PLN EPI Tunjuk PLTU Rembang Sebagai Standar Baru Cofiring Biomassa Nasional
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Penilaian ini disampaikan Hokkop saat melakukan kunjungan kerja ke PLTU Rembang, yang tercatat sebagai salah satu penerima biomassa terbanyak pada tahun 2025.
- Keberhasilan ini ditopang oleh struktur teknis yang unik, di mana lokasi tersebut menggunakan dua zona dan dua akses untuk penerimaan serta penyimpanan bahan bakar.
- Sistem ini memungkinkan alih fungsi logistik; ketika satu zona penuh, proses dapat dialihkan ke zona kedua, menjamin kelancaran aliran material dan meningkatkan keamanan lingkungan kerja bagi para petugas.
PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) secara resmi menilai sistem cofiring biomassa di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Rembang, Jawa Tengah, layak menjadi contoh implementasi terbaik bagi seluruh jaringan pembangkit di Indonesia. Hokkop Situngkir, Direktur Biomassa PLN EPI, menegaskan bahwa efisiensi penerimaan dan penyimpanan biomassa di unit tersebut menunjukkan inovasi signifikan yang mampu mengoptimalkan proses pencampuran bahan bakar terbarukan dengan batu bara tanpa mengganggu operasional utama.
Penilaian ini disampaikan Hokkop saat melakukan kunjungan kerja ke PLTU Rembang, yang tercatat sebagai salah satu penerima biomassa terbanyak pada tahun 2025. Keberhasilan ini ditopang oleh struktur teknis yang unik, di mana lokasi tersebut menggunakan dua zona dan dua akses untuk penerimaan serta penyimpanan bahan bakar. Sistem ini memungkinkan alih fungsi logistik; ketika satu zona penuh, proses dapat dialihkan ke zona kedua, menjamin kelancaran aliran material dan meningkatkan keamanan lingkungan kerja bagi para petugas. Setiap akses memiliki kapasitas tampungan sebesar 13 ribu ton, yang secara langsung mendukung fleksibilitas logistik di lapangan.
Lonjakan Kapasitas Penerimaan dan Kinerja Cofiring
Kinerja PLTU Rembang menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten dan substansial dalam beberapa tahun terakhir. Hokkop mencatat lonjakan volume biomassa dari 76 ribu ton pada 2023 menjadi 118 ribu ton pada 2024, dan melonjak signifikan menjadi 185 ribu ton pada tahun sebelumnya. Tren positif ini sejalan dengan target co-firing yang saat ini berada di kisaran 5 persen hingga 10 persen. Menurutnya, tercapainya target megawatt-hour hijau dan tingkat co-firing ini merupakan indikator keberhasilan strategis yang harus dipertahankan untuk mendukung program pengurangan emisi karbon nasional secara berkelanjutan.
Ekspansi Digitalisasi di PLTU Tanjung Awar-awar
Sebagai pelengkap kunjungan di Rembang, Hokkop juga meninjau PLTU Tanjung Awar-awar di Tuban, Jawa Timur, yang menerima apresiasi khusus atas inisiatif digitalisasi dalam pemantauan co-firing. Dengan adanya sistem monitoring digital, efisiensi dan akurasi data pencampuran biomassa dapat ditelusuri secara real-time, yang menurut Hokkop sangat vital untuk suksesnya program transisi energi. Penerimaan biomassa di Tanjung Awar-awar juga berkontribusi positif pada ekosistem co-firing biomassa PLN secara keseluruhan. Langkah strategis ini menunjukkan komitmen PLN dalam mengintegrasikan teknologi digital ke dalam operasi pembangkitan untuk memastikan ketahanan energi sekaligus menekan jejak karbon, selaras dengan penguatan ekosistem biomassa yang terus dipercepat perusahaan.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Kemnaker Buka Gelombang Terakhir Registrasi Pelatihan Vokasi Nasional Batch 7, Deadline 11 November

BPS Catat Lonjakan Harga Cabai 23,47 Persen, Ancam Stabilitas Inflasi Pangan Nasional

DKI Hadapi Tantangan Infrastruktur: Dari Darurat Air Angke hingga Akuisisi Lahan Pemprov
