Rupiah Diprediksi Betah di Atas Rp 18.000 hingga Akhir 2026, Efek Berantai Inflasi dan Daya Beli Mengancam

- Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan akan bertahan di level tinggi secara persisten hingga akhir 2026.
- Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad , memperkirakan kurs rupiah akan mengorbit di kisaran Rp 18.000-Rp 18.100 sepanjang kuartal keempat tahun ini.
- Proyeksi ini muncul di tengah sentimen pasar yang tertekan oleh berbagai faktor global maupun domestik yang saling berkaitan.
Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan akan bertahan di level tinggi secara persisten hingga akhir 2026. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, memperkirakan kurs rupiah akan mengorbit di kisaran Rp 18.000-Rp 18.100 sepanjang kuartal keempat tahun ini. Proyeksi ini muncul di tengah sentimen pasar yang tertekan oleh berbagai faktor global maupun domestik yang saling berkaitan.
Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh kombinasi faktor struktural yang kuat. Selain tingginya suku bunga Bank Sentral AS atau The Fed yang menjaga daya tarik aset dolar, terdapat juga tekanan dari harga minyak mentah dunia yang melambung serta fenomena arus keluar modal asing atau capital outflow yang dipicu oleh laporan MSCI. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mengoperasikan berbagai instrumen moneter secara all-out untuk meredam kejatuhan rupiah, termasuk penggunaan insentif hedging melalui instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Namun, upaya intervensi tersebut tampaknya hanya mampu menahan rupiah di zona Rp 18.000-an, dengan kemungkinan penguatan ke Rp 17.000-an atau pelemahan ekstrem ke Rp 18.200 dinilai sangat sulit terjadi dalam jangka pendek.
Faktor Tekanan dan Ancaman Inflasi Impor
Dampak langsung dari stagnasi nilai tukar yang tinggi ini terasa nyata bagi perekonomian domestik, terutama melalui peningkatan laju inflasi. Tauhid Ahmad menjelaskan bahwa pelemahan rupiah secara langsung mengerek harga barang-barang impor. Inflasi secara umum diprediksi bisa mencapai 3,5% di tahun ini, di mana salah satu pendorong utamanya adalah inflasi impor (imported inflation) yang menjangkau sektor industri hulu seperti besi, baja, dan bahan kimia.
Situasi menjadi semakin kompleks karena pelemahan rupiah bertabrakan dengan harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas US$ 105-106 per barel. Kondisi ini menciptakan efek ganda yang memukul sektor energi dan transportasi nasional. Biaya impor bahan bakar menjadi jauh lebih mahal karena rupiah yang harus dikeluarkan untuk membeli minyak dolar AS meningkat dua kali lipat. Akibatnya, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk avtur, mengalami kenaikan perlahan yang berujung pada peningkatan harga tiket pesawat.
Dampak Berantai pada Sektor Korporasi dan Daya Beli Publik
Di luar tekanan inflasi dan komoditas, pelemahan rupiah yang berkepanjangan memberikan beban berat bagi sektor korporasi dan importir. Hal ini terutama berlaku bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban utang luar negeri dalam bentuk valuta asing (valas). Tauhid menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut akan menghadapi biaya pelunasan utang yang jauh lebih mahal seiring melemahkannya mata uang lokal.
Senada dengan pandangan tersebut, pengamat mata uang Lukman Leong memperkirakan pelemahan rupiah di atas Rp 18.000/dolar AS akan berlanjut hingga akhir tahun, dengan potensi jatuhnya kurs ke level Rp 18.350/dolar AS. Meskipun produsen dan pelaku industri memiliki mekanisme seperti stok dan kontrak impor untuk meredam kenaikan harga, Lukman mengingatkan bahwa jika pelemahan berlangsung dalam waktu yang lama, tekanan tersebut pada akhirnya akan terkumulasi. Hal ini diprediksi dapat meningkatkan inflasi secara signifikan dan secara bertahap menggerus daya beli masyarakat, menciptakan lingkaran masalah ekonomi yang sulit dipulihkan secara instan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar

Respons Keras Publik, KAI Batalkan Rencana Perubahan Nama Rute Kereta di Gapeka 2026
