Rupiah Tertekan ke Rp18.145 per Dolar, BI Angkat Kaki Tekanan Eksternal

- Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Destry Damayanti , Gubernur Bank Indonesia, yang menjelaskan bahwa seharusnya pada akhir kuartal III-2026, kurs rupiah mampu menguat ke level Rp17.830 per dolar AS.
- Namun, dinamika global berubah memasuki Oktober, sehingga menekan rupiah secara signifikan.
- Ia menyebutkan tiga faktor eksternal yang menjadi penyebab utama pelemahan tersebut.
Bank Indonesia menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut hingga Rp18.145 per dolar AS pada 2 November 2026 bukan didorong oleh faktor fundamental dalam negeri, melainkan tekanan eksternal. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Destry Damayanti, Gubernur Bank Indonesia, yang menjelaskan bahwa seharusnya pada akhir kuartal III-2026, kurs rupiah mampu menguat ke level Rp17.830 per dolar AS. Namun, dinamika global berubah memasuki Oktober, sehingga menekan rupiah secara signifikan.
Akibat Konflik Geopolitik dan Kebijakan AS
Dalam konferensi pers hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Kuartal III-2026 di Jakarta, Selasa (3/11/2026), Destry merinci pemicu utama ketegangan nilai tukar ini. Ia menyebutkan tiga faktor eksternal yang menjadi penyebab utama pelemahan tersebut. Menurut penjelasan resmi BI, tekanan ini bersifat global dan berdampak langsung pada sentimen pasar terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
- Konflik Geopolitik: Eskalasi ketegangan di wilayah Timur Tengah yang memicu ketidakpastian pasar global.
- Kebijakan Moneter AS: Langkah pengetatan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat yang membuat dolar AS semakin kuat.
- Sentimen Investor: Pergeseran preferensi investor global terhadap aset negara berkembang yang membuat modal keluar dari pasar Indonesia.
Posisi Strategis Rupiah dan Respons BI
Keseriusan Bank Indonesia dalam menangani hal ini terlihat dari perbandingan data krusial yang diungkapkannya. Sebelum tekanan tersebut, pada periode September, posisi rupiah berada di level Rp17.870 per dolar AS sebagai momen penguatan. Lonjakan tekanan yang tiba-tiba di Oktober hingga menyentuh Rp18.145 per dolar AS menjadi perhatian utama regulator keuangan Indonesia saat ini. Respons yang diambil adalah menjaga stabilitas dan mengedepankan komunikasi pasar guna meredam sentimen negatif, sementara langkah penyesuaian kebijakan masih dipantau dengan ketat oleh KSSK untuk memastikan ketahanan ekonomi nasional di tengah badai volatilitas global.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar

Respons Keras Publik, KAI Batalkan Rencana Perubahan Nama Rute Kereta di Gapeka 2026
