Wira's Playroom Hadirkan Pendidikan Inklusif Berbasis Kebutuhan Unik Setiap Anak di Jakarta

Rahayu Saraswati Djojohadikusumo bersama Reshma Wijaya resmi menghadirkan Wira's Playroom, sebuah ruang pendidikan inklusif yang berlokasi di Kemang, Jakarta Selatan. Sekolah ini mengusung pendekatan pembelajaran yang dirancang khusus untuk mengakomodasi kebutuhan serta potensi setiap anak, alih-alih memaksa mereka menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan yang seragam. Langkah ini menjadi jawaban nyata atas minimnya fasilitas belajar yang benar-benar memahami keunikan tumbuh kembang anak.
Pendirian lembaga yang bernaung di bawah Yayasan Saraswati Wira Bhakti ini tidak lepas dari pengalaman personal kedua pendirinya. Sara terdorong setelah mendampingi putranya, Wira, yang memiliki down syndrome. Ia menyadari pentingnya lingkungan pendidikan yang tidak sekadar menerima anak berkebutuhan khusus, tetapi juga aktif memberikan dukungan optimal.
Konsep Bermain Bertujuan sebagai Fondasi Pembelajaran
Dalam merancang kurikulum, Sara menggandeng Reshma Wijaya, pendiri Saraswati Learning Center yang juga merupakan ibu dari anak dengan down syndrome bernama Cheryl. Kolaborasi ini melahirkan konsep play with purpose, yakni pendekatan yang menjadikan aktivitas bermain sebagai bagian integral dari proses pembelajaran.
Melalui metode tersebut, setiap pengalaman bermain dirancang secara terstruktur agar anak dapat meraih berbagai capaian perkembangan, meliputi:
- Bereksplorasi dan menemukan potensi diri secara mandiri.
- Membangun kemampuan komunikasi dan interaksi sosial.
- Mengembangkan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.
- Memperoleh kesempatan belajar yang setara dan membahagiakan.
"Perjalanan saya dimulai bersama Cheryl, yang mengajarkan saya bahwa sebuah diagnosis tidak menentukan batas kemampuan dan masa depan seorang anak. Bagi saya, bermain bukanlah sesuatu yang terpisah dari belajar," tegas Reshma.
Dukungan Terintegrasi dan Harapan Perluasan Akses Pendidikan
Secara operasional, Wira's Playroom menyediakan layanan pendidikan usia dini hingga sekolah dasar, yang dipadukan dengan dukungan terapi serta program perkembangan anak secara terintegrasi. Pendekatan holistik ini dinilai sejalan dengan rekomendasi Global Education Monitoring Report 2020 dari UNESCO.
Laporan global tersebut menegaskan bahwa pendidikan inklusif mampu mendukung pencapaian akademik, perkembangan sosial-emosional, kepercayaan diri, serta penerimaan anak di lingkungan sekolah. Ke depan, kedua pendiri berharap model pendidikan ini dapat terus disempurnakan dan direplikasi di berbagai wilayah lain di Indonesia, sehingga setiap anak tanpa terkecuali memperoleh hak belajar yang setara dan bermartabat.
BERITA TERKAIT (Pendidikan)

KKP Dorong Kolaborasi Industri untuk Transformasi Kurikulum Vokasi Perikanan Menuju Masa Depan

Targetkan Tuntas 2028, Disdikpora Cianjur Perbaiki Ribuan Ruang Kelas melalui Kolaborasi Multisektor

Dorong Martabat Global, Kemendikdasmen Perluas Jejaring BIPA di Rusia
