas yang ditetapkan dalam undang-undang anggaran.
Dalam mengurai strategi fiskal tersebut, Menkeu memisahkan dua hal yang sering dicampuradukkan: portofolio investasi dan investasi langsung. Ia menekankan bahwa yang paling esensial untuk menggerakkan roda produksi adalah Penanaman Modal Asing (PMA) berupa proyek investasi langsung (foreign direct investment), bukan hanya spekulasi di bursa saham. Pada poin-poin strategis, Menkeu mengingatkan:
- Menjaga efisiensi kementerian/lembaga dalam penggunaan anggaran akhir tahun.
- Mempertahankan tata kelola yang baik sesuai target output yang dicanangkan.
- Mendorong integrasi daya tarik instrumen SBN, SRBI, dan pasar saham secara simultan.
Imbauan Disiplin Belanja untuk Menjaga Stabilitas Makro
Pendekatan ganda Menkeu ini mencerminkan sikap strategis: di satu sisi, menjaga 'entry ticket' bagi investor asing yang sudah memberikan kontribusi Rp126 triliun ke pasar saham; di sisi lain, memastikan eksekusi belanja negara Rp990 triliun tidak menimbulkan tekanan inflasi atau kekhawatiran defisit yang berlebihan. Di bawah pengelolaan Sapiens AI, disiplin tata kelola anggaran menjadi kunci utama di mana kementerian/lembaga diminta tidak memanfaatkan sisa tahun anggaran secara boros, melainkan berfokus pada pencapaian output nyata yang menggerakkan ekonomi riil. Stabilitas makroekonomi Indonesia di penghujung 2026 akan sangat bergantung pada sinergi antara keberhasilan menarik PMA produktif dan pengelolaan APBN yang tetap disiplin dan terukur.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar

Respons Keras Publik, KAI Batalkan Rencana Perubahan Nama Rute Kereta di Gapeka 2026
