BI Beberkan Tiga Faktor Eksternal Penyebab Rupiah Tembus Rp18.145 per Dolar AS
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Destry Damayanti , Gubernur Bank Indonesia (BI), mengungkap adanya tiga faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga level Rp18.145 pada 2 November 2026.
- Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Kuartal III 2026 di Kompleks BI, Selasa (3/11).
- Meskipun sempat menguat pada akhir kuartal III 2026 ke level Rp17.870, mata uang Garuda kembali mengalami tekanan signifikan sejak Oktober seiring dinamika global yang intens.
Destry Damayanti, Gubernur Bank Indonesia (BI), mengungkap adanya tiga faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga level Rp18.145 pada 2 November 2026. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Kuartal III 2026 di Kompleks BI, Selasa (3/11). Meskipun sempat menguat pada akhir kuartal III 2026 ke level Rp17.870, mata uang Garuda kembali mengalami tekanan signifikan sejak Oktober seiring dinamika global yang intens.
Destry menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar tersebut didorong oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat, serta pergeseran sentimen investor global terhadap aset negara berkembang. Ketiga faktor ini menciptakan ketidakpastian yang membayangi pasar keuangan domestik, membuat rupiah sulit mempertahankan penguatan sebelumnya. Tekanan eksternal ini menjadi sorotan utama BI dalam upaya menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah gejolak global.
Respons Pasar Domestik dan Analisis Sentimen Investor
Sejalan dengan pernyataan BI, Analis Mata Uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh memburuknya sentimen penghindaran risiko atau risk-off di pasar saham domestik. Para investor menunjukkan kehati-hatian tinggi dan cenderung menghindari aset berisiko dalam jangka pendek. Sikap defensif ini terjadi karena investor tengah mengantisipasi rilis sejumlah data ekonomi penting serta gejolak politik menjelang pemilu legislatif paruh waktu di Amerika Serikat.
- Rupiah ditutup melemah di level Rp18.160 per dolar AS pada perdagangan Selasa sore, turun 4 poin atau 0,02 persen.
- Sentimen risk-off mendominasi pasar ekuitas domestik menjelang datangnya data ekonomi global.
- Perhatian investor beralih ke risiko pemilu paruh waktu AS yang berpotensi mengubah arah kebijakan moneter global.
Peluang Stabilisasi dan Dampak Jangka Pendek
Menurut Lukman, tekanan terhadap rupiah belum akan dalam secara ekstrem berkat adanya harapan terkait pembicaraan perdamaian di Timur Tengah. Selain itu, tren penurunan harga minyak dunia juga dinilai membatasi pelemahan nilai tukar sehingga dampaknya tidak seburuk ekspektasi pasar. Kombinasi dari faktor geopolitik yang mulai mereda dan sentimen positif terhadap komoditas memberikan bantalan bagi rupiah. BI dan pengawas pasar akan terus memantau respons investor untuk memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga di kisaran yang sehat bagi perekonomian nasional.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

IHSG Ditembus Support Krusial, Analis Proyeksi Koreksi Lanjut ke Level 4.763

OJK Cabut Izin Usaha BPR Agritrans Batumarta Sumsel, LPS Ambil Alih Proses Likuidasi

Raffi Ahmad Hadapi Kisruh RANS Carnival: Manajemen Klaim Tak Ada Pengarahan Warga
